Wednesday, 8 November 2017

Memahami Makna Hari Pahlawan bagi Kaum Muda Saat Ini



HOMESCHOOLING PENA   
Setara ( SD/SMP/SMA )  
TERAKREDITASI - BAN PNF


Memahami Makna Hari Pahlawan bagi Kaum Muda Saat Ini

Foto : Kesekolah 

Homeschooling Pena Surabaya, 09 November 2017 

Tanggal 10 November dipilih sebagai Hari Pahlawan karena pada hari itu pasukan Indonesia melakukan perang pertama dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kejadian itu menjadi satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.


Pertempuran tersebut terjadi di Kota Surabaya, Jawa Timur. Momentum peperangan di Surabaya tersebut menjadi legitimasi peran militer dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Sehingga nilai kepahlawanan tersemat dalam sebuah perjuangan melawan agresi militer. Pada saat itu para pejuang hanya mempunyai beberapa pucuk senjata api, selebihnya menggunakan bambu runcing. Namun hal itu tidak menjadikan para pejuang gentar untuk melawan penjajah. Salah satu tokoh kunci yang terkenal pada saat perjuangan itu adalah Bung Tomo yang mampu menyalakan semangat perjuangan rakyat lewat siaran-siarannya radionya.

Bung Karno mengatakan, Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya "Negara Yang Besar Adalah Yang tidak melupakan Jas Merah" Artinya tidak akan melupakan sejarah suatu bangsa tersebut. Para pahlawan rela mengorbankan hidupnya demi menjaga dan mempertahankan negara Indonesia. Itulah sebabnya, sejarah bangsa ini telah mendokumentasikan bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah "hadiah" dari bangsa lain, melainkan hasil dari perjuangan dan pengorbanan jiwa & raga para syuhada pejuang & "founding fathers" (Bapak-Bapak Bangsa) se-Nusantara dengan aneka keragaman latar belakangnya. Mereka berjuang dan berkorban, sejak periode "merebut kemerdekaan" hingga periode kritis ketika harus "mempertahankan kemerdekaan" yang telah diproklamasikan.

Namun, sangat disayangkan mutu peringatan itu terasa menurun dari tahun ke tahun, terutama generasi muda. Generasi muda sudah makin tidak menghayati makna hari pahlawan. Hari Pahlawan yang selalu diperingati hendaknya jangan hanya mengedepankan unsur seremoni belaka, tanpa menghayati nilai-nilai perjuangan yang dipesankan oleh para pahlawan kita. Akan sangat ironi bila memperingati hari pahlawan sebatas seremoni saja tanpa mengambil tauladan dari nilai-nilai perjuangan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk itu, sebagai generasi muda, kita harus mampu memberi makna baru atas tonggak bersejarah kepahlawanan dengan mengisi kemerdekaan sesuai perkembangan zaman. Menghadapi situasi seperti sekarang kita berharap muncul banyak pahlawan dalam segala bidang kehidupan. Bangsa ini sedang membutuhkan banyak pahlawan, pahlawan untuk mewujudkan Indonesia yang damai, Indonesia yang adil dan demokratis, dan Indonesia yang bersih dan bebas korupsi.

Karena itu, hari pahlawan tidak hanya pada 10 November, tetapi berlangsung setiap hari dalam kehidupan sehari-hari. Setiap hari kita berjuang paling tidak menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri dan keluarga. Artinya, kita menjadi warga yang baik dan meningkatkan prestasi dalam kehidupan masing-masing. Setidaknya kita harus mampu bertanya pada diri sendiri apakah rela mengorbankan diri untuk mengembangkan diri dalam bidang kita masing-masing dan mencetak prestasi dengan cara yang adil, pantas dan wajar.

Sumber: Josua M


Enroll Now !

Information & Registration :
Jl. Ketintang Baru III No. 3 Surabaya
Phone : 031-8299413
Mobile : 081234441997
Ijin Dinas Pendidikan Kota Surabaya No. 188/7736/436.6.4/2014 
TERDAFTAR di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat ; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan NPSN : P9908360
Follow Us on Twitter
@homeschool_pena

Friday, 3 November 2017

Gadget untuk Anak, Perlu Nggak Sih?



