Thursday, 30 June 2016

Mengajarkan Anak Bersosialisasi Sejak Usia Dini

Cara Mengajarkan Anak Bersosialisasi 

Sejak Usia Dini


Homeschooling Surabaya-Homeschooling Pena, 30 Juni 2016

Memiliki teman atau sahabat adalah salah satu pondasi penting dalam kehidupan seseorang. Penelitian menunjukkan bahwa seorang anak yang memiliki masalah dalam berinteraksi dengan teman sebayanya, cenderung mengalami guncangan emosi yang lebih besar dibandingkan anak yang memiliki banyak teman.
Dalam kondisi ekstrim, saat mereka dewasa guncangan emosi yang tidak dapat diatasi ini dapat menyebabkan tindakan vandalisme, kriminal, bahkan bunuh diri. Bagaimana dengan anak anda?
Apabila anda memiliki seorang anak yang pemalu, maka tidak ada salahnya jika anda mengajarkan cara bersosialisasi sejak dini. Kemampuan bersosialisasi ini sangat penting dalam masa tumbuh kembang anak, karena dengan bersosialisasi anak akan lebih mudah untuk mengembangkan karakternya.
Mungkin hal ini bukan masalah bagi sebagian anak yang terlahir dengan bakat pandai bersosialisasi. Tetapi bagi anak yang kesulitan bersosialisasi, hal ini dapat menyebabkan anak menjadi kurang percaya diri dan susah bergaul dengan teman sebayanya.

Berikut ini ada beberapa cara yang dapat membantu anda untuk mengajarkan anak bersosialisasi sejak usia dini.


1. Menjadi Role Model

Anak seringkali mencontoh perilaku dan sikap dari orangtuanya. Oleh karena itu, setiap orangtua wajib menjadi role model yang baik bagi anak-anaknya. Dengan melihat bagaimana orangtuanya menyapa, berbicara dan bergaul dengan orang lain, hal ini akan membuat anak lebih mudah untuk bersosialisasi dengan teman-temannya.

2. Biarkan Anak Berekspresi 

Berikan kesempatan pada anak untuk berkumpul bersama dengan teman-temannya, seperti mengikuti kegiatan pramuka, olahraga, atau kegiatan-kegiatan lain yang dapat mendorong bakat mereka. Anak akan sangat menikmati apabila mereka dapat menunjukkan bakat serta minatnya. Salah satu penyebab kurangnya rasa percaya diri pada anak, adalah karena anak tidak memiliki ruang untuk berekspresi.

3. Suasana Keluarga Yang Terbuka

Bangunlah suatu hubungan yang terbuka antara anak dengan orangtua. Salah satu caranya adalah dengan mengajak anak anda berkomunikasi tentang berbagai kegiatannya sehari-hari. Luangkan waktu untuk berbicara dengan anak anda sedikitnya dua kali dalam sehari, dan biarkan anak anda mengeluarkan isi hatinya. Hal seperti ini akan membuat anak berani untuk bertanya, minta pendapat, ataupun sekedar curhat saja.

4. Beraktivitas Dalam Kelompok

Ajak anak anda untuk bergabung dalam suatu komunitas atau tim olahraga yang sesuai dengan minatnya. Selain dapat mengasah bakat anak, kegiatan semacam ini juga dapat memberikan kesempatan pada anak untuk bergaul dan mendapat teman baru. Anak-anak biasanya sangat menyukai kegiatan seperti ini, karena itu carilah suatu kegiatan yang dapat dilakukan anak bersama dengan teman sebayanya.

5. Bermain Bersama 

Bermain adalah salah satu cara untuk mengakrabkan diri dengan anak lain, dan dengan bermain anak menjadi lebih bebas dalam mengeluarkan ekspresinya. Ajak anak anda untuk sesekali bermain di luar rumah bersama teman-temannya, atau anda bisa meminta saudara sepupu atau teman dekatnya untuk menginap di rumah ketika liburan sekolah tiba.

