Friday, 1 July 2016

Cara Terbaik Memahami Anak

HOMESCHOOLING PENA  
Setara ( SD/SMP/SMA ) 
TERAKREDITASI - BAN PNF 

Cara Terbaik Memahami Anak

Banyak orangtua yang mengikuti seminar saya berkomentar “Oke, teknik yang anda berikan untuk mengatasi masalah anak sangat bagus. Tetapi, saya tidak yakin bisa menerapkan apa yang telah anda ajarkan” lalu tanya saya “Apa sebabnya?”, “Pertama saya tidak disukai anak, berikutnya bagaimana mengkomunikasikan pada mereka?”.
Jelas ini adalah masalah, tetapi tenang saja karena ada cara untuk memahami perilaku anak. Sebelum membahas hal itu ada bagian yang harus anda pahami terlebih dahulu. Banyak orangtua yang bertanya dalam pikiran mereka sendiri:
  • Mengapa anak saya tidak peduli dengan masa depannya?
  • Mengapa mereka melakukan hal-hal yang tidak masuk akal?
  • Mengapa mereka tidak mau mendengarkan walupun sudah diingatkan berkali-kali?
  • Mengapa anak saya membiarkan dirinya dipengaruhi oleh teman-temannya dengan hal-hal negatif yang tidak berguna?
Nah pertanyaan utama, “Bagaimana cara memahami perilaku dan pemikiran mereka?”
Jawabanya adalah EMOSI mereka. Emosi sangat menguasai logika berpikir anak-anak dan remaja. Mereka jauh lebih banyak di dorong oleh perasaan daripada pemikiran mereka. Dengan mengetahui hal ini, maka sia-sia upaya kita mengkuliahi mereka seharian.
Mengisi pikiran mereka dengan nasihat positif, dan menjadikan diri kita motivator di depan mereka tidak akan berhasil. Justru akan membuat anak bertambah sebal dengan kelakuan kita. Komentar atau nasihat seperti, “Kamu harus giat belajar”, “Jangan buang waktumu dengan bermain terus”, “Jaga kebersihan kamarmu”, kecuali bila kita sudah terlebih dahulu mengenali perasaan mereka.
Dalam kondisi emosi yang negatif seorang anak tidak dapat menerima input dan nasihat yang dapat mengubah perilaku mereka. Berbeda hasilnya jika kita mampu mengerti dan mengenali perasaan emosi mereka terlebih dahulu, maka mereka akan terbuka dan mendengarkan saran logis dari kita. Anak–anak dan remaja akan melakukan sesuatu jika membuat mereka merasa nyaman di hatinya.
Sebelum melangkah lebih jauh, kita akan belajar bersama, bagaimana reaksi kita dalam menghadapi masalah anak tersebut. Seringkali jika ada masalah maka yang ada di benak kepala kita umumnya ada 3 hal, yaitu :
1. Memberi nasihat, misalnya “Saya tadi berkelahi dengan Agus di sekolah”, respon kita pada umumnya “Apa-apaan kamu ini, sekolah bukan tempat untuk berkelahi, hanya penjahat yang menyelesaikan masalahnya dengan berkelahi.”
2. Menginterogasi, misalnya “HP saya hilang di sekolah”, respon kita pada umumnya “Kamu yakin bukan kamu sendiri yang menghilangkan? Coba di ingat kembali.”
3. Menyalahkan dan menuduh, misalnya “Tadi Edo dihukum karena tidak mengerjakan PR”, respon kita pada umumnya “Dasar anak malas, mulai hari ini kamu harus lebih disiplin dan memperhatikan tugas di sekolah.”
Setelah melihat ketiga contoh diatas, tidak ada satu ruang pun untuk mengakui perasaan atau emosi anak, betul? Seringkali kita ini hanya memberikan masukan tanpa mau mendengar apa yang sebenarnya terjadi, atau lebih tepatnya perasaan apa yang terjadi pada diri anak kita.
Ketika emosi seorang anak diabaikan mereka akan lebih marah dan benci. Selama ini mereka berada dalam keadaan emosi negatif, semua nasihat-nasihat maksud baik kita tidak akan digubris
Cara terbaik untuk memahami anak kita adalah, mengakui emosinya (kenali emosinya) dan beri mereka kekuatan untuk menemukan solusi atas masalah mereka sendiri. Caranya adalah:
1. Berikan perhatian dan pengakuan
Terkadang yang dibutuhkan anak hanya didengar saja, bukan solusinya. Hanya memberikan perhatian 100% kita bisa terkejut, ternyata anak mau terbuka, mau berbagi pikiran dan perasaannya.
Hanya dengan berkata “Hmm.. oke, begitu ya.. lalu..” Walau nampaknya sederhana, jujur ini sulit bagi kita orangtua yang terbiasa mau mengambil jalur cepat, dengan memberikan solusi dan menyelesaikan masalah.
Ketika hal itu kita lakukan, justru anak akan menutup diri, dan menghindar untuk bicara dengan kita. Anak hanya akan meyatakan pikiran dan perasaan yang sejujurnya tanpa takut dihakimi.
