Tuesday, 17 May 2016

Apa yang perlu diperhatikan untuk pengembangan minat & bakat anak?

Apa yang perlu diperhatikan untuk pengembangan minat & bakat anak?

 

Minat adalah pintu besar untuk stimulasi perkembangan anak. Melalui hal-hal yang diminati, anak bisa melakukan sebuah hal dalam jangka waktu lama. Aneka proses belajar bisa dilakukan dengan menggunakan minat sebagai pintu masuknya. Kualitas belajar pun bisa menjadi luar biasa karena anak menikmati kegiatannya.
Contoh yang paling sering muncul adalah yang berkaitan minat anak pada dunia seni seperti menari, menyanyi, atau teknologi komputer. Anak-anak yang suka komputer tahan berlama-lama di depan komputer. Dengan stimulasi yang tepat, anak-anak ini bisa melejit kemampuannya di bidang komputer sejak usia muda.

Antara Minat & Bakat

Minat adalah perihal ketertarikan pada sebuah hal, bakat perihal keahlian dan kemampuan menghasilkan ouput. Bakat juga adalah kapasitas belajar yang luas dan cepat tentang sebuah hal.
Minat dipengaruhi oleh faktor lingkungan (sehingga bisa berubah-ubah), bakat lebih bersifat internal, berupa karunia Tuhan yang lebih menetap. Idealnya kita menemukan bakat anak, tapi yang ini lebih susah diperoleh. Yang lebih mudah adalah mengenali minat anak dari hal-hal sehari-hari yang menjadi ketertarikannya, yang membuat matanya berbinar-binar, yang membuatnya tahan melakukannya dalam jangka waktu lama.
Berbicara tentang minat sebagai pintu masuk stimulasi pengembangan anak, ada beberapa pertanyaan yang sering diajukan orangtua:
  • apa peran utama orangtua dalam pengembangan minat & bakat?
  • apa yang bisa dilakukan dengan minat anak?
  • bagaimana kalau minat berubah?

children-passion1

Peran Orangtua dalam pengembangan minat & bakat

Peran utama orangtua dalam proses pengembangan minat dan bakat anak adalah memaparkan, memfasilitasi, dan mengapresiasi. Secara sederhana, peran utama orangtua adalah menyediakan lingkungan dan lahan yang subur untuk pertumbuhan minat & bakat anak.

Memaparkan pada keragaman dunia

Karena jangkauan anak masih pendek, maka tugas orangtua adalah memaparkan anak dengan aneka jenis pengalaman. Tujuannya adalah memperluas wawasan anak dan membuka pintu-pintu ketertarikannya agar tidak terbatas hanya pada hal-hal yang ada di rumahnya saja. Perjalanan (travelling) ke berbagai kota adalah salah satu jenis kegiatan yang bisa digunakan untuk menstimulasi dan memaparkan anak dengan aneka hal yang ada di dunia, tidak terbatas pada mata pelajaran seperti yang diajarkan di bangku sekolah.
Saat memaparkan, kita tidak pernah tahu apa yang menarik dan akan berkesan pada anak hingga dewasa. Jadi, tugas kita adalah memaparkan dan memaparkan. Ini seperti kisah Einstein masa keci yg disebut Howard Gartner crystallizing experiences, pengalaman yang menggerakkan.
Alkisah, saat usia 4 tahun Einstein mendapat hadiah kompas dari ayahnya. Ternyata kompas itu sangat berkesan bagi Einstein dan membawa pengaruh besar dalam ketertarikannya pada dunia sains.

Memfasilitasi Minat Anak

Jika anak sudah menunjukkan minat pada hal tertentu, peran orangtua adalah memfasilitasinya. Minat itu bisa dilihat dari tanda-tanda:
  • sering dibicarakan/dilakukan
  • anak menikmati prosesnya
  • anak bertumbuh kemampuannya
Saat memfasilitasi, tantangan terbesar orangtua adalah mencari titik temu antara minat anak dan kemampuan sumber daya orangtua. Dalam keterbatasan kondisi orangtua, di sinilah kebutuhan akan kreativitas untuk mencari jalan, alternatif, dan substitusi.