6. Bangkitkan Rasa Percaya Diri Anak

Orangtua adalah orang yang paling tahu dan mengenal karakter anaknya, beserta dengan segala kelebihan dan juga kekurangannya. Karena itu bantulah anak anda untuk menemukan rasa percaya dirinya dengan cara berkomunikasi secara personal.

7. Etika Bergaul

Dalam pergaulan, anak harus diberikan pengertian untuk dapat menghargai orang lain. Dengan memiliki etika bergaul yang baik, anak tidak akan canggung untuk bergaul dengan teman sebayanya ataupun orang yang usianya jauh lebih tua.

8. Jangan Terlalu Protektif

Seringkali orangtua terlalu protektif terhadap anaknya, sehingga membatasi kesempatan anaknya untuk berinteraksi dengan orang lain. Biarkan anak anda belajar untuk melakukan segala sesuatunya sendiri, seperti menelepon temannya, bertanya kepada orang lain, atau membayar sendiri saat jajan.

9. Perhatikan Anak Anda

Agar dapat lebih memahami perilaku anak anda, penting bagi anda untuk memperhatikan mereka saat berinteraksi dengan orang lain. Jika anak anda pemalu, jangan terlalu memaksanya, tetapi bantulah dia untuk dapat membuka diri dengan teman-temannya. Dukungan dari orangtua sangat membantu anak untuk bersosialisasi.

10. Jelaskan Arti Teman

Berikan pemahaman pada anak tentang pentingnya mempunyai teman. Apabila anak anda memiliki pribadi yang tertutup, berilah mereka cukup waktu untuk membuka diri. Karena ketika mereka merasa nyaman, saat itulah mereka akan bersosialisasi dengan orang lain.
Demikianlah beberapa cara mendidik anak untuk bersosialisasi. Kemampuan bersosialisasi ini dapat dilatih sejak anak usia dini, sehingga nanti ketika dewasa mereka dapat beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.Untuk melatih kemampuan bersosialisasi ini tentunya juga harus disesuaikan dengan kepribadian anak, karena setiap anak memiliki kepribadian yang berbeda sehingga cara pendekatan dan latihan yang dilakukan juga berbeda, sesuai dengan kepribadian mereka.

Bagaimana Menerapkan Aturan Yang Baik Pada Anak


Bagaimana Menerapkan Aturan Yang Baik Pada Anak


Homeschooling Surabaya-Homeschooling Pena, 30 Juni 2016

Di dalam sebuah keluarga selalu ada aturan yang harus dipatuhi oleh seluruh anggota keluarga. Pada dasarnya aturan ini diperlukan dalam keluarga agar segala sesuatunya dapat dilakukan sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing.
Biasanya aturan ini selalu berbeda antara keluarga yang satu dengan keluarga yang lain. Mungkin hal ini bukanlah masalah ketika aturan diterapkan pada anggota keluarga yang telah dewasa, tetapi bagaimana dengan anak-anak? Bisakah mereka mematuhi aturan yang dibuat dalam keluarga?
Menerapkan aturan pada anak-anak bukanlah sesuatu yang mudah, terutama ketika mereka memasuki masa remaja. Banyak orangtua yang merasa kewalahan ketika harus menerapkan aturan kepada anaknya. Salah satu alasannya adalah anak-anak cenderung mengabaikan aturan yang telah dibuat oleh orangtuanya.
Tetapi bagaimanapun juga, sebagai orangtua anda harus dapat menerapkan aturan dan disiplin kepada anak. Meskipun mereka masih kecil, tetapi sudah seharusnya mereka belajar untuk mengikuti aturan yang ditetapkan oleh orangtuanya. Lalu, bagaimana cara menerapkan aturan yang baik pada anak? Berikut ini ada beberapa cara yang perlu diperhatikan dalam membuat aturan dalam keluarga.

