Thursday, 19 October 2017

Bagaimana Melindungi Anak dari Bahaya Internet? Ikuti Tips Nya!



HOMESCHOOLING PENA   
Setara ( SD/SMP/SMA )  
TERAKREDITASI - BAN PNF

Bagaimana Melindungi Anak dari Bahaya Internet? Ikuti Tips Nya!


Foto : Kesekolah

Homeschooling Pena Surabaya, 19 Oktober 2017

Dengan berkembangnya teknologi belakangan ini yang begitu pesat, tentunya dampaknya sangat luas terhadap masyarakat. Terutama untuk yag tinggal di perkotaan. Internet seakan sudah menjadi 'santapan'sehari-hari. Begitu juga dengan gadget. Hampir semua orang sekarang memiliki gadget. Entah itu anak-anak atau orang tua sekalipun. Dengan adanya gadget dalam genggaman dan kemudahan akses internet, maka semakin mudah seseorang untuk mengakses berita apa pun. Untuk orang dewasa mungkin hal ini tidak terlalu menimbulkan dampak negatif, karena sebagai orang dewasa kita dapat memilah-milah isi berita yang layak dinikmati ataupun tidak.

Namun untuk anak-anak, yang masih belum mengerti mengenai apa itu berita positif maupun negatif akan memberikan dampak yang kurang baik jika tidak diberi pengarahan oleh orang tua. Lalu bagaimanakah caranya supaya anak dapat terlindungi dari bahaya internet? Beberapa langkah yang dapat ditempuh oleh orang tua dalam melindungi anak mereka dalam menjelajahi internet antara lain:

Tempatkan komputer di area yang mudah dipantau oleh orang tua
Kadang orang-tua merasa bangga dengan dapat meletakkan dalam kamar anak mereka sebuah komputer yang terhubung Internet. Hal ini sebenarnya akan membahayakan anak Anda karena mereka dapat leluasa mengakses situs-situs yang tidak baik tanpa diketahui orang-tua. Sebaliknya, dengan meletakkan di tempat terbuka, misalnya di ruang keluarga, Anda dapat memantau situs apa saja yang dibuka anak.

Membatasi waktu penggunaan internet
Jangan biarkan anak anak terlalu asyik di dunia maya. Tetapkan berapa lama Internet boleh digunakan dan situs apa saja yang boleh diakses. Jelaskan juga mengapa Anda melakukan hal ini dan bantu anak untuk memahami keputusan ini.

Menjalin komunikasi yang baik dengan anak
Luangkan waktu untuk bercanda dengan anak dan berkomunikasi dengan terbuka. Komunikasi yang baik dan keakraban dengan anak akan memudahkan Anda untuk menanamkan nilai-nilai moral. Anda dapat menjelaskan kepada anak Anda apa saja bahaya dari penggunaan Internet agar mereka tidak mudah terkecoh.

Orang tua perlu memiliki pengetahuan tentang Internet
Jangan mengganggap diri terlau tua atau terlalu bodoh untuk mempelajari Internet. Istilah lainnya, jangan gaptek (gagap teknologi). Seorang anak dapat saja dengan sengaja membiarkan atau membuat orang tua tidak memahami teknologi sehingga orang-tua berpikir tidak ada dampak negatif dari Internet.

Bantu agar anak dapat membuat keputusan sendiri
Karena Anda tidak dapat mengawasi anak Anda 24 jam, biasakan anak Anda untuk mengambil keputusan mulai dari hal-hal yang kecil. Misalnya, memutuskan untuk menggunakan pakaian yang mana atau tanyakan pendapat dan sudut pandang anak. Sehingga saat Anda tidak ada atau saat muncul situs porno mereka dapat mengambil tindakan yang tepat. Tanamkan pula rasa takut akan Tuhan, sehingga walau Anda tidak ada, tetapi dia tahu bahwa Tuhan memperhatikan dan melihat apa yang dilakukannya.

Sebenarnya internet itu baik asalkan digunakan dengan bijak. Dengan adanya internet juga memudahkan anak mendapatkan informasi yang diperlukan untuk membantu tugas-tugas dari sekolah atau untuk menambah pengetahuan. Namun yang perlu diperhatikan adalah beberapa tips diatas sehingga anak-anak dapat memaksimalkan manfaat dari internet dan orang tua juga tidak khawatir membiarkan anak mereka berselancar internet.

Sumber: Josua M


Enroll Now !

