Monday, 16 January 2017

Rahasia Hidup Bahagia Dengan Menjadi Diri Sendiri


HOMESCHOOLING PENA  
Setara ( SD/SMP/SMA ) 
TERAKREDITASI - BAN PNF

Rahasia Hidup Bahagia Dengan Menjadi Diri Sendiri

HomeschoolingPena Surabaya, 16 Januari 2017,

Kita mulai dengan pertanyaan mudah, apakah anda bahagia? Mau dijawab iya, tetapi sering banyak masalah. Mau dijawab tidak, kok rasanya hidup terasa tidak relevan jika dijawab tidak bahagia. Bukankah bahagia merupakan alasan klasik banyak orang.
Bahagia akan membawa kualitas hidup seseorang menjadi lebih baik, karena ada semangat, harapan, dan keceriaan dalam hidup. Anak yang dibiasakan dan dididik dengan bahagia akan menjadi anak yang cerdas dan kreatif.
Bahagia itu menular, sama halnya dengan ketakutan dan kekhawatiran. Misalnya, anda tersenyum menyapa orang lain dengan tulus, biasanya akan membalas senyuman anda, memuji penampilan teman dengan baik biasanya akan meningkatkan intensitas rasa bahagianya, memberikan bantuan kecil juga bisa membantu menjadikan orang lebih bahagia.
Bahagia itu seperti jatuh cinta, saat anda jatuh cinta terhadap orang, barang, atau pekerjaan semua terasa baik, dijalankan dengan penuh semangat dan ceria. Nah, pada kondisi seperti ini biasanya “performa” seseorang akan sangat baik. Jika orang itu bekerja di kantor maka hasilnya akan maksimal.
Karena bahagia bisa ditularkan, maka pertanyaannya adalah apakah orangtua anda bahagia? Apakah keluarga anda bahagia? Jadikan ini sebagai perenungan sesaat.
Mengapa orang tidak bahagia? Satu jawaban yang mudah adalah, karena tidak menjalani hidup sebagaimana mestinya. Atau yang lebih parah lagi, tidak tahu maksud hidupnya. Tidak menjalani hidup sebagaimana mestinya. Tidak paham, mengapa dia harus ada di dunia ini, dan apa fungsi hidupnya.Ada orang yang merasa jatuh cinta dengan musik, tetapi sekolahnya adalah akuntansi (karena desakan orang tua), sehingga dia menjalani hidup terasa berat. Seperti ikan yang harus hidup di dalam air, tetapi dipaksa hidup di darat.Atau seorang yang sangat suka dengan olah raga, katakanlah sepak bola, tetapi dipaksa belajar ilmu hukum. Apakah dia bisa perform dengan baik dalam sekolahnya? Bisa maksimal dalam sekolahnya? Tidak bisa.Biasanya pada titik tertentu akan terjadi kejenuhan dan off sementara. Keadaan off merupakan keadaan dimana hidup begitu menjemukan, bosan, dan membuat frustasi.Bagaimana mengatasi semua ini? Ambil sikap untuk tidak perlu menyalahkan orang lain, walau hidup ini terkadang menjadi salah kaprah karena ulah dan kontribusi orang lain. Berespon tenang dan baik dulu. Marah dan menyalahkan seringkali tidak membuat keadaan menjadi lebih baik.
Kembangkan kesadaran bersyukur. Anda perlu disiplin dalam bersyukur, lakukan secara sengaja dan rutin. Bukan hanya anak saja, tetapi orangtua juga perlu. Lakukan saja secara rutin.Tulis 10 hal yang anda syukuri hari ini, misalnya “Saya mensyukuri udara yang sejuk dan bersih, saya mensyukuri adanya makanan yang layak, saya mensyukuri adanya pekerjaan hari ini, tubuh yang sehat, uang yang tersedia, dan masih banyak lagi.”