1. Sepakati Bersama

Dalam menetapkan aturan, pastikan aturan tersebut dibuat dan disepakati bersama oleh seluruh anggota keluarga. Jika anda ingin membuat aturan yang efektif, libatkan anak anda dalam membuat aturan, diskusikan, dan tanyakan pendapatnya. Anda bisa mulai dengan membuat beberapa aturan sederhana, seperti kapan waktu makan, kapan waktu tidur, kapan waktu bermain, dan lain-lain.
Hal ini bertujuan untuk mengenalkan anak pada aturan, dan melatih mereka agar terbiasa dalam menerapkan aturan tersebut. Hindari membuat aturan secara sepihak atau diktator, yang hanya berpihak kepada orantua. Karena ini akan menyebabkan hilangnya rasa percaya anak terhadap orangtua.

2. Tentukan Konsekuensi

Selain menetapkan aturan, anda perlu menetapkan konsekuensi atau hukuman. Anda harus tahu bagaimana cara mengatasi anak ketika mereka melanggar aturan, dan menetapkan konsekuensinya. Anda dapat mulai dengan memberi hukuman yang ringan ketika anak anda melanggar aturan.
Contohnya, dengan membatasi waktu mereka menonton tv, mengurangi jam bermain video game, atau mengurangi uang jajan. Segala sesuatu yang berlebihan pada dasarnya tidak baik, karena itu janganlah membuat konsekuensi yang terlalu keras ketika anak anda melanggar aturan.

3. Berikan Penjelasan

Berikutnya anda perlu memberi penjelasan tentang semua aturan tersebut kepada anak. Ketika anak diberi penjelasan, mereka diharapkan untuk mengerti dan memahami tentang apa saja yang harus dipatuhi dan dikerjakan, beserta dengan konsekuensinya.
Dengan begitu mereka akan memahami apa akibatnya apabila melanggar aturan tersebut. Anda juga dapat membuat perubahan pada aturan sesuai dengan keinginan atau kebutuhan anak, karena hal itu akan membuat anak merasa dihargai.

5. Berikan Reward

Dalam menerapkan aturan, reward atau penghargaan tidak kalah penting dengan hukuman. Reward perlu diberikan ketika anak berhasil mematuhi aturan yang ditetapkan, karena hal ini akan membuat mereka semakin termotivasi dan semangat dalam menjalankan aturan. Selain reward, anda juga dapat memberi mereka pujian ketika menjalankan aturan dengan baik.

6. Jadilah Role Model

Orangtua adalah role model bagi anak. Dan sebagai orang yang menetapkan aturan dalam keluarga, anda wajib untuk memberikan contoh kepada anak dengan menjalankan aturan yang anda tetapkan sendiri.
Karena jika anda sendiri tidak mematuhi aturan yang anda buat, bagaimana orang lain dapat mematuhinya. Dengan memberi contoh dan teladan kepada anak, hal ini justru akan memotivasi anak untuk bertindak yang sama.
Sebaiknya segala aturan yang dibuat harus jelas dan dipatuhi oleh seluruh anggota keluarga. Karena ini akan menjadi contoh nyata bagi anak, bahwa orangtuanya juga mematuhi aturan yang telah dibuat bersama. Seringkali aturan yang dibuat tidak berlaku bagi orangtua, dan aturan itu hanya untuk menghukum anak apabila melakukan kesalahan.
Ini adalah salah satu contoh ketidak disiplinan orangtua sebagai pembuat aturan. Dan apabila ada aturan tertentu yang sering dilanggar secara terus menerus, sebaiknya anda segera melakukan penyesuaian untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

Semoga bermanfaat.

Karena Anak Jenius Selalu Bertanya

Karena Anak Jenius Selalu Bertanya


Homeschooling Surabaya-Homeschooling Pena, 30 Juni 2016

Jenius itu adalah anugrah bawaan lahir setiap anak manusia.
Kebodohan itu adalah hasil bentukan sistem manusia dan pola asuh yang keliru.
 
