Thursday, 19 May 2016
Motivasi Dalam Belajar
Motivasi
sangat penting artinya dalam kegiatan belajar, sebab adanya motivasi
mendorong semangat belajar dan sebaliknya kurang adanya motivasi akan
melemahkan semangat belajar. Motivasi merupakan syarat mutlak dalam
belajar; seorang siswa yang belajar tanpa motivasi (atau kurang
motivasi) tidak akan berhasil dengan maksimal.
Motivasi
memegang peranan yang amat penting dalam belajar, Maslow (1945) dengan
teori kebutuhannya, menggambarkan hubungan hirarkhis dan berbagai
kebutuhan, di ranah kebutuhan pertama merupakan dasar untuk timbul
kebutuhan berikutnya. Jika kebutuhan pertama telah terpuaskan, barulah
manusia mulai ada keinginan untuk memuaskan kebutuhan yang selanjutnya.
Pada kondisi tertentu akan timbul kebutuhan yang tumpang tindih,
contohnya adalah orang ingin makan bukan karena lapar tetapi karena ada
kebutuhan lain yang mendorongnya. Jika suatu kebutuhan telah terpenuhi
atau perpuaskan, itu tidak berarti bahwa kebutuhan tesebut tidak akan
muncul lagi untuk selamanya, tetapi kepuasan itu hanya untuk sementara
waktu saja. Manusia yang dikuasai oleh kebutuhan yang tidak terpuaskan
akan termotivasi untuk melakukan kegiatan guna memuaskan kebutuhan
tersebut (Maslow, 1954).
Dalam
implikasinya pada dunia belajar, siswa atau pelajar yang lapar tidak
akan termotivasi secara penuh dalam belajar. Setelah kebutuhan yang
bersifat fisik terpenuhi, maka meningkat pada kebutuhan tingkat
berikutnya adalah rasa aman. Sebagai contoh adalah seorang siswa yang
merasa terancam atau dikucilkan baik oleh siswa lain mapun gurunya, maka
ia tidak akan termotivasi dengan baik dalam belajar. Ada kebutuhan yang
disebut harga diri, yaitu kebutuhan untuk merasa dipentingkan dan
dihargai. Seseorang siswa yang telah terpenuhi kebutuhan harga dirinya,
maka dia akan percaya diri, merasa berharga, marasa kuat, merasa
mampu/bisa, merasa berguna dalam didupnya. Kebutuhan yang paling utama
atau tertinggi yaitu jika seluruh kebutuhan secara individu terpenuhi
maka akan merasa bebas untuk menampilkan seluruh potensinya secara
penuh. Dasarnya untuk mengaktualisasikan sendiri meliputi kebutuhan
menjadi tahu, mengerti untuk memuaskan aspek-aspek kognitif yang paling
mendasar.
Guru
sebagai seorang pendidik harus tahu apa yang diinginkan oleh para
sisiwanya. Seperti kebutuhan untuk berprestasi, karena setiap siswa
memiliki kebutuhan untuk berprestasi yang berbeda satu sama lainnya.
Tidak sedikit siswa yang memiliki motivasi berprestasi yang rendah,
mereka cenderung takut gagal dan tidak mau menanggung resiko dalam
mencapai prestasi belajar yang tinggi. Meskipun banyak juga siswa yang
memiliki motivasi untuk berprestasi yang tinggi. Siswa memiliki motivasi
berprestasi tinggi kalau keinginan untuk sukses benar-benar berasal
dari dalam diri sendiri. Siswa akan bekerja keras baik dalam diri
sendiri maupun dalam bersaing dengan siswa lain.
Siswa
yang datang ke sekolah memiliki berbagai pemahaman tentang dirinya
sendiri secara keseluruhan dan pemahaman tentang kemampuan mereka
sendiri khususnya. Mereka mempunyai gambaran tertentu tentang dirinya
sebagai manusia dan tentang kemampuan dalam menghadapi lingkungan. Ini
merupakan cap atau label yang dimiliki siswa tentang dirinya dan
kemungkinannya tidak dapat dilihat oleh guru namun sangat mempengaruhi
kegiatan belajar siswa. Gambaran itu mulai terbentuk melalui interaksi
dengan orang lain, yaitu keluarga dan teman sebaya maupun orang dewasa
lainnya, dan hal ini mempengaruhi prestasi belajarnya di sekolah.
Berdasarkan
pandangan di atas dapat diambil pengertian bahwa siswa datang ke
sekolah dengan gambaran tentang dirinya yang sudah terbentuk. Meskipun
demikian adanya, guru tetap dapat mempengaruhi mapun membentuk gambarang
siswa tentang dirinya itu, dengan tujuan agar tercapai gambarang
tentang masing-masing siswa yang lebih positif. Apabila seorang guru
suka mengkritik, mencela, atau bahkan merendahkan kemampuan siswa, maka
siswa akn cenderung menilai diri mereka sebagai seorang yang tidak mampu
berprestasi dalam belajar. Hal ini berlaku terutama bagi anak-anak TK
atau SD yang masih sangat muda. Akibatnya minat belajar menjadi turun.
Sebaliknya jika guru memberikan penhargaan, bersikap mendukung dalam
menilai prestasi siswa, maka lebih besar kemungkinan siswa-siswa akan
menilai dirinya sebagai orang yang mampu berprestasi. Penghargaan untuk
berprestasi merupakan dorongan untuk memotivasi siswa untuk belajar.