HOMESCHOOLING PENA   
Setara ( SD/SMP/SMA )  
TERAKREDITASI - BAN PNF


Gadget untuk Anak, Perlu Nggak Sih?
Foto : Kesekolah

Homeschooling Pena Surabaya, 04 November 2017

Dewasa ini, sebagian orang punya ketergantungan dengan gadget. Buktinya anak muda sekarang pasti mempunyai gadget. Sebut saja Handphone, Laptop, Tablet PC dan perangkat lain yang berhubungan dengan teknologi. Tidak dipungkiri kalo banyak anak muda sekarang tiap tahun sekali pasti ganti baru. Alasannya macem-macem. Mulai dari fiturnya lebih canggih sampai gengsi biar gak dibilang ketinggalan jaman. Bukan hanya orang dewasa saja yang menyukai barang ini, anak-anak pun kerap menjadi incaran merek atau brand tertentu dan seolah-olah menjadi kebutuhan wajib. Sadar atau tidak apapun jenis gadget tersebut telah menjadi sebuah tren pada dunia anak-anak dan remaja.

Jadi,orang tua yang anaknya menginginkan untuk dibelikan gadget, sebaiknya perhatikan dan seteliti mungkin sebelum membeli dan memilikinya untuk memilih sebuah gadget bagi mereka. Jangan sampai anda membelikan dan memilihkan gadget untuk anak remaja tetapi hanya sekedar untuk memperlihatkan atau memamerkan kepada teman mereka atau hanya sekedar untuk bermain games dan chating facebook belaka tanpa memiliki nilai, fungsi dan manfaat yang menujang bagi pendidikan mereka.

Beberapa tips memilih gadget untuk anak-anak dan remaja berikut ini:
1. Faktor manfaat gadget tersebut
Biasanya anak / remaja selalu menginginkan apa yang dimiliki temannya, tanpa memikirkan apakah dia membutuhkannya atau tidak. Oleh karena itu, saat mereka menginginkan sebuah gadget, tanyakan tujuan dan manfaat apa yang diinginkannya. Sehingga kita secara bijak dapat memilihkan gadget mana yang bisa sesuai dengan manfaat yang diharapkannya.

2. Efek perkembangan anak
Penggunaan gadget bagi anak / remaja, sebaiknya dapat membatasi dalam menggunakan gadget. Jangan sampai dengan adanya gadget, anak anda lupa untuk berinteraksi dengan teman temannya, bermain layaknya anak kecil. Atur waktu penggunaannya, kapan anak bisa bermain gadget dan kapan anak harus berinteraksi dengan orang lain, termasuk orang tuanya sendiri. Agar perkembangan dirinya seiring dengan perkembangan sosialnya.Pintar dalam memberikan batasan waktu dalam menggunakan gadget, berarti kita secara langsung turut mendidik mereka dalam soal disiplin waktu.

3. Pengaruhnya terhadap mental anak
Saat membelikan gadget, pikirkan juga efeknya terhadap mental anak anda. Jangan sampai anak anda terlalu bergantung kepada gadgetnya dan melupakan potensi diri yang ada dalam dirinya. Sehingga mengakibatkan ketergantungan terhadap gadget tersebut dan membawa dampak malas untuk berfikir.

4. Faktor keamanan
Gadget yang canggih dengan harga mahal yang dibawa anak remaja hanya akan menjadikan orang yang memiliki niat jahat tergerak untuk melakukan kejahatan, hingga akhirnya menjadi korban kejahatan pencurian gadget yang dimilikinya. Pilihkan gadget yang tidak terlalu mahal untuk anak usia remaja. Cukup belikan yang sudah memadai fungsi dan manfaat untuk seusianya.

5. Pikirkan faktor kepantasan
Satu hal ini, sebaiknya kita lihat lingkungan sekitar pergaulan mereka. Apakah pantas untuk memilikinya sedangkan dalam pergaulannya, teman sebaya mereka tidak memiliki gadget sama sekali. Karena faktor lingkungan mereka bermain di rumah maupun di sekolah sangat penting untuk kita dalam menentukan sikap kita dalam memiliki atau tidak memiliki sebuah gadget.

Kembali pada diri kita sebagai orang tua yang bijaksana dalam menentukan sebuah sikap untuk dapat terus mendukung dan memenuhi kebutuhan pendidikan mereka.

Sumber : Josua M


Enroll Now !