Baca juga Mewujudkan Pendidikan Karakter Yang Berkualitas

Saat anda bersyukur anda berterima kasih, saat berterima kasih anda seakan-akan menerima suatu kebaikan dalam hidup. Entah itu lingkungan yang nyaman, udara yang bersih dan lain-lain. Saat hal ini dibiasakan, maka temperatur bahagia dalam hidup anda otomatis meningkat. Mudah bukan?
Kita tidak dibiasakan dan diajarkan disiplin untuk bersyukur. Padahal ini penting, untuk performa keseharian kita dalam beraktivitas. Bagi anda seorang guru yang membaca tulisan ini, mungkin ini bisa menjadi tips untuk dilakukan di sekolah.
Bagi orangtua, setiap anak biasanya sudah bisa diamati apa yang menjadi minat dan bakatnya. Jika anda egois untuk menetapkan tujuan dan standar anda pada anak, secara tidak langsung anda sedang merusak masa depannya yang bahagia. Jika anak anda suka dengan musik tetapi anda paksakan belajar dan sekolah bisnis maka anda sedang memendam bakatnya.
Tahukah anda, bahwa di masa sekarang ini, setiap minggunya ada 5 profesi lama yang hilang dan muncul 7 profesi baru. Contohnya, sekarang penjaga pintu tol sudah mulai digantikan dengan mesin, begitu pula penjaga karcis parkir, dan lain-lain.Jangan paksa anak hidup di jaman anda, atau jaman pola pikir anda. Bebaskan kreatifitas dan minat mereka berkembang, sebab di jamannya akan sangat berbeda dengan masa kini.
Saya sempat berbicara kepada pemilik salon langganan saya yang saya kenal baik selama 5 bulan. Dia bercerita dan berkonsultasi kepada saya setelah mengetahui latar belakang saya sebagai pendidik. Anaknya yang berusia 13 tahun, sudah membongkar 2 laptop senilai 4 jutaan dan 8 jutaan.
Tetapi orangtua yang baik ini tidak menyerah, dia tahu kesukaan anaknya. Dia ingin mencarikan sekolah terbaik untuk anaknya belajar hardware dan software computer, mulai mau diarahkan dari sekarang sesuai kehendak anaknya. Sang anak juga diajak diskusi tentang kesukaan dan studinya. Senang saya mendengar hal ini. Anak yang tahu tujuannya dan orangtua yang benar-benar dewasa.
Bagaimana dengan anda? Anda peduli dengan kebahagiaan anak anda? Anda dapat mengikuti tes kepribadian secara gratis di website ini. Tes ini dapat membantu anda dalam mengenal dan berkomunikasi lebih baik dengan anak anda.
Semoga bermanfaat.

Sumber : Thimoty Wibowo

Enroll Now !

Information & Registration :
Jl. Ketintang Baru III No. 3 Surabaya
Phone : 031-8299413
Mobile : 081234441997
Ijin Dinas Pendidikan Kota Surabaya No. 188/7736/436.6.4/2014 

TERDAFTAR di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat ;
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan NPSN : P9908360
Follow Us on Twitter
Available on Google Play Store
www.homeschoolingpena.com 



Friday, 13 January 2017

4 Langkah Tepat Memberikan Konsekuensi Pada Anak



HOMESCHOOLING PENA  
Setara ( SD/SMP/SMA ) 
TERAKREDITASI - BAN PNF


4 Langkah Tepat Memberikan Konsekuensi
Pada Anak

Homeschooling Pena Surabaya, 14 Januari 2017
Pernahkah anak anda menumpahkan air di karpet atau memecahkan gelas di rumah? Situasi seperti ini pasti pernah terjadi dan sangat wajar sekali apabila terjadi di rumah dan ternyata anak anda yang melakukannya. Tetapi seringkali yang tidak wajar adalah bagaimana cara orangtua memberikan konsekuensinya.Dengan alasan memberikan pelajaran tentang disiplin, seringkali bukan pemahaman disiplin yang diterima anak, tetapi perasaan dendam dan amarah terhadap orangtuanya. Ini seperti anda berkata I Love You tetapi dikatakan dengan cara membentak, teriak, dan muka yang marah. Apakah dengan itu anak anda akan menangkap pesan bahwa dia dicintai?

Mari kita pahami langkah dalam memberikan konsekuensi yang tepat, ini bukan hanya untuk anak yang kecil saja, tetapi bisa untuk remaja dan dewasa. Yang kami berikan adalah prinsip. Prinsip yang sehat dan tetap menjaga harga diri anak, serta tidak akan meninggalkan luka di batin anak.

1. Fokus Pada Permasalahan

Untuk kasus karpet yang terkena air, maka konsekuensi yang tepat adalah membersihkannya hingga kering, dan waktu disepakati untuk mengerjakannya. Waktu perlu disepakati, karena hal ini bisa digunakan anak untuk menghindari kewajibannya, misalnya untuk menghindari les dan lebih memilih membersihkan karpet. Gunakan waktu bermain atau waktu santai, untuk mengerjakannya.
Hindari memberikan konsekuensi yang tidak ada kaitannya, misalnya tidak boleh nonton televisi selama 2 minggu atau tidak mendapat uang jajan 3 hari. Jangan melampiaskan marah berlebih yang akibatnya hanya memperpanjang daftar konsekuensi. Saat fokus pada masalah, maka mudah bagi anak tahu dan jelas dimana kesalahannya.