Dorongan intelektual adalah keinginan untuk mencapai suatu prestasi yang
hebat, sedangkan dorongan untuk mencapai kesuksesan termasuk kebutuhan
emosional, yaitu kebutuhan untuk berprestasi.
Mengutip
pendapat Mc. Donald (Tabrani, 1992: 100), “motivation is energy change
within the person characterized by affective arousal and anticipatory
goal reaction.” Motivasi adalah sesuatu perubahan energi di dalam
pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi
untuk mencapai tujuan. Dari perumusan yang dikemukakan Mc. Donald ini
mengandung tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu: 1) motivasi dimulai
dari adanya perubahan energi dalam pribadi, 2) motivasi ditandai dengan
timbulnya perasaan (affective arousal), 3) motivasi ditandai oleh
reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan.
Dari
uraian di atas jelas kiranya bahwa motivasi bertalian erat dengan suatu
tujuan. Makin berharga tujuan itu bagi yang bersangkutan, makin kuat
pula motivasinya. Jadi motivasi itu sangat berguna bagi tindakan atau
perbuatan seseorang. Penjelasan mengenai fungsi-fungsi motivasi adalah:
1. Mendorong manusia untuk bertindak/berbuat. Motivasi berfungsi sebagai pengerak atau motor yang memberikan energi/kekuatan kepada seseorang untuk melakukan sesuatu.
2. Menentukan arah perbuatan. Yakni ke arah perwujudan tujuan atau cita-cita. Motivasi mencegah penyelewengan dari jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan. Makin jelas tujuan itu, makin jelas pula jalan yang harus ditempuh.
3. Menyeleksi perbuatan. Artinya menentukan perbuatan-perbuatan mana yang harus dilakukan, yang serasi, guna mencapai tujuan itu dengan menyampingkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan. (Ngalim Purwanto, 2002: 71)
1. Mendorong manusia untuk bertindak/berbuat. Motivasi berfungsi sebagai pengerak atau motor yang memberikan energi/kekuatan kepada seseorang untuk melakukan sesuatu.
2. Menentukan arah perbuatan. Yakni ke arah perwujudan tujuan atau cita-cita. Motivasi mencegah penyelewengan dari jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan. Makin jelas tujuan itu, makin jelas pula jalan yang harus ditempuh.
3. Menyeleksi perbuatan. Artinya menentukan perbuatan-perbuatan mana yang harus dilakukan, yang serasi, guna mencapai tujuan itu dengan menyampingkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan. (Ngalim Purwanto, 2002: 71)
Jenis-jenis motivasi1. Motivasi intrinsik,
yang timbul dari dalam diri individu, misalnya keinginan untuk mendapat
keterampilan tertentu, memperolah informasi dan pengertian,
mengembangkan sikap untuk berhasil, menyenangi kehidupan, keinginan
diterima oleh orang lain.
2. Motivasi ekstrinsik, yang timbul akibat adanya pengaruh dari luar individu. Sperti hadiah, pujian, ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian orang mau melakukan sesuatu. (Tabrani, 1992: 120)
2. Motivasi ekstrinsik, yang timbul akibat adanya pengaruh dari luar individu. Sperti hadiah, pujian, ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian orang mau melakukan sesuatu. (Tabrani, 1992: 120)
Lalu
bagaimanakan cara untuk meningkatkan motivasi siswa agar mereka
memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, khususnya bagi mereka yang
memiliki motivasi rendah dalam berprestasi. Ada beberapa strategi yang
bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa,
sebagai berikut:
1. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.
Pada permulaan belajar mengajar hendaknya seorang guru menjelaskan
mengenai Tujuan Instruksional Khusus (TIK) yang akan dicapai siswa.
Tidak cukup sampai di situ saja, tapi guru juga bisa memberikan
penjelasan tentang pentingnya ilmu yang akan sangat berguna bagi masa
depan seseorang, baik dengan norma agama maupun sosial. Makin jelas
tujuan, maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
2. Hadiah.
Berikan hadian untuk siswa-siwa yang berprestasi. Hal ini akan sangat
memacu siswa untuk lebih giat dalam berprestasi, dan bagi siswa yang
belum berprestasi akan termotivasi untuk mengejar atau bahkan
mengungguli siswa yang telah berprestasi. Hadiah di sini tidak perlu
harus yang besar dan mahal, tapi bisa menimbulkan rasa senag pada murid,
sebab merasa dihargai karena prestasinya. Kecuali pada setiap akhir
semester, guru bisa memberikan hadiah yang lebih istimewa (seperti buku
bacaan) bagi siswa ranking 1-3.
3. Saingan/kompetisi.
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk
meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi
yang telah dicapai sebelumnya.
4. Pujian.
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan
atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun. Bisa dimulai dari
hal yang paling kecil seperti, “beri tepuk tangan bagi si Budi…”, “kerja yang bagus…”, “wah itu kamu bisa…”.
5. Hukuman.
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses
belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa
tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
Hukuman di sini hendaknya yang mendidik, seperti menghafal, mengerjakan
soal, ataupun membuat rangkuaman. Hendaknya jangan yang bersifat fisik,
seperti menyapu kelas, berdiri di depan kelas, atau lari memutari
halaman sekolah. Karena ini jelas akan menganggu psikis siswa.
6. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar.
Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta
didik, khususnya bagi mereka yang secara prestasi tertinggal oleh siswa
lainnya. Di sini guru dituntut untuk bisa lebih jeli terhadap kondisi
anak didiknya. Ingat ini bukan hanya tugas guru bimbingan konseling (BK)
saja, tapi merupakan kewajiban setiap guru, sebagai orang yang telah
dipercaya orang tua siswa untuk mendidik anak mereka.