Information & Registration :
Jl. Ketintang Baru III No. 3 Surabaya
Phone : 031-8299413
Mobile : 081234441997
Ijin Dinas Pendidikan Kota Surabaya No. 188/7736/436.6.4/2014 
TERDAFTAR di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat ; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan NPSN : P9908360
Follow Us on Twitter
@homeschool_pena

Thursday, 2 November 2017

Tips Mendidik Anak Agar Tidak Materialistis



HOMESCHOOLING PENA   
Setara ( SD/SMP/SMA )  
TERAKREDITASI - BAN PNF


Tips Mendidik Anak Agar Tidak Materialistis

Foto : Kesekolah

Homeschooling Pena Surabaya, 03 November 2017

Orangtua zaman sekarang memiliki pekerjaan rumah demikian banyak dalam mengasuh dan membersarkan anak-anaknya. Hal yang paling kentara dan dirasa cukup sulit bagi orangtua adalah membesarkan anak tanpa tumbuh menjadi pribadi materialistis. Upaya orangtua harus demikian kuat agar bombardir iklan di televisi, majalah, maupun pengaruh teman sebaya, yang menjadi beberapa faktor atas sifat materialistis, dapat diredam.

anak-anak sekarang lebih materialistis di usia yang lebih muda lagi. Karena itu, menjadi tugas orangtua untuk menanamkan pemahaman kepada anak bahwa karakter moral, kontribusi terhadap lingkungan, dan kualitas hubungan mereka akan jauh lebih bernilai ketimbang materi yang bisa diperoleh.

Dengan kata lain, orangtua perlu meyakinkan anak bahwa identitas mereka tidaklah didasarkan pada apa yang mereka punya, tetapi pada siapa mereka. Orangtua perlu mempelajari sejumlah cara bagaimana cara membesarkan anak tanpa membuat mereka menjadi individu yang materialistis.

Berikut cara-cara mendidik anak agar tidak materialistis:
a. Membatasi tontonan televisi
Ini aturan yang sering disebutkan oleh para ahli. Sebaiknya anak tidak menonton lebih dari dua jam setiap hari. Selain sejumlah program yang dibuat banyak yang masih tidak sesuai dengan usia anak, iklan yang muncul di antara program tersebut kerap menarik perhatian anak dan pada akhirnya membuat mereka menginginkannya. Cara lain yang juga dapat dilakukan adalah dengan mengalihkan perhatian anak saat jeda iklan. Kalaupun tidak, jelaskan kepada anak tentang teknik pemasaran yang biasa digunakan dalam iklan. Atau tonton acara yang tidak ada iklannya.

b. Perhatikan apa yang diperhatikan anak
Bila anda melihat anak ingin menggunakan celana jins skinny, pakaian dengan merek ternama karena melihatnya di majalah, inilah waktunya untuk menjelaskan kepada mereka agar tidak selalu mengikuti arus. Pada awalnya anak mungkin saja akan kesal, sebal, dan mengatakan anda tidak paham perasaan mereka. Namun, dengan mengingatkan akan hal tersebut, pada akhirnya anak akan meresapi penjelasan anda.

c. Katakan "tidak"
Bukan tindakan tepat untuk selalu memberikan apa saja yang diinginkan anak.Anda tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkan dalam hidup ini kan? Mengatakan "tidak" atau menolak membelikan benda-benda yang diinginkan anak bukanlah hal keliru.

d. Hadiah tanpa membeli
Sesekali ada baiknya juga melatih anak untuk tidak membeli hadiah bagi anggota keluarga. Hal itu akan mendorong anak untuk kreatif dalam membuat hadiah tanpa mengeluarkan uang, misalnya membuat kartu, puisi, atau poster yang menggambarkan rasa sayang mereka bagi penerima hadiah.

e. Menjadi panutan.
Sebelum terburu-buru menyalahkan iklan di televisi maupun teman sepermainan anak, coba lihat kembali diri sendiri. Apakah anda gemar mengoleksi barang tertentu yang harganya sangat mahal? Apakah anda sebagai orangtua suka membeli aneka busana dari perancang atau merek terkemuka?

Kalau jawabannya iya, orangtua perlu membenahi diri. Perlu diingat, anak lebih meniru orangtuanya. Dengan kata lain, kalau orangtua ingin memiliki anak yang tidak materialistis, harus bisa menjadi contoh. Percuma saja orangtua mengajarkan anak untuk tidak selalu membeli barang mewah sementara sang ibu masih asyik membeli sepatu atau tas dengan harga selangit.

f. Ajarkan prioritas
Gunakan keputusan berbelanja sebagai peluang untuk mengajarkan perencanaan keuangan, termasuk bagaimana mengontrol keinginan yang tidak perlu. Saat berbelanja untuk keperluan sekolah, misalnya, minta anak untuk membuat daftar barang yang diinginkan lalu buat prioritasnya.

g. Latih kesadaran untuk menyumbang
Tidak harus memaksa anak untuk mau menyumbangkan benda kesayangan mereka. Orangtua bisa menjadi contoh baik dengan menyumbangkan barang sendiri untuk kegiatan amal dan jelaskan alasan anda melakukan itu. Setelah itu biarkan anak tahu bahwa mereka dapat mendonasikan barang-barangnya juga. Barang tersebut bisa diberikan kepada sepupu yang lebih kecil ataupun kepada anak-anak yang tidak mampu. Hal itu akan membantu anak menyadari bahwa barang hanya objek semata.