Benarkah?
Konon dalam salah satu komentarnya saat ia ditanya wartawan tentang anak-anak yang jenius, Einstein pernah berkata bahwa anak yang jenius itu bukanlah anak yang mampu menjawab sebanyak-banyaknya soal yang sudah ada jawabanya di buku, melainkan anak-anak yang paling banyak bertanya, apa saja, kapan saja, dan dimana saja, yang isi pertanyaannya seringkali bahkan orang dewasa saja tidak mampu untuk menjawabnya.
Jadi jika anak kita selalu bertanya apa saja dan dimana saja tanpa henti, sampai kita kewalahan dan “mati kutu” karena tidak bisa atau tidak tahu jawabannya, itulah tanda bahwa sesungguhnya ia masih dalam kondisi jenius.
Dan perlu dicatat dan diingat jika anak kita seperti ini jangan dimarahi, karena itulah pertanda ia masih jenius, setidaknya menurut sang jenius dunia Albert Einstein.
Tetapi jika ia sudah menjadi anak yang pasif, tidak lagi tertarik untuk bertanya, lebih banyak diam, dan bengong di depan televisi atau bermain game, karena stress terlalu banyak diminta untuk menjawab soal-soal ujian yang sudah ada jawabannya di buku. Maka saat itulah anak kita mulai meninggalkan sisi jenius yang ada dalam dirinya, yang merupakan anugrah yang telah dibawanya sejak lahir.
Mari sekarang kita perhatikan anak kita masing-masing, apakah ia masih menjadi anak yang terus bertanya kapan saja, dimana saja, dan apa saja, atau malah sebaliknya? Apakah anak kita sudah tidak tertarik lagi untuk bertanya, dan lebih suka menghabiskan waktunya untuk bengong di depan televisi atau bermain game?
Sayangnya kebanyakan orang di Indonesia menganggap bahwa jenius adalah milik segelintir orang atau anugrah pada anak-anak tertentu. Padahal fakta penelitian dari Prof. Howard Garner menunjukkan bahwa setiap anak berpotensi untuk jadi jenius, tetapi orangtua dan lingkunganlah yang seringkali telah membunuh potensi jenius mereka.
Jika anak-anak, para orangtua, dan guru-guru di Indonesia masih memahami bahwa jenius adalah nilai bagus di semua mata pelajaran, maka ini bisa dipastikan bahwa sekolah-sekolah di Indonesia tidak akan pernah bisa melahirkan anak-anak jenius seperti Einstein, Mozart, Thomas Edison dan sebagainya.

Semoga bermanfaat.

Cara Cerdas Dalam Memuji Anak

7 Cara Cerdas Dalam Memuji Anak



 Homeschooling Surabaya-Homeschooling Pena, 30 Juni 2016


“Nanti dia besar kepala”
“Nanti dia tambah malas dan menyepelekan”
“Nanti dia jadi sombong”
“Nanti dia jadi arogan dan sok”