Mengapresiasi Kegiatan Anak

Sebuah hal yang ditekuni dan dikerjakan anak sepatutnya mendapat apresiasi. Jika hasilnya belum bagus dalam kacamata orangtua, setidaknya orangtua dapat memberikan apresiasi untuk inisiatif, kerja keras, ide, kreativitas, atau perhatian yang diberikan anak. Jangan orangtua malah langsung mengkritik, merendahkan, atau mematikan inisiatif anak.
Apresiasi adalah ibarat pupuk yang menyuburkan tanah. Dia bermanfaat, tapi juga perlu dijaga agar tidak berlebihan karena segala yang berlebihan pasti berdampak buruk.
Yang penting diperhatikan dalam proses apresiasi adalah tujuannya untuk memberikan kenyamanan pada anak atas inisiatif dan hal yang dilakukan. Anak didorong untuk mandiri dan berlatih mengambil keputusan sendiri. Kesalahan terjadi pada apresiasi jika apresiasi itu sampai menimbulkan ketergantungan anak pada persetujuan dan pujian orangtua.

Apa yang bisa dilakukan orangtua?

Selain memaparkan anak dengan aneka hal dan kegiatan pada anak, apa yang bisa dilakukan pada hal-hal yang sudah menjadi ketertarikan anak, misalnya: robot, tokoh kartun, game, dan sebagainya?
Setidaknya ada 4 hal yang bisa dilakukan orangtua:

Mengubah konsumsi ke produksi

Minat anak biasanya terkait dengan kegiatan mengkonsumsi (memasukkan dari luar ke dalam), misalnya menonton, bermain, membaca, dan sejenisnya. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat diubah menjadi kegiatan produksi (mengeluarkan dari diri anak), misalnya: bercerita, bernyanyi, presentasi, menulis, membuat sesuatu.

Membahaskan & memperdalam

Kegiatan yang dapat dilakukan orangtua untuk mengubah kegiatan konsumsi menjadi produksi adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada anak untuk mengeluarkan informasi yang ada dalam dirinya menjadi sebuah pengetahuan. Minta anak untuk menjawab pertanyaan Anda tentang hal yang digeluti, minta anak untuk menceritakan, menuliskan, atau melakukan presentasi hal-hal yang diketahuinya. Proses itu bisa sesederhana percakapan spontan 3 menit, bisa kompleks dalam bentuk presentasi yang harus dipersiapkan sebelumnya.

Memperkaya dengan kegiatan lain

Sebuah hal yang diminati anak juga bisa diperkaya dengan menghubungkannya dengan kegiatan belajar yang lain. Sebagai contoh, minat anak pada robot dijadikan sarana belajar matematika robot, membaca tentang robot (literasi), cara kerja robot (IPA), dan sebagainya. Anda juga mengekspos anak dengan ahli melalui pertemuan langsung, karya ahli, atau video/film yang membahas tema yang disukai anak.

Bagaimana kalau minat anak berubah?

Nah, ini pertanyaan yang sering diajukan orangtua. Apalagi kalau minat anak berkaitan dengan sumber daya (dana & waktu) yang harus dialokasikan secara khusus oleh orangtua. Apakah semua minat anak harus difasilitasi?
Hal pertama yang perlu diketahui, perubahan-perubahan minat anak adalah hal yag wajar dan alami. Sebagian besar anak mengalaminya. Seiring pertambahan usia anak, biasanya variasinya akan semakin mengerucut. Jika orangtua mengamati perkembangan anak, mereka biasanya akan melihat benang merah dari hal yang berubah-ubah itu.
Yang kedua, anak secara umum bersifat adaptif. Mereka pandai menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada di sekitarnya. Tugas orangtua bukan memanjakan anak atau membatasi, tetapi mengkomunikasikannya kepada anak. Proses ini juga merupakan bagian dari pendidikan mengenai empati kepada anak.
Yang ketiga, perubahan minat anak dapat menjadi pintu untuk proses belajar tentang negosiasi. Orangtua dan anak belajar membuat kesepakatan-kesepakatan bersama. Kesepakatan itu bisa berupa kapan boleh berganti, apa syarat berganti, apa konsekuensi dari pergantian?
Proses ini akan menguatkan anak dan mengajarkan anak tentang konsekuensi dan ketangguhan.