7. Membentuk kebiasaan belajar yang baik.
Ajarkan kepada siswa cara belajar yang baik, entah itu ketika siswa
belajar sendiri maupun secara kelompok. Dengan cara ini siswa diharapkan
untuk lebih termotivasi dalam mengulan-ulang pelajaran ataupun menambah
pemahaman dengan buku-buku yang mendukung.
8. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok. Ini bisa dilakukan seperti pada nomor 6.
9. Menggunakan metode yang bervariasi.
Guru hendaknya memilih metode belajar yang tepat dan berfariasi, yang
bisa membangkitkan semangat siswa, yang tidak membuat siswa merasa
jenuh, dan yang tak kalah penting adalah bisa menampung semua
kepentingan siswa. Sperti Cooperative Learning, Contectual Teaching
& Learning (CTL), Quantum Teaching, PAKEM, mapun yang lainnya.
Karena siswa memiliki tingkat intelegensi yang berbeda-beda satu sama
lainnya. Ada siswa yang hanya butuh 5 menit untuk memahami suatu materi,
tapi ada siswa yang membutuhkan 25 menit baru ia bisa mencerna materi.
Itu contoh mudahnya. Semakin banyak metode mengajar yang dikuasai oleh
seorang guru, maka ia akan semakin berhasil meningkatkan motivasi
belajar siswa.
10. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Baik itu media visual maupun audio visual.
Wednesday, 18 May 2016
Di Mana PKBM Penyelenggara Ujian di Kota saya?
Di Mana PKBM Penyelenggara Ujian di Kota saya?
Ujian Kesetaraan atau biasa disebut ujian Paket diselenggarakan di PKBM. Ujian Paket biasanya digunakan oleh anak-anak putus sekolah dan juga anak-anak homeschooling.Ada 3 jenis Ujian Paket yaitu Ujian Paket A setara SD, Ujian Paket B setara SMP, dan ujian Paket C setara SMA.
Lalu apa itu PKBM?
PKBM kepanjangannya adalah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. PKBM adalah sebuah lembaga nonformal (seperti sekolah) tempat diselenggarakannya Ujian Kesetaraan atau Ujian Paket. Lembaga itu biasanya ada di setiap kota. Ada PKBM negeri (milik pemerintah), ada juga PKBM swasta. Jadi seperti sekolah, ada sekolah negeri dan sekolah swasta.
Di mana PKBM tempat ujian Paket yang ada di dekat rumah saya? Apakah PKBM yang saya ikut sah atau abal-abal?
Masukkan data provinsi, kabupaten/kota, dan kecamatan Anda. Kemudian klik tombol “Cari”. Maka akan keluar data PKBM yang ada di daerah itu.
Tuesday, 17 May 2016
Mendikbud: jangan lewatkan hari tanpa membaca
Mendikbud: jangan lewatkan hari tanpa membaca
Mendikbud Anies Baswedan (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
"...harus membuat target mingguan, berapa banyak buku yang dibaca..."Koba (ANTARANews) - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan mengingatkan para siswa agar jangan melewatkan hari begitu saja, tanpa membaca dan menulis.
"Adik-adik sekalian harus membuat target mingguan, berapa banyak buku yang dibaca, dan berapa yang sudah kalian tuangkan dalam bentuk tulisan," ujarnya saat berkunjung ke SMP 1 Koba, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Selasa.
Ia mengatakan, untuk menjadi generasi muda yang cermerlang itu harus banyak membaca dan menulis, serta membiasakan kegiatan keduanya dalam keseharian.
"Kalian hanya biasa menulis lewat SMS atau WA saja, tetapi biasakan mengarang dan menulis yang dituangkan dalam bentuk tulisan," ujarnya.
Ia mengatakan, lomba literasi yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Bangka Tengah sangat bagus untuk menumbuhkan minat baca generasi muda.
"Untuk bisa menulis dan membaca itu harus dibiasakan, tidak hanya gemar saja tetapi harus membiasakan diri karena dengan terbiasa maka jadi bisa," ujar Anis.
Ia juga berpesan kepada siswa lebih sering mengunjungi perpustakaan mencari buku untuk literatur.
"Saya juga berpesan kepada adik-adik mengikuti kegiatan organisasi sekolah seperti OSIS dan kegiatan di luar sekolah juga," ujarnya.
Ia mengatakan, siswa itu tidak hanya belajar di dalam kelas saja tetapi juga di luar kelas belajar bermasyarakat dan bersosialisasi.
"Jangan nilai siswa hanya tinggi di sekolah saja, tetapi nilainya juga tinggi di luar kelas, sehingga anak Bangka Tengah menjadi generasi muda yang cemerlang," ujarnya.
PENGANTAR EVALUASI PROGRAM
PENGANTAR EVALUASI PROGRAM
APA ITU EVALUASI?
Lain orang lain pula pemaknaan mereka ketika menggunakan kata"
evaluasi". Mereka mungkin juga "melakukan" evaluasi dengan jalan yang
berbeda, menggunakannya untuk tujuan yang berbeda, atau penggunaan
standard berbeda untuk memutuskan apakah suatu evaluasi baik yang baik
harus kelihatan baik. Jika kamu ingin menunjukkan dengan tepat makna apa
yang dimaksudkan oleh seseorang , kamu harus menemukan sejumlah hal.