Ketika kita biarkan anak mengungkap emosi dan pikirannya dengan bebas (saat kita ada untuk memberi dukungan emosional), kita akan melihat mereka dapat menemukan solusi sendiri untuk permasalahan mereka.
Kelebihan lainnya dari pendekatan ini adalah anak akan mengembangkan rasa percaya diri dengan berpikir untuk dirinya sendiri, dan berani menghadapi tantangan – tantangan hidup. Misalnya “Saya tadi berkelahi dengan Agus, di sekolah”, respon kita “Apa yang terjadi? Lukamu pasti sakit sekali yah..”
2. Mengenali dan menggambarkan emosi
Perlu bagi kita sesaat untuk mempelajari makna dari emosi, karena ini penting bagi kita untuk bisa mencerminkan emosi anak, dan mengerti dengan pasti apa yang mereka rasakan. Dengan dimengertinya perasaan mereka, maka mudah bagi mereka untuk terbuka dan bicara tentang masalah mereka. Berikut adalah emosi yang umumnya dialami oleh manusia.
Nama emosi dan artinya :
Marah – Merasakan adanya ketidakadilan
Rasa bersalah – Kita merasa tidak adil terhadap orang lain
Takut – Kita diharapkan antisipasi karena sesuatu yang tidak diinginkan bisa saja terjadi
Frustrasi – Melakukan sesuatu berulangkali dan hasilnya tidak sesuai harapan
Kecewa – Apa yang diinginkan tidak bisa terwujud
Sedih – Kehilangan sesuatu yang dirasa berharga
Kesepian – Kebutuhan akan relasi yang bermakna bukan hanya sekedar berteman
Rasa tidak mampu – Kebutuhan untuk belajar karena ada sesuatu yang tidak bisa dilakukan dengan baik
Rasa bosan – Kebutuhan untuk bertumbuh dan mendapatkan tantangan baru
Stress – Sesuatu yang terlalu menyakitkan dan harus segera dihentikan
Depresi – Sesuatu yang terlalu menyakitkan dan harus segera dihentikan
Baiklah kita mulai dengan satu kasus, jika anak anda datang dan berkata “Joni tidak mau bermain bola denganku” Apa jawab anda? “Sini main sama papa/mama, main sama yang lain saja ya, atau ya sudah main sendiri saja.” Ketiga jawaban ini sekilas adalah jawaban klasik, dan memang dibenarkan karena sering dipakai.
Pertanyaan saya ada emosi apa dibalik kata-kata anak tersebut? KECEWA dan KESEPIAN. Nah, kalau begitu responnya bagaimana? “Hmm.. nak kamu ingin sekali ya bermain dengan Joni?” atau “Hmm.. kamu kesepian yah, ingin bermain ya?” lalu tunggu responnya, biasanya anak akan bercerita panjang lebar, kemudian solusi sebaiknya diserahkan kepada anak.
Caranya “Lalu apa yang bisa Papa/Mama bantu? Ingin bermain dengan Papa/Mama? Atau ada ide lain?” Biarkan anak memilih solusi terbaik bagi dirinya. Perhatikan tabel diatas dan gunakan untuk berkomunikasi dengan anak, pahami seiap kasus yang dialami anak.
Dengan turut mengerti perasaan emosi anak dan membiarkan menemukan solusi masalahnya sendiri, maka anak akan merasa dipahami dan nyaman. Serta akan tumbuh rasa percaya diri di lingkungan yang menghargai dia. Dan berikutnya akan mudah bagi anak untuk terbuka terhadap orangtuanya, dan sikap saling percaya antara orangtua dan anak akan terbentuk dengan baik.
Sampai kini, kita telah belajar bagaimana caranya agar anak terbuka dan percaya pada kita, betul? Berikutnya bagaimana caranya mengarahkan? Setelah kita mendengar dan mengerti perasaan dan emosi anak, serta menanyakan solusi terbaik menurut anak (jika anak sudah mampu berpikir untuk solusi) tanyakan “Bolehkah Papa/Mama memberi saran?” setelah ada ijin dari anak maka berikan masukan yang anda rasa paling barik.
Terkadang cara pandang anak tidak sama dengan orangtua, kita tahu jika anak memilih solusi yang kurang tepat (menurut orangtua) dengan nilai atau norma yang berlaku di lingkungan sosial, maka kita bisa mengarahkannya dengan mudah karena langkah 1 dan 2 sudah dilakukan. Tentunya dengan model komunikasi yang sopan dan tetap menghargai anak.
Pintu gerbang kekerasan hati anak akan terbuka lebar saat kita mau menerima dan mengerti anak, dan mereka akan mempersilahkan kita masuk dan bertamu di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Ditempat itulah kita dapat meletakan pesan, arahan dan masukan positif bagi kebaikan masa depan anak.
Saya paham cara ini butuh waktu, semua solusi cerdas untuk meningkatkan kualitas keluarga butuh waktu. Ada namanya “waktu tunggu” untuk suatu hasil yang istimewa. Masakan yang enak dan sehat butuh waktu dan proses di dapur, tidak sekian detik jadi. Nah kualitas apa yang kita mau untuk keluarga kita?

Semoga bermanfaat.