Friday, 29 April 2016

Djarum Foundation siapkan "Teacher Learning Center"

Djarum Foundation siapkan "Teacher Learning Center"

Djarum Foundation siapkan
 
Ilustrasi--Guru. (FOTO ANTARA/Asep Fathulrahman)
Kudus (ANTARA News) - Djarum Foundation siap mendukung kelanjutan program pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM) untuk tenaga pengajar di tingkat sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

"Dalam rangka mendukung kelanjutan program PAKEM yang sudah dijalankan selama tiga tahun, kami juga mempersiapkan Teacher Learning Center di Kabupaten Kudus," kata Program Associate Djarum Foundation Laksmi Lestari di sela-sela penutupan program peningkatan kualitas pendidikan melalui penerapan program PAKEM di Hotel Griptha Kudus, Jumat.

Apalagi, kata dia, Djarum Foundation juga memiliki program kegiatan untuk peningkatan kualitas tenaga pendidik, khususnya di Kudus.

Karena PT Djarum lahir di Kudus, kata dia, program peningkatan kualitas tenaga pengajar untuk sementara difokuskan di Kudus. Terlebih lagi, program tersebut belum menyasar ke semua sekolah di Kudus.

Program PAKEM yang berlangsung selama tiga tahun, kata dia, sudah menunjukkan manfaatnya terhadap guru dan murid.

"Hal terpenting dalam pembelajaran model Pakem, suasana yang tercipta cukup menyenangkan dan tidak ada rasa tegang sehingga siswa mudah menerima materi pelajaran," ujarnya.

Menurut dia, peningkatan kualitas pendidikan harus dimulai dari peningkatan kualitas tenaga pendidiknya.

Program pembelajaran tersebut, merupakan hasil kerja sama PT BNI melalui inisiatif "BNI Sahabat Negeri" dan Djarum Foundation dengan pendampingan lapangan oleh Putera Sampoerna Foundation School Development Outreach.

Penutupan program pembelajaran tersebut, ditandai dengan kegiatan diseminasi oleh 125 guru SD swasta dan negeri serta MI swasta dan negeri yang dilaksanakan mulai 28-29 April 2016 di Kudus.

Sementara 40 guru inti berbasis sekolah yang terlibat di dalamnya, berasal dari empat sekolah model penerapan PAKEM yang mengikuti program pembelajaran tersebut sejak tahun 2013.

Head of Putera Sampoerna Foundation School Development Outreach Gusman Yahya menambahkan, secara keseluruhan penerapan program peningkatan kualitas pendidikan tersebut memang bisa merubah budaya pembelajaran konvensional dan meningkatkan kompetensi serta profesionalisme guru secara efektif.

Empat sekolah yang menjadi model pembelajaran di Kudus, yakni SDN 1 Jati Kulon, SDIT Al Islam, SD Masehi, dan MI NU Banat.

Kepala Kantor Cabang BNI Kudus Irfan Setia Budi Lubis mengungkapkan, konsentrasi BNI tidak hanya bisnis, melainkan peduli tehradap pengembangan kualitas pendidikan di Tanah Air.

"Puluhan guru yang terlibat dalam program PAKEM, diharapkan bisa mentransfer ilmunya kepada guru lain di sekolahnya masing-masing," ujarnya.