2. Wajar dan Masuk Akal

Sesuaikan dengan kemampuan dan usia anak, jika usia anak masih balita akan sulit untuk membersihkan dan menjemur karpet sendirian, perlu dibantu dan diberikan contoh mengerjakannya.
Mungkin anda khawatir anak tidak jera, jika dibantu? Dengan membantu anak saat mengerjakan konsekuensi, hal ini dapat menumbuhkan kedekatan emosional dan pengertian anak terhadap orangtuanya. Ada waktu bersama, asalkan orangtua tidak mengomel terus saat mengerjakan bersama.
Anda tidak perlu mencari efek jera bagi anak, waktu yang digunakan untuk membersihkan karpet sudah membuat dia berada di luar zona nyamannya.
3. Memberikan Pengalaman Belajar

Tujuan konsekuensi memberikan pengalaman belajar dari tidak paham menjadi paham. Memang sebelum konsekuensi diberikan sebaiknya sudah ada aturan yang menjelaskan mana perilaku yang baik dan tidak baik.
Jika informasi sudah diterima tetapi tetap dilanggar mana konsekuensi bisa dijalankan. Konsekuensi hanyalah sarana untuk mempertegas bahwa perilaku seseorang ada yang salah dan harus segera diperbaiki. Bukan sarana orangtua untuk melampiaskan kemarahan.Bukan selalu mengungkit-ungkit kesalahan yang sudah lewat, tetapi pada saat kejadian, dan saat menjalankan konsekuensi beri pengertian bahwa hal ini salah. Berikan penjelasan yang benar bagaimana melakukan yang benar (membawa gelas saat jalan). Setelah selesai konsekuensi, sebaiknya tidak dibicarakan lagi.

4. Menjaga Harga Diri

Hindari membentak, memaki dan berkata kasar kepada anak, apalagi jika didepan orang lain. Hindari menceritakan kesalahan anak berulang-ulang kepada orang lain.   
Kedua hal ini bisa merusak harga diri anak dan bisa fatal akibatnya.
Jika anda sudah memiliki aturan dan konsekuensi yang jelas keteraturan dan disiplin anak akan terbentuk dengan baik. Sudahkah anda memiliki aturan dirumah beserta konsekuensinya? Bingung?
Seperti dijalan raya, ada lampu merah dan tanda dilarang parkir, dilarang berhenti, dan masih banyak lagi. Anda jelas dengan aturannya bukan? Jika anda langgar ada konsekuensinya kan? Konsekuensinya jelas, tilang dan denda.
Polisi tidak perlu memaki anda, memukul anda jika anda melanggar bukan? Dan semua pengguna jalan raya paham informasi serta tanda aturan dijalan raya, jadi saat pemberian konsekuensi semua jelas.

Semoga artikel ini bermanfaat dalam membentuk karakter anak.

Sumber  : Timothy Wibowo

Enroll Now !

Information & Registration :
Jl. Ketintang Baru III No. 3 Surabaya
Phone : 031-8299413
Mobile : 081234441997
Ijin Dinas Pendidikan Kota Surabaya No. 188/7736/436.6.4/2014 

TERDAFTAR di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat ;
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan NPSN : P9908360
Follow Us on Twitter
Available on Google Play Store
www.homeschoolingpena.com 

Cara Mengatasi Anak Tidak Tahu Diri



HOMESCHOOLING PENA  
Setara ( SD/SMP/SMA ) 
TERAKREDITASI - BAN PNF


9 Cara Mengatasi Anak Tidak Tahu Diri


Homeschooling Pena Surabaya, 13 Januari 2017

“Di meja makan ada kue bolu, sudah dibagi 4, jatah kamu satu ya” kata ibu kepada Dimas. “Biar Ayah, dan adik makan setelah mereka pulang. Yang satu lagi buat Ibu, jadi teman minum teh.” Tidak berapa lama kemudian, Ibu ke meja makan untuk ambil gelas dan dilihatnya kue bolu tinggal satu.Terlalu kasar bila mengatakan kejadian ini sebagai tindakan tidak tahu diri jika terjadi di rumah. “Ah cuma kue bolu, berapa sih harganya? Hanya makanan saja? Ada makanan yang lain” Dan ada banyak alasan untuk menetapkan bahwa hal ini sepele. Tetapi, jika ini dibiarkan dan terjadi diluar rumah? Kebanyakan akan mendapat label tidak tahu diri.
Karena masih kecil, masalah kue saja bisa sepele. Jika dibiarkan terus masalah ini tidak sepele. Menyerobot antrian, buang sampah sembarangan, jalan di taman dan menginjak tanaman untuk mendapat “shortcut”, tidak tepat waktu, dan banyak hal yang batasnya dilewati. Tidak tahu diri.
Pernah suatu kali di depan pagar rumah saya, ada tamu tetangga yang memarkirkan mobil persis di pintu pagar saya. Sehingga saya tidak bisa keluar. Jujur saya jengkel, karena ada lahan parkir di depan rumah tetangga, yang tidak digunakan, tetapi mengapa parkir di depan pagar saya persis? “Dasar tidak tahu diri” jerit saya dalam hati.
Manusia saat lahir tidak disertai program tahu diri, yang namanya “Tahu Diri” harus dipelajari. Tahu diri dipelajari dengan mengetahui batasan, batasan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Ini adalah pengertian mudahnya.Awalnya, manusia harus tahu dan belajar mengenai batasan. Saat orang tahu batasan, maka orang akan berkata “Iya, dia orang yang tahu diri, tahu menempatkan dirinya.” Orang yang tahu diri akan mudah disukai dan diterima oleh sesamanya. Bagaimana mengajarkan anak agar tahu diri sedini mungkin?