Ini adalah sepuluh pertanyaan yang akan membantu kamu meringkas apa
yang dimaksudkan seseorang ketika memperbicangkan tentang evaluasi. Kamu
dapat menggunakan sepuluh mempertanyakan ini untuk menemukan apa yang
orang lain maksudkan ketika mereka memperbicangkan tentang atau meminta
untuk kamu melakukan evaluasi. Paling utama, sepuluh pertanyaan ini akan
membantu kamu memperjelas apa yang kamu maksudkan ketika kamu
menggunakan kata" evaluasi" atau bagaimana kamu akan menggambarkan nya
dilain waktu jika kamu melihatnya.
- Bagaimana evaluasi didevinisikan? Apakah yang merupakan corak yang unik dari suatu evaluasi? Bagaimana anda mengetahui ketika kamu lihat satu? Bagaimana cara membedaknnya dengan berbagai hal seperti " pengukuran" atau " penelitian?" Apakah evaluasi yang mengajukan test dan daftar pertanyaan? Menyediakan informasi untuk pembuat keputusan? Menentukan apakah tujuan telah dicapai? Penilaian sesuai? Atau sesuatu yang lainnya?
Untuk pertanyaan ini, Anda bisa melihat definisi evaluasi yang dapat
diperoleh dari buku-buku yang ditulis oleh ahlinya, diantaranya,
definisi yang ditulis oleh Ralph Tyler, yaitu evaluasi adalah proses
yang menentukan sampai sejauh mana tujuan pendidikan dapat dicapai
(Tyler,1950:69). Menyediakan informasi untuk pembuat keputusan,
dikemukakan oleh Cronbach (1963), Stufflebeam (1971), juga Alkin (1969).
Maclcolm, Provus, pencetus Discrepancy Evaluation (1971),
mendefinisikan evaluasi sebagai perbedaan apa yang ada dengan suatu
standar untuk mengetahui apakah ada selisih. Akhir-akhir ini telah
dicapai sejumlah konsensus antar evaluator tentang arti evaluasi, antara
lain yaitu penilaian atas manfaat atau guna (Scriven, 1967; Glass 1969;
Stufflebeam, 1974). Joint Committee (1981) mendefinisikan evaluasi
sebagai penelitian yang sistematik atau yang teratur tentang manfaat
atau guna beberapa objek. Kelompok Konsorsium evaluasi Standford menolak
definisi evaluasi yang menghakimi (judgmental definition of
evaluation). Karena menurut mereka bukanlah tugas evaluator menentukan
apakah suatu program berguna atau tidak. Evaluator tidak dapat bertindak
sebagai wasit terhadap orang lain (Cronbach, 1982).
- Untuk apa evaluasi dilakukan? Kenapa evaluasi dilakukan? Apa tujuan evaluasi? Apa fungsi evalusi? Apakah itu dilaksanakan untuk melayani pengambilan keputusan? Untuk menyampaikan pertanggungjawaban? Untuk akreditasi atau sertifikasi? Untuk memotivasi orang-orang? Untuk merubah dan memperbaiki program? Atau untuk beberapa alasan lain?
Scriven (1967) orang pertama yang membedakan antara evaluasi formatif
dan evaluasi sumatif sebagai fungsi evaluasi yang utama. Kemudian
Stufflebeam juga membedakan sesuai dengan Scriven yaitu Proactive
evaluation untuk melayani pemegang keputusan, dan Retroactive evaluation
untuk keperluan pertanggungjawaban. Evaluasi mempunyai dua fungsi yaitu
formatif untuk keperluan perbaikan dan pengembangan kegiatan yang
sedang berjalan (program, orang, produk dan sebagainya). Fungsi sumatif
digunakan sebagai pertanggungjawaban, keterangan, seleksi dan atau
lanjutan.
- Apakah yang merupakan object evaluasi? Apa yang bisa atau harus dievaluasi? Apakah " berbagai hal" itu diharapkan untuk mengevaluasi para siswa, para guru, proyek, program, institusi atau sesuatu selain itu?
Hampir semua unit training dapat dijadikan objek suatu evaluasi. Siswa
atau mahasiswa sudah merupakan objek yang populer bagi evaluasi
pendidikan. Yang lain-lainnya seperti proyek atau program institusi
pendidikan yang sekarang menjadi objek evaluasi yang semakin populer.
Penting sekali untuk menentukan dan mengetahui apa yang akan dievaluasi.
Hal ini akan menolong untuk menentukan apa informasi yang dikumpulkan
dan bagaimana menganalisanya. Hal ini akan membantu pemfokusan evaluasi.
Rumusan tujuan yang jelas juga akan menghindari salah tafsir dan
kesalahpahaman.
- Apa aspek dan dimensi dari suatu obyek perlu penyelidikan evaluasi? Pertanyaan apa yang harus ditujukan tentang apapun juga yang dievaluasi? Apa jenis informasi yang harus dikumpulkan? Apakah aspek-aspek obyek sumber daya yang harus dievaluasi, dampak atau hasil, proses implementasi, staff dan klien, tujuan dan rencana, biaya dan manfaat, kebutuhan, karakteristik organisatoris, atau sesuatu selain itu?