Ia berharap, ada konsistensi para guru yang mendapatkan pengetahuan soal program pembelajaran tersebut, sehingga cita-cita bersama mewujudkan pendidikan yang lebih berkualitas bisa tercapai.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kudus Hambali berharap, program PAKEM bisa dilanjutkan karena guru dari naungan Kementerian Agama yang terlibat dalam program tersebut hanya 75 guru, sedangkan gurunya mencapai 3.500-an guru dari 141 sekolah tingkat MI.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kudus Joko Susilo berharap, program untuk meningkatkan kualitas pendidikan tersebut perlu dilanjutkan.

"Kami akan sediakan tempat untuk dijadikan Teacher Learning Center, yakni SD Mlati. Sangat disayangkan jika tidak ada program lanjutannya karena belum semua guru memahami program pembelajaran tersebut," ujarnya.

 

Friday, 15 April 2016

ATURAN BARU: Kuliah Dulu Setahun, Baru Dapat Gelar Ir

ATURAN BARU: Kuliah Dulu Setahun, Baru Dapat Gelar Ir.

Mahasiswa. Foto ilustrasi: Dipta Wahyu/dok.Jawa Pos

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengumumkan dibukanya program studi (prodi) program profesi insinyur (PPI).

   Sebagai permulaan hanya ada 40 kampus yang mendapatkan izin membuka prodi ini. Langkah ini dilakukan menyusul ketentuan baru bahwa untuk menjadi insinyur sekarang sudah ada jalur pendidikan formalnya.
Dirjen Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Patdono Suwignjo mengatakan prodi profesi insinyur ini sama dengan profesi dokter maupun profesi guru. 
’’Ditemphh setelah menyelesaikan pendidikan sarjana empat tahun,’’ katanya di kantor Kemenristekdikti Jakarta kemarin.
Patdono mengatakan lama kuliah prodi profesi insinyur itu dua semester atau satu tahun. Dia menjelaskan lulusan sarjana teknik belum mendapatkan gelar Ir (insinyur). Gelar yang didapatkan baru sarjana teknik (ST). 
 Dosen ITS Surabaya itu mengatakan regulasi baru pembukaan prodi profesi insinyur merujuk pada UU 11/2014 tentang Keinsinyuran.
 Dewan Pakar Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Djoko Santoso mengatakan prodi profesi insinyur nantinya bersifat umum. Materi yang dipelajari tentang keinsinyuran. Seluruh cabang atau rumpun disiplin ilmu fakultas teknik, nanti melanjutkan ke prodi profesi insinyur.
’’Gelar Ir (insinyur, red) yang dipakai sekarang itu asal tempel. Gelar Ir yang sebenarnya nanti kalau sudah lulus profesi insinyur,’’ kata mantan Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu. 

 

Matangkan Persiapan agar Peralihan Pengelolaan SMA ke Provinsi Lancar

Matangkan Persiapan agar Peralihan Pengelolaan SMA ke Provinsi Lancar


Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani dan Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Anies Baswedan.