Information & Registration :
Jl. Ketintang Baru III No. 3 Surabaya
Phone : 031-8299413
Mobile : 081234441997
Ijin Dinas Pendidikan Kota Surabaya No. 188/7736/436.6.4/2014 
 
TERDAFTAR di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat ; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan NPSN : P9908360
 
Follow Us on Twitter
@homeschool_pena

Wednesday, 18 October 2017

Orang Tua Sering Marah-Marah? Inilah yang Terjadi pada Anak Anda



HOMESCHOOLING PENA   
Setara ( SD/SMP/SMA )  
TERAKREDITASI - BAN PNF


Orang Tua Sering Marah-Marah? Inilah yang Terjadi pada Anak Anda


Foto : Kesekolah

Homeschooling Pena Surabaya, 18 Oktober 2017

Tidak bisa dipungkiri bahwa selain menjaga kesehatan fisik, kesehatan psikis juga memerlukan perhatian khusus. Seseorang dikatakan sehat jika secara fisik dan psikis tidak mengalami gangguan kesehatan. Dari hasil riset terungkap bahwa, orangtua yang mudah marah dan bereaksi berlebihan lebih cenderung memiliki balita yang bertindak di luar batas dan menjadi mudah marah juga. Penelitian ini merupakan suatu langkah penting dalam memahami hubungan yang kompleks antara genetika dan lingkungan rumah.

Reaksi berlebihan orang tua memiliki dampak yang signifikan terhadap anak-anak mereka, yang menunjukkan emosi negatif, atau bertindak di luar batas dan memiliki amarah di luar batas normal usia mereka. Selain itu, faktor genetik juga berperan, terutama dalam kasus anak-anak yang berisiko genetik memiliki emosionalitas negatif dari ibu kandung mereka, tetapi dibesarkan di lingkungan yang membuatnya tingkat stresnya rendah atau kurang reaktif.

ini merupakan usia di mana anak-anak rentan untuk bertindak di luar batas. Namun, penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa anak-anak dengan peningkatan kadar emosionalitas negatif selama tahun-tahun awal usia mereka memiliki lebih banyak kesulitan dalam mengatur emosi dan cenderung menunjukkan perilaku yang bermasalah atau berlebihan ketika mereka usia sekolah.

Para peneliti juga menemukan bahwa anak-anak yang menunjukkan peningkatan terbesar dalam emosionalitas negatif saat mereka berkembang dari bayi sampai balita (dari 9 sampai 27 bulan) akan memiliki perilaku bermasalah yang tinggi juga pada usia dua tahun. Ini menunjukkan bahwa emosi negatif mempengaruhi proses perkembangan mereka sendiri yang memiliki implikasi bagi perilaku anak-anak kemudian.

Jadi yang harus diperhatikan orang tua adalah cara mereka beradaptasi dengan masa balita anak-anak mereka. Masa balita ini merupakan waktu menantang bagi orang tua karena ditandai dengan peningkatan mobilitas dan kemerdekaan anak dan dapat berdampak pada bagaimana perkembangan anak mereka.

Kemampuan orang tua untuk mengatur diri mereka sendiri dan untuk tetap teguh, percaya diri dan tidak bereaksi berlebihan adalah cara utama mereka dapat membantu anak-anak mereka untuk memodifikasi perilaku mereka.

Sumber : Josua M


Enroll Now !

Information & Registration :
Jl. Ketintang Baru III No. 3 Surabaya
Phone : 031-8299413
Mobile : 081234441997
Ijin Dinas Pendidikan Kota Surabaya No. 188/7736/436.6.4/2014 
 
TERDAFTAR di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat ; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan NPSN : P9908360
 
Follow Us on Twitter
@homeschool_pena

Tuesday, 17 October 2017

Anak Terbiasa Mencontek, Ini Efek Negatifnya!



HOMESCHOOLING PENA   
Setara ( SD/SMP/SMA )  
TERAKREDITASI - BAN PNF


Anak Terbiasa Mencontek, Ini Efek Negatifnya!


Foto : Kesekolah

Homeschooling Pena Surabaya, 17 Oktober 2017

Tidak ada orangtua di dunia ini yang ingin anaknya terbiasa mencontek. Pasti akan merasa kecewa dan marah apabila ternyata anak terbiasa mencontek di sekolahnya. Kebiasaan mencontek ini memiliki banyak efek negatif yang harus segera kita hentikan.

Mencontek sepertinya sudah menjadi kebiasaan sebagian pelajar dari mulai siswa SD sampai mahasiswa. Cara menconteknya pun semakin lama semakin beragam dan canggih. Kalau di zaman dulu contekan hanya ditulis di kertas kecil atau di buat coretan di atas meja. Sekarang contekan cukup dikirim melalui sms. Bukan hanya ulangan harian, semesteran bahkan ujian nasional pun tidak luput dari upaya contek mencontek. Parahnya lagi ditingkat mahasiswa, skripsi yang dibuat pun hasil mencontek. Padahal mencontek punya dampak buruk bagi pelakunya. Dampak buruk ini ada yang langsung dirasakan akibatnya, tapi ada juga dampak yang sifatnya jangka panjang.