Enroll Now !
Information & Registration :
Jl. Ketintang Baru III No. 3 Surabaya
Phone : 031-8299413
Mobile : 081234441997
Ijin Dinas Pendidikan Kota Surabaya No. 188/7736/436.6.4/2014 

TERDAFTAR di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat ;
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan NPSN : P9908360
 
Follow Us on Twitter
 
Available on Google Play Store
www.homeschoolingpena.com 

Bagaimana Mengembangkan Bakat Anak Sejak Dini

HOMESCHOOLING PENA  
Setara ( SD/SMP/SMA ) 
TERAKREDITASI - BAN PNF

Bagaimana Mengembangkan Bakat Anak Sejak Dini

 
Keberhasilan anak dalam hal apapun, termasuk dalam pengembangan bakat anak, tentu tidak lepas dari bagaimana kita sebagai orangtua membekali anak dalam menemukan fokus belajarnya dan menekuni bidang pilihannya.
Namun kita juga seringkali dilanda kebingungan dalam memfasilitasi belajar anak. Pertanyaan seperti “Apakah saya harus mengikutkan anak dalam kursus?” atau keraguan semacam “IQ anak saya hanya rata-rata saja, tidak seperti teman-temannya,” seringkali menghantui benak kita.
Demi keberhasilan anak nanti, kita rela melakukan apapun – bahkan secara tidak sadar melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak disukai anak. Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan bakat anak sejak dini:
  • Orangtua sendiri perlu menunjukkan minat terhadap bidang kegiatan tertentu, mempunyai hobi, senang membaca, dan menyediakan bahan bacaan yang cukup dan beragam.
  • Menciptakan lingkungan rumah yang baik. Tempat orangtua berperan serta dalam kegaitan intelektual, atau dalam permainan yang meningkatkan daya pikir anak.
  • Menyempatkan diri untuk mendengarkan dan menjawab pertanyaan anak dengan sungguh-sungguh. Kalau belum dapat menjawab pertanyaan anak, sebaiknya mengajak anak itu untuk mencari jawaban bersama-sama.
  • Mengajak anak mengunjungi museum, perpustakaan, tempat bersejarah, pusat kebudayaan atau kesenian. Beri mereka kesempatan bertemu dengan orang lain yang mempunyai keahlian atau keterampilan tertentu.
  • Memberi kesempatan kepada anak agar melakukan sesuatu sendiri, untuk memupuk kemandirian, kepercayaan diri dan rasa tanggung jawab.
Pendiri Intrinsic Institute, Dr. Brian Davidson, adalah salah satu orang yang menaruh perhatian pada tema ini. Sebagai seorang guru pula, ia tertarik untuk menjawab pertanyaan tentang apa bekal penting yang harus dimiliki murid-muridnya untuk berhasil dalam studinya.
Alih-alih fokus pada faktor-faktor yang secara umum kita kenal dapat memicu keberhasilan anak, seperti IQ dan kemampuan kognitif, ia justru mengungkapkan bahwa banyak kemampuan non-kognitif yang patut menjadi bekal anak.
Misalnya, ia menunjukkan hasil penelitian Angela Duckworth dan Martin Seligman bahwa disiplin diri dua kali lebih baik ketimbang IQ dalam memprediksi keberhasilan akademik seorang anak. Ini seperti banyak kasus yang sering kita dengar – anaknya tidak terlihat pintar, namun karena dia tekun, sang anak lalu jadi terampil di bidang bakat yang ditekuni.
Apa sih kemampuan non-kognitif yang dimaksud oleh Dr. Brian? Yang dimaksud adalah berbagai bekal yang berkontribusi dalam pengembangan bakat anak, yang sulit diukur dalam berbagai tes, termasuk tes IQ. Ketekunan belajar, pantang menyerah, growth mindset yang akhir-akhir ini kita sering dengar, kemampuan untuk bangkit dari kegagalan, jelas lebih sulit diukur dalam berbagai tes kecerdasan.
Namun tes kecerdasan maupun ujian lebih sering dijadikan patokan dalam menentukan “nasib” anak. Paradigma ini pula yang menyebabkan kita seringkali lebih fokus pada hasil ketimbang proses belajar.
Padahal, proses belajar dan pengembangan bakat anak seringkali akrab dengan tantangan, hambatan, dan kegagalan. Namun sistem persekolahan misalnya, membuat kita malu melihat seorang anak tidak naik kelas, meskipun hal tersebut mungkin menjadi pembelajaran yang berharga bagi anak.
Itu sebabnya, selain membekali diri dengan konten belajar – membaca, berhitung, menulis, memasak, atau bakat apapun yang ditekuni anak – anak perlu belajar dan membekali dirinya dengan berbagai kemampuan non-kognitif yang telah disebutkan di atas.
Misalnya, anak yang sering juara lomba melukis, lalu kemudian tidak mendapat juara di lomba berikutnya, mungkin merasa kecewa. Hidup memang bukan hanya perlombaan, namun perlombaan juga menjadi bagian dari hidup dan pengembangan bakat anak.
Dalam kejadian ini, ayah ibu bisa mengobrol dengan anak tentang bagaimana bangkit dari kegagalan. Atau sebaliknya, anak yang tidak pernah dapat juara lomba melukis pun bisa belajar bagaimana menumbuhkan sikap pantang menyerah. Tidak dapat juara bukan berarti anak harus berhenti melukis, bukan?
Namun perlu diingat bahwa orangtua harus dapat membedakan antara tindakan “memberi perhatian dan kesempatan mewujudkan bakat” dengan tindakan “memaksa anak untuk berprestasi.” Bakat seorang anak bukan sesuatu yang siap jadi, tetapi diperoleh dari, dan ikut dibentuk oleh lingkungan.