Foto: Kemenko PMK fot JPNN.Com

JAKARTA - Pemerintah terus mematangkan persiapan pengambilalihan pengelolaan penyelenggaraan pendidikan menengah baik SMA, MA atau pun SMK dari kabupaten/kota ke provinsi. Maraknya penolakan dari kabupaten/kota tentang pembagian kewenangan dalam pengelolaan pendidikan itu tak membuat pemerintah surut langkah.
Kamis (14/4), Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menggelar rapat koordinasi (rakor) untuk mematangkan kebijakan penarikan pengelolaan pendidikan menengah dari kabupaten/kota ke provinsi. Menurut Menko PMK Puan Maharani, rakor itu sebagai tindak lanjut atas pelaksanaan amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
Meski banyak penolakan di lapangan, Puan menyakini penarikan kewenangan penyelenggaraan pendidikan menengah atas dari kabupaten/kota ke provinsi bisa terealisasi pada tahun depan. "Pemerintah optimistis dapat secara efektif melaksanakan pengalihan kewenangan pengelolaan pendidikan menengah ini di tahun 2017 mendatang," katanya saat ditemui usai memimpin rakor.
Hadir dalam rakor itu antara lain Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Anies Baswedan, serta perwakilan dari Kementerian Agama, Kementerian Keuangan, Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, serta Badan Kepegawaian Nasional. Menurut Puan, kementerian dan lembaga terkait harus bergerak cepat untuk penarikan kewenangan penyelenggaraan pendidikan atas di level provinsi itu.  
Puan menjelaskan, pemerintah harus mulai menginventarisasi personel, pendanaan, prasarana dan sarana, serta dokumen (P3D).  "Kami meminta kementerian/lembaga melakukan percepatan penanganan inventarisasi dan serah terima P3D, pengelolaan tenaga kependidikan, dan mempersiapkan kemudahan akses pelayanan dan administrasi," katanya.
Sedangkan Mendikbud Anies Baswedan mengatakan, dalam rakor itu dibahas tentang persoalan-persoalan yang muncul di lapangan. Menurutnya, salah satu hal mendasar yang harus segera dituntaskan adalah sinkronisasi data.
Anies menjelaskan, proses peralihan akan tuntas  pada 1 Oktober 2016, sehingga pada 1 Januari 2017 bisa langsung diterapkan. Dengan demikian pemerintah bisa memenuhi waktu dua tahun yang ditetapkan dalam UU 23 Tahun 2014.
"Secara proses sudah kita jalankan, ada beberapa daerah yang proses serahterimanya sedang dilakukan. Sesuai jadwal akan selesai 1 Oktober 2016, persis 2 tahun sesudah UU 23 Tahun 2014 diundangkan” katanya.
Meski demikian pemerintah juga menerapkan masa transisi agar kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak terganggu. "Kita pastikan proses pelimpahan pendidikan menengah dari kabupaten/kota ke provinsi tidak mengganggu proses belajar-mengajar dan setiap aktivitas kepegawaian," pungkasnya.(ara/JPNN)

Friday, 11 March 2016

Penerapan Pendekatan Metakognitif Berbasis Masalah Kontekstual

Penerapan Pendekatan Metakognitif Berbasis Masalah Kontekstual - Pembelajaran matematika yang menyenangkan dan lebih bermakna dapat diciptakan dengan adanya kreativitas guru dalam merancang pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran. Pembelajaran matematika harus dapat menantang dan mengaktifkan proses berpikir siswa. Suryadi (2010) menyatakan bahwa pembelajaran matematika harus diawali sajian masalah yang memuat tantangan bagi siswa untuk berpikir. Menurut Schoenfeld (Nanang, 2009), salah satu pendekatan pembelajaran yang dilandasi konstruktivisme dalam upaya meningkatkan proses kemampuan berpikir dan bagaimana berpikir terbaik untuk dapat memecahkan masalah matematika sehingga menjadikan siswa lebih aktif dan kreatif dalam belajar adalah pembelajaran dengan pendekatan metakognitif.

Ilustrasi Proses Metakognitif Siswa dalam Pemecahan Masalah Matematika

Berdasarkan uraian yang menyatakan bahwa keberhasilan pemecahan masalah matematika sangat dipengaruhi perilaku metakognitif siswa dan pembelajaran matematika sebaiknya diawali dengan sajian masalah maka dalam pembelajaran matematika perlu menumbuhkan perilaku metakognitif. Pembelajaran matematika yang menumbuhkan perilaku metakognitif adalah melaksanakan pembelajaran matematika dengan menumbuhkan kesadaran dan pengetahuan siswa terhadap proses dan aktivitas berpikirnya pada setiap fase pemecahan masalah matematika melalui tahapan berikut.