Mencontek memiliki dampak buruk diantaranya yaitu:
1. Malas belajar
Orang yang suka mencontek tidak akan punya motivasi belajar yang tinggi. Mereka justru semakin malas belajar dan mengandalkan contekan ketika menghadapi ujian. Akibatnya sangat jelas, pelajar dan mahasiswa seperti ini mungkin bisa dapat nilai bagus tapi pasti tidak bisa menguasai ilmu yang seharusnya mereka tahu.

2. Tidak percaya diri
Tukang nyontek itu orang yang tidak percaya diri. Semakin sering dia mencontek, semakin berkurang rasa percaya dirinya kalau dia bisa mengerjakan sendiri. Setiap orang sebenarnya memiliki kemampuan untuk menerima pelajaran.

3. Biasa bohong
Mencontek memerlukan kebohongan untuk mensukseskan misinya. Orang yang biasa mencontek akan biasa pula berbohong. Mereka menjadi orang yang terbiasa tidak jujur kepada diri sendiri dan orang lain. Tentu kebiasaan bohong ini akan sangat berbahaya karena mereka bisa menjadi orang yang tidak dipercaya perkataan dan perbuatannya.

4. Menular
Ada yang mengibaratkan mencontek itu dengan penyakit yang bisa menular ke semua orang. Jika melihat teman sekelasnya bisa mencontek, tetangga kiri dan kanannya pun pasti akan mengikuti. Kebiasaan buruk ini pun menular dan menyebar ke semua orang dikelas. Bahkan bisa juga menular ke kelas lain.

5. Menghalalkan segala cara
Apapun akan dilakukan oleh orang yang biasa mencontek. Mereka akan mencari segala macam cara agar bisa mencontek dengan sukses. Cara halus dan kasar pun akan mereka lakukan. Bahayanya sikap menghalalkan segala cara ini bisa menjadi kebiasaan.

Dampak buruk mencontek lebih besar dari itu sebenarnya. Perilaku mencontek dengan segala dampak buruknya bisa menjadi kebiasaan di luar sekolah atau kampus. Mereka akan menjadi orang yang malas, tidak percaya diri ,suka bohong, dan menghalalkan segala cara menjadi contoh yang buruk bagi teman-temannya. Marilah kita hentikan kebiasaan mencontek dari sekarang, dimulai dari diri kita sendiri. Lebih baik dapat nilai bagus dari hasil belajar sendiri daripada dapat nilai jelek hasil mencontek.

Sumber : Josua M



Enroll Now !

Information & Registration :
Jl. Ketintang Baru III No. 3 Surabaya
Phone : 031-8299413
Mobile : 081234441997
Ijin Dinas Pendidikan Kota Surabaya No. 188/7736/436.6.4/2014 
 
TERDAFTAR di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat ; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan NPSN : P9908360
 
Follow Us on Twitter
@homeschool_pena

Monday, 16 October 2017

Mendidik Karakter Anak Supaya Kreatif? Ini Caranya.



HOMESCHOOLING PENA   
Setara ( SD/SMP/SMA )  
TERAKREDITASI - BAN PNF


Mendidik Karakter Anak Supaya Kreatif? Ini Caranya.

Foto : Kesekolah

Homeschooling Pena Surabaya, 16 Oktober 2017

Jika dibiarkan sendiri, anak-anak sangat kreatif bahkan seringkali lebih kreatif daripada kita. Namun, tanpa disadari kita sering menciptakan lingkungan yang membuat anak-anak tidak kreatif. Misalnya anak-anak lebih banyak menonton TV atau bermain permainan komputer.

Semua orang tua pasti berharap anaknya akan tumbuh menjadi anak yang kreatif dan berkarakter. Anak kreatif tidak muncul begitu saja akan tetapi diperlukan cara dan pola mendidik yang baik kepada anak. Kreatif atau tidak kreatifnya anak sangat tergantung dengan kondisi lingkungan di sekitarnya terutama lingkungan keluarga.

Setiap anak memiliki bakat dan kemampuan yang sudah ada sejak anak dilahirkan. Bakat dan kemampuan tersebut bisa muncul apabila ia senantiasa digali ataupun dirangsang. Begitu pula dengan daya kreativitas anak. Daya kreativitas anak bisa dioptimalkan dengan memberikan pengasuhan yang tepat dan terarah. Lalu bagaimanakah cara mendidik anak agar menjadi anak yang kreatif?