Semoga bermanfaat.



Enroll Now !
Information & Registration :
Jl. Ketintang Baru III No. 3 Surabaya
Phone : 031-8299413
Mobile : 081234441997
Ijin Dinas Pendidikan Kota Surabaya No. 188/7736/436.6.4/2014 

TERDAFTAR di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat ;
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan NPSN : P9908360
 
Follow Us on Twitter
 
Available on Google Play Store
www.homeschoolingpena.com 



Thursday, 30 June 2016

Mengajarkan Anak Bersosialisasi Sejak Usia Dini

HOMESCHOOLING PENA  
Setara ( SD/SMP/SMA ) 
TERAKREDITASI - BAN PNF

 Cara Mengajarkan Anak Bersosialisasi 

Sejak Usia Dini


Memiliki teman atau sahabat adalah salah satu pondasi penting dalam kehidupan seseorang. Penelitian menunjukkan bahwa seorang anak yang memiliki masalah dalam berinteraksi dengan teman sebayanya, cenderung mengalami guncangan emosi yang lebih besar dibandingkan anak yang memiliki banyak teman.
Dalam kondisi ekstrim, saat mereka dewasa guncangan emosi yang tidak dapat diatasi ini dapat menyebabkan tindakan vandalisme, kriminal, bahkan bunuh diri. Bagaimana dengan anak anda?
Apabila anda memiliki seorang anak yang pemalu, maka tidak ada salahnya jika anda mengajarkan cara bersosialisasi sejak dini. Kemampuan bersosialisasi ini sangat penting dalam masa tumbuh kembang anak, karena dengan bersosialisasi anak akan lebih mudah untuk mengembangkan karakternya.
Mungkin hal ini bukan masalah bagi sebagian anak yang terlahir dengan bakat pandai bersosialisasi. Tetapi bagi anak yang kesulitan bersosialisasi, hal ini dapat menyebabkan anak menjadi kurang percaya diri dan susah bergaul dengan teman sebayanya.

Berikut ini ada beberapa cara yang dapat membantu anda untuk mengajarkan anak bersosialisasi sejak usia dini.


1. Menjadi Role Model

Anak seringkali mencontoh perilaku dan sikap dari orangtuanya. Oleh karena itu, setiap orangtua wajib menjadi role model yang baik bagi anak-anaknya. Dengan melihat bagaimana orangtuanya menyapa, berbicara dan bergaul dengan orang lain, hal ini akan membuat anak lebih mudah untuk bersosialisasi dengan teman-temannya.

2. Biarkan Anak Berekspresi 

Berikan kesempatan pada anak untuk berkumpul bersama dengan teman-temannya, seperti mengikuti kegiatan pramuka, olahraga, atau kegiatan-kegiatan lain yang dapat mendorong bakat mereka. Anak akan sangat menikmati apabila mereka dapat menunjukkan bakat serta minatnya. Salah satu penyebab kurangnya rasa percaya diri pada anak, adalah karena anak tidak memiliki ruang untuk berekspresi.

3. Suasana Keluarga Yang Terbuka

Bangunlah suatu hubungan yang terbuka antara anak dengan orangtua. Salah satu caranya adalah dengan mengajak anak anda berkomunikasi tentang berbagai kegiatannya sehari-hari. Luangkan waktu untuk berbicara dengan anak anda sedikitnya dua kali dalam sehari, dan biarkan anak anda mengeluarkan isi hatinya. Hal seperti ini akan membuat anak berani untuk bertanya, minta pendapat, ataupun sekedar curhat saja.

4. Beraktivitas Dalam Kelompok

Ajak anak anda untuk bergabung dalam suatu komunitas atau tim olahraga yang sesuai dengan minatnya. Selain dapat mengasah bakat anak, kegiatan semacam ini juga dapat memberikan kesempatan pada anak untuk bergaul dan mendapat teman baru. Anak-anak biasanya sangat menyukai kegiatan seperti ini, karena itu carilah suatu kegiatan yang dapat dilakukan anak bersama dengan teman sebayanya.

5. Bermain Bersama 

Bermain adalah salah satu cara untuk mengakrabkan diri dengan anak lain, dan dengan bermain anak menjadi lebih bebas dalam mengeluarkan ekspresinya. Ajak anak anda untuk sesekali bermain di luar rumah bersama teman-temannya, atau anda bisa meminta saudara sepupu atau teman dekatnya untuk menginap di rumah ketika liburan sekolah tiba.

6. Bangkitkan Rasa Percaya Diri Anak

Orangtua adalah orang yang paling tahu dan mengenal karakter anaknya, beserta dengan segala kelebihan dan juga kekurangannya. Karena itu bantulah anak anda untuk menemukan rasa percaya dirinya dengan cara berkomunikasi secara personal.