Setelah memiliki objek yang akan dievaluasi, maka harus ditentukan
aspek-aspek apa saja dari objek tersebut yang akan dievaluasi. Di
waktu-waktu sebelumnya evaluasi berfokus kebanyakan atas hasil yang
dicapai, jadi untuk mengevaluasi objek pendidikan misalnya lokakarya,
berarti mengevaluasi hasil lokakarya yaitu hasil yang telah dicapai
peserta. Akhir-akhir ini usaha evaluasi ditujukan untuk memperluas atau
memperbanyak variabel evaluasi dalam bermacam-macam model evaluasi
(Stake, 1967; Stufflebeam, 1959, 1974; Alkin 1969; Provus, 1971). Model
CIPP dari Stufflebeam mengemukakan evaluasi yang berfokus pada empat
aspek yaitu:
1) Konteks
2) Input
3) Proses Implementasi
4) Produk
Karena pendekatan ini maka evaluasi lengkap terhadap evaluasi pendidikan
akan menilai misalnya: a) manfaat tujuannya, b) mutu rencana, c) sampai
sejauhmana tujuan dijalankan, dan d) mutu hasilnya. Jadi evaluasi
hendaknya berfokus pada tujuan dan kebutuhan, desain training,
implementasi, transaksi, dan hasil training.
- Kriteria apa harus digunakan untuk menilai suatu obyek? Bagaimana anda melakukan interpretasi terhadap penemuan itu? Bagaimana cara untuk mengumpulkan informasi? Bagaimana nantinya Anda memutuskan jika obyek adalah " baik" atau " tidak baik?" Apakah kriteria mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan, ketetapan kepada rencana, menjawab untuk mengidentifikasi kebutuhan, prestasi tentang tujuan sosial atau ideal, perbandingan dengan object alternatif, kesetiaan kepada hukum dan petunjuk, penyesuaian dengan harapan pendengar (audience), atau sesuatu selain itu?
Memilih kriteria yang akan dipakai untuk menilai objek evaluasi
merupakan tugas yang paling sulit dalam evaluasi pendidikan. Apabila
yang diacu hanya pencapaian tujuan, maka ini memang pekerjaan yang
mudah, namun ini baru sebagian daripada isu kriteria evaluasi.
Pencapaian tujuan-tujuan yang penting memang merupakan salah satu
kriteria yang penting. Kriteria lainnya yaitu identifikasi kebutuhan
dari klien yang potensial, nilai-nilai sosial, mutu, dan efisiensi
dibandingkan dengan objek-objek alternatif lainnya. Tampaknya ada
persetujuan diantara ahli evaluator bahwa kriteria yang dipakai untuk
menilai suatu objek tertentu hendaknya ditentukan dalam konteks objek
tertentu dan fungsi evaluasinya. Jadi hal-hal yang harus diperhatikan
dalam menentukan kriteria penilaian suatu objek adalah:
1) Kebutuhan, ideal, dan nilai-nilai
2) Penggunaan yang optimal dari sumber-sumber dan kesempatan.
3) Ketepatan efektifitas training
4) Pencapaian tujuan yang telah dirumuskan dan tujuan penting lainnya. Kriteria yang ganda (multiple) hendaknya sering dipakai
- Siapa yang harus dilayani oleh suatu evaluasi? Siapakah klien? Siapakah pendengar (audience) untuk evaluasi? Siapa yang membutuhkan informasi untuk dilayani? Apakah itu dilaksanakan untuk diri sendiri, para siswa, staff, agen pendanaan, kalayak ramai, atau sesuatu selain itu?
Supaya evaluasi betul-betul bermanfaat atau berguna, maka evaluasi itu
harus berguna untuk klien atau audien khusus. Kebanyakan literatur
evaluasi tidak menyarankan siapa audien yang tepat. Namun ada tiga hal
yang diusulkan penulis sehubungan dengan tulisan ini, yaitu:
1) evaluasi dapat mempunyai lebih dari seorang audien
2) masing-masing audien mungkin punya kebutuhan yang berbeda.
3) audien khusus kebutuhannya harus dirumuskan dengan jelas pada waktu memulai rencana evaluasi.
- Apa langkah-langkah dan prosedur dilakukan dalam melakukan suatu evaluasi? Bagaimana anda memulai suatu evaluasi dan bagaimana anda berproses? Langkah-langkah apakah yang utama dari suatu proyek evaluasi? Apakah itu urutan " terbaik" untuk melaksanakan suatu evaluasi?
Proses melakukan evaluasi mungkin saja berbeda sesuai persepsi teori
yang dianut, ada bermacam-macam cara. Namun evaluasi harus memasukkan
ketentuan dan tindakan sejalan dengan fungsi evaluasi yaitu:
1) Memfokuskan evaluasi
2) Mendesain evaluasi
3) Mengumpulkan evaluasi
4) Menganalisis informasi
5) Melaporkan informasi
6) Melaporkan hasil evaluasi
7) Mengelola evaluasi
8) Mengevaluasi evaluasi (meta evaluasi)
- Metode penemuan apa yang harus digunakan dalam evaluasi? Bagaimana anda mengumpulkan informasi? Disain penemuan seperti apa harus digunakan dalam evaluasi? Metodologi Apakah " yang terbaik" untuk test evaluasi dan daftar pertanyaan, panel tenaga ahli, disain bersifat percobaan, survey dan correlational studi, etnografi dan studi kasus, " dewan juri" percobaan, pendekatan naturalistic, atau beberapa pendekatan lain ?
Kiranya pendekatan electic (memilih berbagai metode dari beberapa
pilihan yang terbaik sesuai dengan kebutuhan) merupakan cara yang
terbaik. Yang dipilih hendaknya sesuai dengan situasi dan kondisi
setempat. Provus (1971) dan Stufflebeam (1971) memperkenalkan beberapa
variasi metode dalam evaluasi, di samping desain eksperimen dan kuasi
eksperimen yang tradisional (Campbell dan Stanley, 1963), dengan metode
naturalistik (Guba dan Lincoln, 1981; Patton,1980), Jury Trials
(Wolf,1975) dengan analisis sistem, dan banyak lainnya merupakan metode
yang sudah lazim dipakai dalam evaluasi program.