Pendekatan Metakognitif Berbasis Masalah Kontekstual

Tahap pemahaman masalah (understanding the problem)
Pemahaman merupakan fase pertama yang penting dalam menuntun siswa mencapai kesuksesan penyelesaian masalah. Setelah siswa membaca soal pada bahan ajar, kegiatan yang dapat dilakukan adalah mengidentifikasi: informasi yang diberikan soal, informasi yang ditanyakan dari soal, apakah informasi yang diberikan cukup, kondisi (syarat) apa yang harus dipenuhi, dan menyatakan kembali masalah dalam bentuk yang lebih operasional (dapat dipecahkan). Informasi yang diberikan dinyatakan, diinterpretasi, dan direpresentasikan melalui gambar atau tabel sebagaimana diorganisasikan menjadi format yang sistematis. Siswa diminta menggali pengetahuan sebelumnya merupakan aspek penting ketika mereka menginterpretasi informasi yang diberikan dan mengacu pada konsep yang relevan sebelum pengembangan rencana solusi.
Siswa diminta mengidentifikasi proses metakognitif-nya dengan penuh keyakinan dan kesadaran mengajukan pertanyaan pada diri sendiri. Misalnya: “Apa makna soal ini?”, “Pengetahuan awal apakah yang perlu saya gunakan?”, “Konsep apakah yang saya butuhkan untuk menyelesaikan masalah ini?”, “Mengapa saya menggunakan pengetahuan awal ini?”, “Apakah yang harus saya lakukan pertama kali?”, “Mampukah saya menyelesaikan soal ini?”, “Berapa lama saya dapat menyelesaikan soal ini?”.
Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk lebih meyakinkan siswa bahwa representasi yang dinyatakannya sudah tepat, misalnya: ”Sudah sesuaikah gambar yang anda buat dengan informasi soal?”, “Apakah Anda sudah paham dengan makna soalnya?”. Guru meminta siswa membaca ulang soal yang juga dapat digunakan untuk menyelidiki kebenaran representasi.
Tahap merencanakan pemecahan (devising a plan)
Siswa menghasilkan informasi baru dan menyatakan masalah dengan gambar, simbol atau tabel sebagaimana yang diorganisasikannya menjadi suatu rencana. Strategi yang efisien seperti menggambar grafik, membuat tabel, atau mencari pola menyatakan aplikasi konsep matematika yang relevan. Rencana dievaluasi kembali dan ditentukan apakah sudah valid dengan cara guru mengontrol dan memonitor proses berpikir siswa dengan mengajukan pertanyaan atau siswa mengajukan pertanyaan pada diri sendiri. Misalnya: “Benarkah pola atau aturan yang saya gunakan ini?”, “Prosedur apakah yang harus saya lakukan?”, “Benarkah prosedur yang saya lakukan?”. Rencana baru perlu dipikirkan jika rencana yang sedang dirancang ternyata tidak valid.
Tahap melaksanakan pemecahan sesuai rencana (carrying out the plan)
Siswa memberikan jawab akhir dengan melakukan perhitungan dalam fase ini. Setiap langkah perhitungan siswa mengajukan pertanyaan untuk mendukung rencananya dan mengakhiri langkah perhitungannya. Siswa diminta memonitor dan mengontrol proses dan aktivitas berpikirnya dalam melakukan perhitungan dengan mengajukan pertanyaan. Misalnya: “Benarkah perhitungan yang saya lakukan?”, “Mengapa saya melakukan perhitungan seperti ini?”.
Tahap menafsirkan (looking back)
Siswa memeriksa solusi yang ditulisnya, guru meminta siswa mengajukan pertanyaan pada diri sendiri. Selama langkah ini, siswa diminta membaca ulang soal untuk memastikan solusinya. Guru dan siswa mengevaluasi semua proses dan aktivitas berpikir yang digunakan dalam menyelesaikan masalah. Refleksi dilakukan guru bertujuan agar pembelajaran dan pemecahan masalah yang dilalui siswa lebih bermakna. Refleksi siswa lebih mengarah pada segala sesuatu yang telah dipahami dan dilakukan siswa selama pembelajaran dan pemecahan masalah. Misalnya: “Apakah prosedur yang saya gunakan sesuai dengan tuntutan permasalahan?”, “Apakah hasil yang diperoleh sudah benar?”, “Apakah ada prosedur yang lebih efektif?”, “Apakah prosedur ini dapat digunakan untuk masalah yang sejenis?”.