7. Etika Bergaul

Dalam pergaulan, anak harus diberikan pengertian untuk dapat menghargai orang lain. Dengan memiliki etika bergaul yang baik, anak tidak akan canggung untuk bergaul dengan teman sebayanya ataupun orang yang usianya jauh lebih tua.

8. Jangan Terlalu Protektif

Seringkali orangtua terlalu protektif terhadap anaknya, sehingga membatasi kesempatan anaknya untuk berinteraksi dengan orang lain. Biarkan anak anda belajar untuk melakukan segala sesuatunya sendiri, seperti menelepon temannya, bertanya kepada orang lain, atau membayar sendiri saat jajan.

9. Perhatikan Anak Anda

Agar dapat lebih memahami perilaku anak anda, penting bagi anda untuk memperhatikan mereka saat berinteraksi dengan orang lain. Jika anak anda pemalu, jangan terlalu memaksanya, tetapi bantulah dia untuk dapat membuka diri dengan teman-temannya. Dukungan dari orangtua sangat membantu anak untuk bersosialisasi.

10. Jelaskan Arti Teman

Berikan pemahaman pada anak tentang pentingnya mempunyai teman. Apabila anak anda memiliki pribadi yang tertutup, berilah mereka cukup waktu untuk membuka diri. Karena ketika mereka merasa nyaman, saat itulah mereka akan bersosialisasi dengan orang lain.
Demikianlah beberapa cara mendidik anak untuk bersosialisasi. Kemampuan bersosialisasi ini dapat dilatih sejak anak usia dini, sehingga nanti ketika dewasa mereka dapat beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.Untuk melatih kemampuan bersosialisasi ini tentunya juga harus disesuaikan dengan kepribadian anak, karena setiap anak memiliki kepribadian yang berbeda sehingga cara pendekatan dan latihan yang dilakukan juga berbeda, sesuai dengan kepribadian mereka.

Enroll Now !
Information & Registration :
Jl. Ketintang Baru III No. 3 Surabaya
Phone : 031-8299413
Mobile : 081234441997
Ijin Dinas Pendidikan Kota Surabaya No. 188/7736/436.6.4/2014 

TERDAFTAR di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat ;
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan NPSN : P9908360
 
Follow Us on Twitter
 
Available on Google Play Store
www.homeschoolingpena.com 

Bagaimana Menerapkan Aturan Yang Baik Pada Anak

HOMESCHOOLING PENA  
Setara ( SD/SMP/SMA ) 
TERAKREDITASI - BAN PNF

Bagaimana Menerapkan Aturan Yang Baik Pada Anak


Di dalam sebuah keluarga selalu ada aturan yang harus dipatuhi oleh seluruh anggota keluarga. Pada dasarnya aturan ini diperlukan dalam keluarga agar segala sesuatunya dapat dilakukan sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing.
Biasanya aturan ini selalu berbeda antara keluarga yang satu dengan keluarga yang lain. Mungkin hal ini bukanlah masalah ketika aturan diterapkan pada anggota keluarga yang telah dewasa, tetapi bagaimana dengan anak-anak? Bisakah mereka mematuhi aturan yang dibuat dalam keluarga?
Menerapkan aturan pada anak-anak bukanlah sesuatu yang mudah, terutama ketika mereka memasuki masa remaja. Banyak orangtua yang merasa kewalahan ketika harus menerapkan aturan kepada anaknya. Salah satu alasannya adalah anak-anak cenderung mengabaikan aturan yang telah dibuat oleh orangtuanya.
Tetapi bagaimanapun juga, sebagai orangtua anda harus dapat menerapkan aturan dan disiplin kepada anak. Meskipun mereka masih kecil, tetapi sudah seharusnya mereka belajar untuk mengikuti aturan yang ditetapkan oleh orangtuanya. Lalu, bagaimana cara menerapkan aturan yang baik pada anak? Berikut ini ada beberapa cara yang perlu diperhatikan dalam membuat aturan dalam keluarga.

1. Sepakati Bersama

Dalam menetapkan aturan, pastikan aturan tersebut dibuat dan disepakati bersama oleh seluruh anggota keluarga. Jika anda ingin membuat aturan yang efektif, libatkan anak anda dalam membuat aturan, diskusikan, dan tanyakan pendapatnya. Anda bisa mulai dengan membuat beberapa aturan sederhana, seperti kapan waktu makan, kapan waktu tidur, kapan waktu bermain, dan lain-lain.
Hal ini bertujuan untuk mengenalkan anak pada aturan, dan melatih mereka agar terbiasa dalam menerapkan aturan tersebut. Hindari membuat aturan secara sepihak atau diktator, yang hanya berpihak kepada orantua. Karena ini akan menyebabkan hilangnya rasa percaya anak terhadap orangtua.