- Apa yang sebaiknya dilakukan evaluasi? Penilai seperti apa yang Anda perlukan dipekerjakan? Ketrampilan seperti apa perlu dimiliki oleh seorang evaluator? Apa yang menjadi otoritas dan tanggung-jawab dari seorang penilai? Perlukah spesialis evaluasi atau suatu ahli bidang untuk dilibatkan dalam evaluasi, staff reguler, atau sesuatu selain itu?
Untuk menjadi kelompok profesional evaluator dituntut mempunyai
ciri-ciri tertentu yang memerlukan latihan yang memadai. Untuk menjadi
seorang evaluator yang kompetendan dapat diandalkan ia harus mempunyai
kombinasi berbagai ciri, antara lain: mengetahui dan mengerti teknik
pengukuran, dan metode penelitian, mengerti tentang kondisi sosial, dan
hakikat objek evaluasi, mempunyai kemampuan human relation, jujur, serta
bertanggung jawab. Karena sulit mencari orang yang mempunyai begitu
banyak kemampuan, maka sering evaluasi dilakukan oleh suatu tim.
- Dengan standar apa evaluasi dinilai? Bagaimana anda mengetahui bahwa evaluasi yang anda lakukan adalah evaluasi yang baik? Apakah karakteristik suatu evaluasi? Bagaimana anda mengevaluasi suatu evaluasi? Perlukah evaluasi menjadi bermanfaat dan praktis, menyediakan informasi dapat dipercaya dan akurat, realistis, hemat dan bijaksana, diselenggarakan menurut hukum dan secara etis, objektif dan ilmiah, atau haruskah hal lain? Seperti yang disebutkan pada awal bagian ini, kesepuluh pertanyaan ini dapat digunakan untuk berbagai tujuan, tetapi terdapat dua cara di mana yang sepuluh pertanyaan dapat lebih bermanfaat:
- Digunakan untuk mengatur persepsi Anda sendiri, apa yang Anda maksud dengan evaluasi.
- Digunakan untuk memahami orang lain apa yang dimaksud dengan evaluasi oleh orang lain.
Akhir-akhir ini telah dicoba pengembangan standar untuk kegiatan
evaluasi pendidikan. Standar yang paling komprehensif dan rinci
dikembangkan oleh Committee on Standard of Educational Evaluation (Joint
committee, 1981)
Dengan ketuanya Daniel Stufflebeam, yaitu:
1) Utility (bermanfaat dan praktis)
2) Accuracy (secara teknik tepat)
3) Feasibility (realistik dan teliti)
4) Propriety (dilakukan dengan legal dan etik)
Berita Resmi: Ujian Nasional (UN) SD/MI dihapus
Berita Resmi: Ujian Nasional (UN) SD/MI dihapus
Ujian Nasional (UN tingkat SD sederajat dihapus. Sumbernya adalah Peraturan Pemerintah (PP) nomor 32 tahun 2013 yang ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 7 Mei 2013. Nama lengkap PP-nya adalah “Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 32 tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.”Naskah PP 32/20013 ini bisa diunduh di SINI
Berita tentang hal ini juga sudah dimuat di berbagai media, antara lain:
Penghapusan UN tingkat SD dan sederajat itu bisa dibaca pada pasal 67 ayat 1a. Untuk lebih jelasnya, begini bunyi yang termaktub dalam PP 32/2013 pasal 67 ayat 1 & 1a.
(1) Pemerintah menugaskan BSNP untuk menyelenggarakan Ujian Nasional yang diikuti Peserta Didik pada setiap satuan pendidikan jalur formal pendidikan dasar dan menengah, dan jalur nonformal kesetaraan.
(1a) Ujian Nasional untuk satuan pendidikan jalur formal pendidikan dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan untuk SD/MI/SDLB atau bentuk lain yang sederajat.
(c) www.desain-logo.us
***
Peraturan itu agak mengejutkan. Sebelum ini tak ada wacana serius
yang dikeluarkan oleh pemerintah mengenai penghapusan Ujian Nasional
tingkat SD. Bahkan, dari berita Detik kemarin (14/5), Mendikbud masih membantah tentang penghapusan Ujian Nasional SD dengan alasan belum dikonvensikan.Tapi bantahan itu aneh. Bagaimana mungkin menteri membantah Peraturan Pemerintah yang sudah tertulis dan secara jenjang peraturan perundangan berada di atasnya. Jangan-jangan pak Menteri belum membaca PP yang baru? Lho, kalau pak Menteri tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, terus yang membuat draft PP itu siapa?
***
Anyway, terus apa konsekuensinya?Kita belum tahu bagaimana implementasi dari PP ini karena untuk menjalankan PP ini dibutuhkan aturan yang lebik teknis berupa Peraturan Menteri dan peraturan lain yang berada di bawahnya.
Tapi kalau boleh membayangkan dan memperkirakan, kemungkinan yang akan terjadi adalah seperti ini:
1. Tak ada lagi UN/Unas tingkat SD
Ujian nasional yang berlaku standar, terpusat, dan berskala nasional untuk tingkat SD dan sederajad tak ada lagi mulai tahun 2014.