Ada 9 prinsip, untuk mengajarkan konsep ini. Dan konsep tahu diri perlu ditegakkan dengan cara membuat batasan yang jelas. Maksud dari batasan yang jelas adalah, adanya aturan dan konsekuensi yang jelas dan tegas jika batasan dilaggar.

Baca juga Pentingnya Membangun Lingkungan Berkarakter

Berikut panduan membuat anak tahu diri.
1. Libatkan anak saat membuat aturan dan batasan, lakukan diskusi dan negosiasi yang membangun.
2. Fokus pada hal yang dianggap penting, sesuai usia anak, dan pastikan anda sudah siapkan alasan yang tepat bagi anak dan konsisten. Alasan dari ayah dan ibu sama, dan jawaban tidak boleh berubah, pastikan jawaban yang mendidik dan membangun.
3. Hanya sedikit anak yang mampu mengingat batasan dan aturan yang anda tetapkan, jadi ulangi di setiap kesempatan dengan cara yang tidak menggurui, misalnya saat makan di restoran kesukaannya atau saat akan nonton bioskop.
4. Berikan contoh, dan katakan bahwa ini adalah budaya, nilai yang dianut dikeluarga ini. Misal, anda meminta anak tepat waktu, maka sebaiknya dimulai dari orangtua. Buang sampah pada tempatnya, dan lain-lain.
5. Nyatakan dengan positif, bukan dengan ancaman (konsekuensi) yang akan didapat, tetapi tumbuhkan sikap untuk melakukan perilaku baru. Tunjukan keuntungan dengan melakukan hal yang baik. Hindari mengungkit kesalahan-kesalahan yang lalu, tumbuhkan percaya diri anak dengan melihat ke depan, bukan ke belakang.
6. Jelaskan konsekuensi dengan jelas, jika anak dan orangtua melanggar batasan. Bagaimana konsekuensi berlangsung, dan kapan konsekuensi berakhir. Sebaiknya konsekuensi bukan menghukum fisik, tetapi mengambil hak atau sesuatu yang menyenangkan, misalnya dengan mengurangi jam bermain, mainan kesukaannya disita, menyapu halaman di sore hari selama tiga hari (mengurangi jam bermain disore hari).
7. Dibuat tertulis secara jelas dan diletakkan di tempat yang mudah terbaca. Buatlah menarik dengan gambar atau warna yang menarik agar semua tahu.
8. Evaluasi, jika anak masih tetap melanggar maka perlu ada yang ditinjau ulang. Diskusi dan tetap jalankan konsekuensi dengan tegas, dan sertakan kelembutan dalam ketegasan anda. Jika perilaku sudah terbentuk, lakukan evaluasi juga, untuk meningkatkan perilaku baru yang positif. Setiap 2 bulan, lakukan evaluasi.
9. Berikan pujian atas Upaya dan Usaha melakukan kesepakatan yang telah dibuat bersama. Hindari pujian seperti, “Pintar ya anak mama, buang sampah ditempat sampah.” Ini baik, tetapi akan lebih baik “Hei, tadi mama perhatikan kamu hebat deh, kamu berusaha disiplin untuk membuang sampah pada tempatnya. Terima kasih ya kamu mau belajar taat dan disiplin dengan aturan kita.”Semoga panduan ini bisa membantu anda memiliki keluarga yang berkualitas baik. 

Panduan ini sangat praktis dan mudah dilakukan, selama anda mau mencobanya.

Sumber : Timothy Wibowo


Enroll Now !

Information & Registration :
Jl. Ketintang Baru III No. 3 Surabaya
Phone : 031-8299413
Mobile : 081234441997
Ijin Dinas Pendidikan Kota Surabaya No. 188/7736/436.6.4/2014 

TERDAFTAR di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat ;
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan NPSN : P9908360
Follow Us on Twitter
Available on Google Play Store
www.homeschoolingpena.com