2. Tentukan Konsekuensi

Selain menetapkan aturan, anda perlu menetapkan konsekuensi atau hukuman. Anda harus tahu bagaimana cara mengatasi anak ketika mereka melanggar aturan, dan menetapkan konsekuensinya. Anda dapat mulai dengan memberi hukuman yang ringan ketika anak anda melanggar aturan.
Contohnya, dengan membatasi waktu mereka menonton tv, mengurangi jam bermain video game, atau mengurangi uang jajan. Segala sesuatu yang berlebihan pada dasarnya tidak baik, karena itu janganlah membuat konsekuensi yang terlalu keras ketika anak anda melanggar aturan.

3. Berikan Penjelasan

Berikutnya anda perlu memberi penjelasan tentang semua aturan tersebut kepada anak. Ketika anak diberi penjelasan, mereka diharapkan untuk mengerti dan memahami tentang apa saja yang harus dipatuhi dan dikerjakan, beserta dengan konsekuensinya.
Dengan begitu mereka akan memahami apa akibatnya apabila melanggar aturan tersebut. Anda juga dapat membuat perubahan pada aturan sesuai dengan keinginan atau kebutuhan anak, karena hal itu akan membuat anak merasa dihargai.

5. Berikan Reward

Dalam menerapkan aturan, reward atau penghargaan tidak kalah penting dengan hukuman. Reward perlu diberikan ketika anak berhasil mematuhi aturan yang ditetapkan, karena hal ini akan membuat mereka semakin termotivasi dan semangat dalam menjalankan aturan. Selain reward, anda juga dapat memberi mereka pujian ketika menjalankan aturan dengan baik.

6. Jadilah Role Model

Orangtua adalah role model bagi anak. Dan sebagai orang yang menetapkan aturan dalam keluarga, anda wajib untuk memberikan contoh kepada anak dengan menjalankan aturan yang anda tetapkan sendiri.
Karena jika anda sendiri tidak mematuhi aturan yang anda buat, bagaimana orang lain dapat mematuhinya. Dengan memberi contoh dan teladan kepada anak, hal ini justru akan memotivasi anak untuk bertindak yang sama.
Sebaiknya segala aturan yang dibuat harus jelas dan dipatuhi oleh seluruh anggota keluarga. Karena ini akan menjadi contoh nyata bagi anak, bahwa orangtuanya juga mematuhi aturan yang telah dibuat bersama. Seringkali aturan yang dibuat tidak berlaku bagi orangtua, dan aturan itu hanya untuk menghukum anak apabila melakukan kesalahan.
Ini adalah salah satu contoh ketidak disiplinan orangtua sebagai pembuat aturan. Dan apabila ada aturan tertentu yang sering dilanggar secara terus menerus, sebaiknya anda segera melakukan penyesuaian untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

Semoga bermanfaat.



Enroll Now !
Information & Registration :
Jl. Ketintang Baru III No. 3 Surabaya
Phone : 031-8299413
Mobile : 081234441997
Ijin Dinas Pendidikan Kota Surabaya No. 188/7736/436.6.4/2014 

TERDAFTAR di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat ;
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan NPSN : P9908360
Follow Us on Twitter
Available on Google Play Store
www.homeschoolingpena.com 

Karena Anak Jenius Selalu Bertanya

HOMESCHOOLING PENA
Setara ( SD/SMP/SMA ) 
TERAKREDITASI - BAN PNF

Karena Anak Jenius Selalu Bertanya


Jenius itu adalah anugrah bawaan lahir setiap anak manusia.
Kebodohan itu adalah hasil bentukan sistem manusia dan pola asuh yang keliru.
 
Benarkah?
Konon dalam salah satu komentarnya saat ia ditanya wartawan tentang anak-anak yang jenius, Einstein pernah berkata bahwa anak yang jenius itu bukanlah anak yang mampu menjawab sebanyak-banyaknya soal yang sudah ada jawabanya di buku, melainkan anak-anak yang paling banyak bertanya, apa saja, kapan saja, dan dimana saja, yang isi pertanyaannya seringkali bahkan orang dewasa saja tidak mampu untuk menjawabnya.
Jadi jika anak kita selalu bertanya apa saja dan dimana saja tanpa henti, sampai kita kewalahan dan “mati kutu” karena tidak bisa atau tidak tahu jawabannya, itulah tanda bahwa sesungguhnya ia masih dalam kondisi jenius.
Dan perlu dicatat dan diingat jika anak kita seperti ini jangan dimarahi, karena itulah pertanda ia masih jenius, setidaknya menurut sang jenius dunia Albert Einstein.
Tetapi jika ia sudah menjadi anak yang pasif, tidak lagi tertarik untuk bertanya, lebih banyak diam, dan bengong di depan televisi atau bermain game, karena stress terlalu banyak diminta untuk menjawab soal-soal ujian yang sudah ada jawabannya di buku. Maka saat itulah anak kita mulai meninggalkan sisi jenius yang ada dalam dirinya, yang merupakan anugrah yang telah dibawanya sejak lahir.
Mari sekarang kita perhatikan anak kita masing-masing, apakah ia masih menjadi anak yang terus bertanya kapan saja, dimana saja, dan apa saja, atau malah sebaliknya? Apakah anak kita sudah tidak tertarik lagi untuk bertanya, dan lebih suka menghabiskan waktunya untuk bengong di depan televisi atau bermain game?
Sayangnya kebanyakan orang di Indonesia menganggap bahwa jenius adalah milik segelintir orang atau anugrah pada anak-anak tertentu. Padahal fakta penelitian dari Prof. Howard Garner menunjukkan bahwa setiap anak berpotensi untuk jadi jenius, tetapi orangtua dan lingkunganlah yang seringkali telah membunuh potensi jenius mereka.
Jika anak-anak, para orangtua, dan guru-guru di Indonesia masih memahami bahwa jenius adalah nilai bagus di semua mata pelajaran, maka ini bisa dipastikan bahwa sekolah-sekolah di Indonesia tidak akan pernah bisa melahirkan anak-anak jenius seperti Einstein, Mozart, Thomas Edison dan sebagainya.