2. UN SD digantikan Ujian tingkat sekolah
Evaluasi belajar pada SD (K-6) tetap ada, tapi akan dilangsungkan oleh sekolah. Evaluasi kelulusan bukan berdasarkan hasil UN atau campuran UN + Ujian sekolah, tetapi murni berdasarkan ujian sekolah.
3. SD-SMP disatukan?
SD dan SMP adalah pendidikan dasar dan oleh karenanya peralihan dari SD ke SMP (kelas 6 ke kelas 7) sebenarnya hanya merupakan kenaikan kelas.
Problemnya, saat ini lembaga SD dan SMP dipisahkan. Sekolah negeri itu antara SD dan SMP terpisah. Di swasta, kalau sekolahnya punya SD-SMP, mungkin tinggal disatukan. Tapi ada sekolah yang hanya punya SD dan tak punya SMP. Ini terus bagaimana proses teknis pindah/naik kelas ke kelas 7 (SMP)?
Apakah SD akan disatukan dengan SMP?
Atau, kita kembali lagi ke model yang dulu: untuk masuk ke SMP melalui ujian masuk? Kelihatannya sih ini yang paling mungkin.
4. Bagaimana dengan homeschooler & non-formal?
Dengan penghapusan ujian SD, berarti tak ada lagi ijazah Paket A (tingkat SD). Kalau pun masih ada, berarti ijazah Paket A itu dikeluarkan oleh lembaga non-formal (PKBM, SKB, dll). Begitu kah? Kita sama-sama belum tahu.
Terus, berarti Ujian Nasional untuk anak-anak homeschooling nanti berada pada tingkat SMP, donk? Begitu kira-kira kalau membaca PP yang baru ini.
Menurutku ini menarik. Apalagi kalau wajib belajarnya menjadi 12 tahun sehingga anak baru diuji di jenjang SMA. Kalau seperti ini, modelnya jadi mirip sistem Cambridge yang digunakan di lebih 150 negara. Ujian tingkat SD dan SMP bersifat optional (tidak wajib). Ujian sebagai dasar untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi ada di SMA (K-10-K-12), yang dikenal dengan ujian IGCSE/O Level dan A Level (Advanced Level).
Apakah kita akan mengarah ke sana?
***
Mari kita tunggu saja bagaimana pemerintah akan mengatur hal ini.
Yang penting, berita saat ini adalah: sekarang sudah tak ada UN SD lagi.Jadi para murid, guru, dan kepala sekolah tak perlu khawatir dan tak perlu terjebak pada contekan massal sebagaimana yang terjadi pada beberapa kasus di sekolah
Apa yang perlu diperhatikan untuk pengembangan minat & bakat anak?
Apa yang perlu diperhatikan untuk pengembangan minat & bakat anak?
Minat adalah pintu besar untuk stimulasi perkembangan anak. Melalui hal-hal yang diminati, anak bisa melakukan sebuah hal dalam jangka waktu lama. Aneka proses belajar bisa dilakukan dengan menggunakan minat sebagai pintu masuknya. Kualitas belajar pun bisa menjadi luar biasa karena anak menikmati kegiatannya.
Contoh yang paling sering muncul adalah yang berkaitan minat anak pada dunia seni seperti menari, menyanyi, atau teknologi komputer. Anak-anak yang suka komputer tahan berlama-lama di depan komputer. Dengan stimulasi yang tepat, anak-anak ini bisa melejit kemampuannya di bidang komputer sejak usia muda.
Antara Minat & Bakat
Minat adalah perihal ketertarikan pada sebuah hal, bakat perihal keahlian dan kemampuan menghasilkan ouput. Bakat juga adalah kapasitas belajar yang luas dan cepat tentang sebuah hal.Minat dipengaruhi oleh faktor lingkungan (sehingga bisa berubah-ubah), bakat lebih bersifat internal, berupa karunia Tuhan yang lebih menetap. Idealnya kita menemukan bakat anak, tapi yang ini lebih susah diperoleh. Yang lebih mudah adalah mengenali minat anak dari hal-hal sehari-hari yang menjadi ketertarikannya, yang membuat matanya berbinar-binar, yang membuatnya tahan melakukannya dalam jangka waktu lama.
Berbicara tentang minat sebagai pintu masuk stimulasi pengembangan anak, ada beberapa pertanyaan yang sering diajukan orangtua:
- apa peran utama orangtua dalam pengembangan minat & bakat?
- apa yang bisa dilakukan dengan minat anak?
- bagaimana kalau minat berubah?
Peran Orangtua dalam pengembangan minat & bakat
Peran utama orangtua dalam proses pengembangan minat dan bakat anak adalah memaparkan, memfasilitasi, dan mengapresiasi. Secara sederhana, peran utama orangtua adalah menyediakan lingkungan dan lahan yang subur untuk pertumbuhan minat & bakat anak.Memaparkan pada keragaman dunia
Karena jangkauan anak masih pendek, maka
tugas orangtua adalah memaparkan anak dengan aneka jenis pengalaman.
Tujuannya adalah memperluas wawasan anak dan membuka pintu-pintu
ketertarikannya agar tidak terbatas hanya pada hal-hal yang ada di
rumahnya saja. Perjalanan (travelling) ke berbagai kota adalah salah
satu jenis kegiatan yang bisa digunakan untuk menstimulasi dan
memaparkan anak dengan aneka hal yang ada di dunia, tidak terbatas pada
mata pelajaran seperti yang diajarkan di bangku sekolah.