Berikut cara dan tips sederhana dalam membentuk karakter anak kreatif.
1. Membiasakan anak untuk mandiri

Banyak hal sederhana yang bisa anak lakukan. Jangan membiasakan anak diperlakukan manja hingga hal-hal sepele pun harus diladeni oleh orang tua. Misalnya ketika memakai baju, anak memakai sepatu sendiri dan hal-hal lainnya. Biarkan anak untuk menyelesaikan pekerjaan sederhananya sehingga anak akan terangsang untuk mandiri sehingga bisa memancing daya kreativitasnya.

2. Membudayakan anak dengan tantangan
Tantangan merupakan sarana untuk memaksimalkan potensi otak. Banyak hal yang bisa kita lakukan agar anak terbiasa dengan tantangan. Sebagai contoh misalnya ketika kita memberikan mainan balok kepada anak. Maka kita bisa memberikan tantangan kepada anak untuk membentuk suatu bentuk dengan balok tersebut. Bisa bentuk rumah, piramida dan bentuk-bentuk lainnya. Lalu kita evaluasi hasilnya apakah anak mampu untuk menyelesaikan tantangan yang kita berikan atau tidak.

3. Memberi kebebasan kepada anak
Memberikan kebebasan ini bukan berarti anak dibiarkan begitu saja melakukan hal-hal yang disukainya. Akan tetapi orang tua harus tetap mengawasi apa yang dilakukan anak. Tapi perlu diingat juga bahwa orang tua juga tidak memberikan pengekangan kepada anak. Misalnya ketika anak menginginkan bermain pasir. Bermain pasir bisa juga membahayakan anak, seperti mata terkena pasir. Tapi apakah terus melarang anak bermain pasir? Berikan anak kesempatan untuk bermain dan pastikan bahwa kita juga memberikan pengawasan agar anak tetap aman ketika bermain.

4. Memuji anak
Sering kali yang dilalaikan para orang tua adalah memberikan pujian kepada anak. Sedikit sekali orang tua yang memberikan penghargaan kepada anak ketika anak melakukan hal-hal positif. Terutama ketika anak melakukan perbuatan positif dalam hal yang sepele. Pujian ini sangat berarti bagi anak karena merupakan salah satu perhatian orang tua kepada anak. Kalau anak merasa tidak diperhatikan, bagaimana mungkin anak akan bisa tumbuh menjadi anak yang kreatif.

5. Mendorong anak berpikir positif
Banyak hal positif yang harus didorong, misalnya kejujuran, rasa tanggung jawab, disiplin maupun semangat tinggi. Hal-hal positif ini harus orang tua ajarkan dengan cara memberikan contoh dalam keseharian. Karena anak merupakan peniru jitu yang akan menduplikat apa yang dilakukan orang tuanya. Banyak hal-hal positif yang bisa kita contohkan meskipun hal tersebut merupakan perilaku sepele .

6. Menjauhkan anak dengan perasaan negatif
Perasaan negatif misalnya anak penakut, anak pemalu, rendah diri dan anak merasa tertekan. Pada dasarnya anak memiliki sifat positif namun karena lingkungannya anak bisa menjadi anak yang berpikiran negatif. Oleh karena itu hindari perilaku yang bisa membuat anak takut, misalnya menakut-nakuti anak, memarahi anak ataupun membentak anak.

7. Memberikan teladan
Masih ingat dengan pepatah yang mengatakan "Buah tidak akan jauh dari pohonnnya." Ya, tentunya anak akan meniru dari apa yang dilakukan orang tuanya.Sebelum anak menjadi kreatif tentunya orang tua juga harus bisa bersikap kreatif. Berikan contoh nyata sehingga anak akan termotivas untuk berbuat kreatif pula.

Membentuk karakter anak yang kreatif merupakan tugas dan kewajiban orang tua. Anak memerlukan rangsangan dari luar agar daya kreativitasnya bisa terasah. Lingkungan yang mendukung mampu memaksimalkan perkembangan motorik anak baik itu motorik halus maupun motorik kasar anak.

Sumber: Josua M


Enroll Now !

Information & Registration :
Jl. Ketintang Baru III No. 3 Surabaya
Phone : 031-8299413
Mobile : 081234441997
Ijin Dinas Pendidikan Kota Surabaya No. 188/7736/436.6.4/2014 
 
TERDAFTAR di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat ; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan NPSN : P9908360
 
Follow Us on Twitter
@homeschool_pena