Semoga bermanfaat.

Enroll Now !
Information & Registration :
Jl. Ketintang Baru III No. 3 Surabaya
Phone : 031-8299413
Mobile : 081234441997
Ijin Dinas Pendidikan Kota Surabaya No. 188/7736/436.6.4/2014 

TERDAFTAR di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat ;
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan NPSN : P9908360
Follow Us on Twitter
Available on Google Play Store
www.homeschoolingpena.com 

Cara Cerdas Dalam Memuji Anak


HOMESCHOOLING PENA
Setara ( SD/SMP/SMA ) 
TERAKREDITASI - BAN PNF

7 Cara Cerdas Dalam Memuji Anak





“Nanti dia besar kepala”
“Nanti dia tambah malas dan menyepelekan”
“Nanti dia jadi sombong”
“Nanti dia jadi arogan dan sok”


Mungkin kalimat itu adalah respon dari beberapa orangtua yang cukup berhati-hati dalam memberikan pujian kepada anaknya. Memang benar, apabila salah dalam memberikan pujian hasilnya bisa fatal. Pujian datangnya bukan hanya dari orangtua di rumah, tetapi bisa datang dari siapa saja, teman, guru, dan orang lain. Mereka semua bisa saja memberikan pujian yang salah. Apa fatalnya?
Cara yang salah dalam memberikan pujian bisa membuat anak menjadi malas, bahkan menjadi haus pujian. Hal ini bisa juga menjadi motivasi tersembunyi anak untuk melakukan apa saja demi pujian, dan jika tidak mendapatkan pujian seperti yang diharapkan maka bisa bermacam-macam variasi akibatnya, misalnya marah, frustasi, dan kecewa.
Jika pola ini terus terjadi dalam diri anak, maka hidup terasa sangat berat, dan tidak bersahabat bagi dirinya. Pujian akan terasa di hati, dan ini berbeda dengan makanan yang terasa enak di lidah. Karena terasa di hati, maka orang tidak bisa tahu apa kebutuhan hati anak (perasaan seseorang), karena isi hati manusia siapa yang tahu, dan ini tidak terlihat. Jika sudah sangat fatal, yang tampak adalah luapan emosi yang meledak dahsyat, misal menangis, berteriak, mengurung diri, dan sikap agresif lainnya.
Penelitian yang dilakukan Carol Dweck dan timnya selama sepuluh tahun terakhir menunjukkan hal tersebut, ditulis dalam bukunya yang berjudul Mindset: The New Psychology of Success (2006). Dalam penelitian tersebut, sekelompok siswa kelas 5 di New York diberi 4 rangkaian tugas menyelesaikan puzzle.
Tugas pertama yaitu menyelesaikan sebuah puzzle yang sangat mudah. Setelah menyelesaikan tugas itu, satu kelompok diberi pujian atas kecerdasannya dan kelompok yang lain diberi pujian atas usahanya. Kelompok pertama mendapat pujian “Kamu cerdas sekali” dan kelompok kedua mendapat pujian “Usahamu luar biasa”.
Pada tugas berikutnya, kedua kelompok tersebut diberi 2 pilihan untuk menyelesaikan puzzle yang lebih sulit atau puzzle yang mudah seperti sebelumnya, namun dikatakan pada mereka bahwa mereka bisa belajar banyak dalam menyelesaikan puzzle yang sulit itu.
Dan ternyata 90% dari kelompok anak yang dipuji atas usahanya memilih tugas yang lebih sulit, sementara mayoritas kelompok anak yang dipuji cerdas memilih tugas yang mudah. Kelompok pertama yang diberi pujian “cerdas” lebih memilih untuk tampil sebagai anak cerdas, menghindari resiko tampak memalukan dan bodoh.
Pada tugas ketiga, kedua kelompok tidak diberi pilihan dan diharuskan menyelesaikan puzzle yang lebih sulit. Disana tampak sekali ekspresi ketegangan pada kelompok anak “cerdas”, mereka bingung dan berkeringat. Pada kelompok yang dipuji atas usahanya malah tampak semakin keras pada usaha mereka.
Kini anda tidak perlu melakukan penelitian untuk membuktikan bahwa ada bahaya dalam memberikan pujian yang salah bukan? Lalu bagaimana yang benar? Pujilah PROSES bukan HASIL, pujilah UPAYA dan USAHA. Jika dia mendapatkan nilai 100 dalam ujian matematika, sebaiknya pujilah dengan “Hebat ya kamu, itu adalah hasil belajar disiplin kamu yah”, bukan “Hebat, nilai 100 itu baru anak mama, pintar kamu”.
Lalu bagaimana agar pujian menumbuhkan disiplin dan karakter yang baik? Berikut ada 7 panduan sederhana yang mudah untuk diterapkan baik di sekolah dan rumah.
Tulus, berikan pujian yang tulus, sesuai sebab dan situasinya. Misalnya “Terima kasih ya sudah menolong membuka pintu” atau “Terima kasih mau membantu angkat buku ini.”
Spesifik, pujian sebaiknya jelas dan detil. Misalnya “Cara kamu memakai baju bagus dan rapi, bajumu tidak terlihat kusut.” atau “Gambarmu bagus, mama suka dengan pilihan warnanya.”
Fokuskan pada keuntungan diri sendiri, arahkan pujian pada keuntungan dia memiliki sikap yang baik. Misalnya “Kamu rajin ya, jadi nanti kalau mau ada ujian kamu sudah siap, atau jika ada tes mendadak kamu sudah siap.”
Tidak memanipulasi, gunakan pujian dengan tepat, bukan untuk keuntungan orang lain. Misalnya “Anak cantik bisa tolong ambilkan handphone papa?”
Puji akan usahanya bukan hasilnya. Misalnya “Kamu tadi belajar pakai baju renang sendiri ya, hebat kamu” atau “Hei nak, tadi ayah melihat kamu membersihkan kotoran yang di ujung meja, hebat kamu mau belajar membersihkan.”