Mereka juga belajar untuk melepaskan kesenangan dari barang yang dimiliki agar orang lain dapat merasakan, kesenangan yang sama.

Sumber : Josua M


Enroll Now !

Information & Registration :
Jl. Ketintang Baru III No. 3 Surabaya
Phone : 031-8299413
Mobile : 081234441997
Ijin Dinas Pendidikan Kota Surabaya No. 188/7736/436.6.4/2014 
TERDAFTAR di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat ; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan NPSN : P9908360
Follow Us on Twitter
@homeschool_pena



Wednesday, 1 November 2017

Faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar



HOMESCHOOLING PENA   
Setara ( SD/SMP/SMA )  
TERAKREDITASI - BAN PNF


Faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar



Foto : Kesekolah

Homeschooling Pena Surabaya, 02 November 2017

Agar fungsi pendidik sebagai motivator, inspirator dan fasilitator dapat dilakonkan dengan baik, maka pendidik perlu memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar subjek didik. Proses pembelajaran dan hasil belajar siswa di sekolah tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, faktor-faktor tersebut bisa dari diri siswa atau bahkan dari lingkungan siswa itu sendiri.

Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi Proses dan hasil Belajar Siswa:
1. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan, yang meliputi lingkungan alam dan lingkungan sosial, juga perlu mendapat perhatian. Belajar dalam kondisi alam yang segar selalu lebih efektif dari pada sebaliknya. Demikian pula, belajar pada pagi hari selalu memberikan hasil yang lebih baik dari pada sore hari. Sementara itu, lingkungan sosial yang hiruk pikuk, terlalu ramai, juga kurang kondisif bagi proses dan pencapaian hasil belajar yang optimal.

2. Faktor Instrumental
Faktor instrumental, baik yang tergolong perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Perangkat keras seperti perlangkapan belajar, alat praktikum, buku teks dan sebagainya sangat berperan sebagai sarana pencapaian tujuan belajar. Karenanya, pendidik harus memahami dan mampu mendayagunakan faktor-faktor instrumental ini seoptimal mungkin demi efektifitas pencapaian tujuan-tujuan belajar.

Setiap sekolah mempunyai tujuan yang akan dicapai. Tujuan tentu saja pada tingkat kelembagaan, agar dapat mencapai ke arah itu diperlukan seperangkat kelengkapan dalam berbagai bentuk dan jenisnya. Sarana dan fasilitas yang tersedia harus dimanfaatkan sebaik-baik agar berdaya guna dan berhasil untuk kemajuan belajar anak didik di sekolah.

3. Kondisi Fisik (Keadaan Jasmani)
Faktor fisik yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar adalah kondisi individual subjek didik sendiri. Termasuk ke dalam faktor ini adalah kesegaran jasmani dan kesehatan. Subjek didik yang berada dalam kondisi jasmani yang kurang segar tidak akan memiliki kesiapan yang memadai untuk memulai tindakan belajar. Kondisi fisik pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Orang yang dalam keadaan segar jasmaninya, akan berlainan belajarnya dari orang yang dalam keadaan kelelahan.

4. Kondisi psikologis (Keadaan Mental)
Faktor-faktor psikologis yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar jumlahnya banyak sekali, dan masing-masingnya tidak dapat dibahas secara terpisah. Perilaku individu, termasuk perilaku belajar, merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas yang lahir sebagai hasil akhir saling pengaruh antara berbagai gejala, seperti perhatian, pengamatan, ingatan, pikiran dan motif.

Semua keadaan dan fungsi psikologis tentu saja mempengaruhi belajar seseorang. Berarti belajar bukanlah berdiri sendiri, terlepas dari faktor lain seperti faktor luar dan faktor dari dalam. Faktor psikologis sebagai faktor dari dalam tentu saja merupakan hal yang utama dalam menentukan intensitas belajar seorang anak. Minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuan-kemampuan kognitif adalah faktor-faktor psikologis yang utama mempengaruhiproses dan hasil belajar peserta didik.

Sumber : Josua M


Enroll Now !

Information & Registration :
Jl. Ketintang Baru III No. 3 Surabaya
Phone : 031-8299413
Mobile : 081234441997
Ijin Dinas Pendidikan Kota Surabaya No. 188/7736/436.6.4/2014 
TERDAFTAR di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat ; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan NPSN : P9908360
Follow Us on Twitter
@homeschool_pena