Saat memaparkan, kita tidak pernah tahu
apa yang menarik dan akan berkesan pada anak hingga dewasa. Jadi, tugas
kita adalah memaparkan dan memaparkan. Ini seperti kisah Einstein masa
keci yg disebut Howard Gartner crystallizing experiences, pengalaman
yang menggerakkan.
Alkisah, saat usia 4 tahun Einstein
mendapat hadiah kompas dari ayahnya. Ternyata kompas itu sangat berkesan
bagi Einstein dan membawa pengaruh besar dalam ketertarikannya pada
dunia sains.
Memfasilitasi Minat Anak
Jika anak sudah menunjukkan minat pada
hal tertentu, peran orangtua adalah memfasilitasinya. Minat itu bisa
dilihat dari tanda-tanda:
- sering dibicarakan/dilakukan
- anak menikmati prosesnya
- anak bertumbuh kemampuannya
Saat memfasilitasi, tantangan terbesar
orangtua adalah mencari titik temu antara minat anak dan kemampuan
sumber daya orangtua. Dalam keterbatasan kondisi orangtua, di sinilah
kebutuhan akan kreativitas untuk mencari jalan, alternatif, dan
substitusi.
Mengapresiasi Kegiatan Anak
Sebuah hal yang ditekuni dan dikerjakan
anak sepatutnya mendapat apresiasi. Jika hasilnya belum bagus dalam
kacamata orangtua, setidaknya orangtua dapat memberikan apresiasi untuk
inisiatif, kerja keras, ide, kreativitas, atau perhatian yang diberikan
anak. Jangan orangtua malah langsung mengkritik, merendahkan, atau
mematikan inisiatif anak.
Apresiasi adalah ibarat pupuk yang
menyuburkan tanah. Dia bermanfaat, tapi juga perlu dijaga agar tidak
berlebihan karena segala yang berlebihan pasti berdampak buruk.
Yang penting diperhatikan dalam proses
apresiasi adalah tujuannya untuk memberikan kenyamanan pada anak atas
inisiatif dan hal yang dilakukan. Anak didorong untuk mandiri dan
berlatih mengambil keputusan sendiri. Kesalahan terjadi pada apresiasi
jika apresiasi itu sampai menimbulkan ketergantungan anak
pada persetujuan dan pujian orangtua.
Apa yang bisa dilakukan orangtua?
Selain memaparkan anak dengan aneka hal dan kegiatan pada anak, apa yang bisa dilakukan pada hal-hal yang sudah menjadi ketertarikan anak, misalnya: robot, tokoh kartun, game, dan sebagainya?Setidaknya ada 4 hal yang bisa dilakukan orangtua:
Mengubah konsumsi ke produksi
Minat anak biasanya terkait dengan
kegiatan mengkonsumsi (memasukkan dari luar ke dalam), misalnya
menonton, bermain, membaca, dan sejenisnya. Kegiatan-kegiatan tersebut
dapat diubah menjadi kegiatan produksi (mengeluarkan dari diri anak),
misalnya: bercerita, bernyanyi, presentasi, menulis, membuat sesuatu.
Membahaskan & memperdalam
Kegiatan yang dapat dilakukan orangtua
untuk mengubah kegiatan konsumsi menjadi produksi adalah dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada anak untuk mengeluarkan
informasi yang ada dalam dirinya menjadi sebuah pengetahuan. Minta anak
untuk menjawab pertanyaan Anda tentang hal yang digeluti, minta anak
untuk menceritakan, menuliskan, atau melakukan presentasi hal-hal yang
diketahuinya. Proses itu bisa sesederhana percakapan spontan 3 menit,
bisa kompleks dalam bentuk presentasi yang harus dipersiapkan
sebelumnya.
Memperkaya dengan kegiatan lain
Sebuah hal yang diminati anak juga bisa
diperkaya dengan menghubungkannya dengan kegiatan belajar yang lain.
Sebagai contoh, minat anak pada robot dijadikan sarana belajar
matematika robot, membaca tentang robot (literasi), cara kerja robot
(IPA), dan sebagainya. Anda juga mengekspos anak dengan ahli melalui
pertemuan langsung, karya ahli, atau video/film yang membahas tema yang
disukai anak.
Bagaimana kalau minat anak berubah?
Nah, ini pertanyaan yang sering diajukan orangtua. Apalagi kalau minat anak berkaitan dengan sumber daya (dana & waktu) yang harus dialokasikan secara khusus oleh orangtua. Apakah semua minat anak harus difasilitasi?Hal pertama yang perlu diketahui, perubahan-perubahan minat anak adalah hal yag wajar dan alami. Sebagian besar anak mengalaminya. Seiring pertambahan usia anak, biasanya variasinya akan semakin mengerucut. Jika orangtua mengamati perkembangan anak, mereka biasanya akan melihat benang merah dari hal yang berubah-ubah itu.
Yang kedua, anak secara umum bersifat adaptif. Mereka pandai menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada di sekitarnya. Tugas orangtua bukan memanjakan anak atau membatasi, tetapi mengkomunikasikannya kepada anak. Proses ini juga merupakan bagian dari pendidikan mengenai empati kepada anak.
Yang ketiga, perubahan minat anak dapat menjadi pintu untuk proses belajar tentang negosiasi. Orangtua dan anak belajar membuat kesepakatan-kesepakatan bersama. Kesepakatan itu bisa berupa kapan boleh berganti, apa syarat berganti, apa konsekuensi dari pergantian?
Proses ini akan menguatkan anak dan mengajarkan anak tentang konsekuensi dan ketangguhan.
Subscribe to:
Posts (Atom)