Semoga bermanfaat.

Enroll Now !
Information & Registration :
Jl. Ketintang Baru III No. 3 Surabaya
Phone : 031-8299413
Mobile : 081234441997
Ijin Dinas Pendidikan Kota Surabaya No. 188/7736/436.6.4/2014 

TERDAFTAR di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat ;
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan NPSN : P9908360
Follow Us on Twitter
Available on Google Play Store
www.homeschoolingpena.com 

Tuesday, 28 June 2016

Ini Langkah Selanjutnya Setelah Lulus SBMPTN 2016,

HOMESCHOOLING PENA
Setara ( SD/SMP/SMA ) 
TERAKREDITASI - BAN PNF

Ini Langkah Selanjutnya Setelah Lulus SBMPTN 2016,


Selamat untuk alumni SMA dan sederajat yang lulus Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2016! Dengan keberhasilan tersebut, artinya kamu sudah tercatat sebagai calon mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri (PTN) pilihanmu.

Setelah dinyatakan berhasil, bukan berarti lantas santai-santai. karena, pasca pengumuman hasil SBMPTN 2016, masih ada tahapan selanjutnya yang harus dilakukan hingga bisa dinyatakan benar-benar resmi masuk ke PTN tersebut. Berikut Tahapannya :

1. Cetak bukti kelulusan

Dibutuhkan atau tidak, usahakan untuk mencetak dan menyimpan bukti kelulusanmu tersebut. Bukti lulus SBMPTN 2016 itu menjadi dokumen yang penting, apalagi saat daftar ulang atau masa orientasi mahasiswa baru nanti.

2. Cek laman kampus

Begitu hasil SBMPTN 2016 diumumkan, segera cek laman PTN yang menerimamu. Lihat jadwal dan proses registrasi mahasiswa baru. Perhatikan apakah ada formulir online yang harus dilengkapi atau tidak. Biasanya, formulir online tersebut bertujuan untuk menentukan kelompok Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang diumumkan saat verifikasi nanti.

3. Siapkan dokumen

Lulus SBMPTN 2016 tidak langsung menjadikanmu mahasiswa di PTN penerima. Masih ada proses daftar ulang. Karena itu, mulai siapkan dokumen yang dibutuhkan untuk proses registrasi. Jika ijazah atau SKHUN-mu belum dilegalisasi, segera urus di sekolah masing-masing. Sedangkan beberapa dokumen yang biasanya diminta, yakni Kartu Keluarga (KK), akta kelahiran, pas foto, slip gaji orangtua, rekening listrik, dan lain sebagainya.

4. Verifikasi ke kampus

Usai pengumuman hasil SBMPTN 2016, PTN yang bersangkutan akan meminta calon mahasiswa baru langsung datang ke kampus untuk melakukan daftar ulang. Jangan lupa bawa semua kelengkapan berkas yang dibutuhkan. Pada tahap ini, akan dilakukan juga pemeriksaan kesehatan.

5. Berpenampilan rapi

Saat datang langsung ke kampus untuk daftar ulang, gunakan pakaian yang rapi. Gunakan kemeja berkerah dan sepatu. Selain itu, jagalah ketertiban lantaran di sana akan banyak calon mahasiswa yang lulus SBMPTN 2016 yang melakukan proses serupa.

Demikian tahapannya, semoga bermanfaat..

Enroll Now !
Information & Registration :
Jl. Ketintang Baru III No. 3 Surabaya
Phone : 031-8299413
Mobile : 081234441997
Ijin Dinas Pendidikan Kota Surabaya No. 188/7736/436.6.4/2014 

TERDAFTAR di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat ;
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan NPSN : P9908360
Follow Us on Twitter
Available on Google Play Store
www.homeschoolingpena.com