Mungkin kalimat itu adalah respon dari beberapa orangtua yang cukup berhati-hati dalam memberikan pujian kepada anaknya. Memang benar, apabila salah dalam memberikan pujian hasilnya bisa fatal. Pujian datangnya bukan hanya dari orangtua di rumah, tetapi bisa datang dari siapa saja, teman, guru, dan orang lain. Mereka semua bisa saja memberikan pujian yang salah. Apa fatalnya?
Cara yang salah dalam memberikan pujian bisa membuat anak menjadi malas, bahkan menjadi haus pujian. Hal ini bisa juga menjadi motivasi tersembunyi anak untuk melakukan apa saja demi pujian, dan jika tidak mendapatkan pujian seperti yang diharapkan maka bisa bermacam-macam variasi akibatnya, misalnya marah, frustasi, dan kecewa.
Jika pola ini terus terjadi dalam diri anak, maka hidup terasa sangat berat, dan tidak bersahabat bagi dirinya. Pujian akan terasa di hati, dan ini berbeda dengan makanan yang terasa enak di lidah. Karena terasa di hati, maka orang tidak bisa tahu apa kebutuhan hati anak (perasaan seseorang), karena isi hati manusia siapa yang tahu, dan ini tidak terlihat. Jika sudah sangat fatal, yang tampak adalah luapan emosi yang meledak dahsyat, misal menangis, berteriak, mengurung diri, dan sikap agresif lainnya.
Penelitian yang dilakukan Carol Dweck dan timnya selama sepuluh tahun terakhir menunjukkan hal tersebut, ditulis dalam bukunya yang berjudul Mindset: The New Psychology of Success (2006). Dalam penelitian tersebut, sekelompok siswa kelas 5 di New York diberi 4 rangkaian tugas menyelesaikan puzzle.
Tugas pertama yaitu menyelesaikan sebuah puzzle yang sangat mudah. Setelah menyelesaikan tugas itu, satu kelompok diberi pujian atas kecerdasannya dan kelompok yang lain diberi pujian atas usahanya. Kelompok pertama mendapat pujian “Kamu cerdas sekali” dan kelompok kedua mendapat pujian “Usahamu luar biasa”.
Pada tugas berikutnya, kedua kelompok tersebut diberi 2 pilihan untuk menyelesaikan puzzle yang lebih sulit atau puzzle yang mudah seperti sebelumnya, namun dikatakan pada mereka bahwa mereka bisa belajar banyak dalam menyelesaikan puzzle yang sulit itu.
Dan ternyata 90% dari kelompok anak yang dipuji atas usahanya memilih tugas yang lebih sulit, sementara mayoritas kelompok anak yang dipuji cerdas memilih tugas yang mudah. Kelompok pertama yang diberi pujian “cerdas” lebih memilih untuk tampil sebagai anak cerdas, menghindari resiko tampak memalukan dan bodoh.
Pada tugas ketiga, kedua kelompok tidak diberi pilihan dan diharuskan menyelesaikan puzzle yang lebih sulit. Disana tampak sekali ekspresi ketegangan pada kelompok anak “cerdas”, mereka bingung dan berkeringat. Pada kelompok yang dipuji atas usahanya malah tampak semakin keras pada usaha mereka.
Kini anda tidak perlu melakukan penelitian untuk membuktikan bahwa ada bahaya dalam memberikan pujian yang salah bukan? Lalu bagaimana yang benar? Pujilah PROSES bukan HASIL, pujilah UPAYA dan USAHA. Jika dia mendapatkan nilai 100 dalam ujian matematika, sebaiknya pujilah dengan “Hebat ya kamu, itu adalah hasil belajar disiplin kamu yah”, bukan “Hebat, nilai 100 itu baru anak mama, pintar kamu”.
Lalu bagaimana agar pujian menumbuhkan disiplin dan karakter yang baik? Berikut ada 7 panduan sederhana yang mudah untuk diterapkan baik di sekolah dan rumah.
Tulus, berikan pujian yang tulus, sesuai sebab dan situasinya. Misalnya “Terima kasih ya sudah menolong membuka pintu” atau “Terima kasih mau membantu angkat buku ini.”
Spesifik, pujian sebaiknya jelas dan detil. Misalnya “Cara kamu memakai baju bagus dan rapi, bajumu tidak terlihat kusut.” atau “Gambarmu bagus, mama suka dengan pilihan warnanya.”
Fokuskan pada keuntungan diri sendiri, arahkan pujian pada keuntungan dia memiliki sikap yang baik. Misalnya “Kamu rajin ya, jadi nanti kalau mau ada ujian kamu sudah siap, atau jika ada tes mendadak kamu sudah siap.”
Tidak memanipulasi, gunakan pujian dengan tepat, bukan untuk keuntungan orang lain. Misalnya “Anak cantik bisa tolong ambilkan handphone papa?”
Puji akan usahanya bukan hasilnya. Misalnya “Kamu tadi belajar pakai baju renang sendiri ya, hebat kamu” atau “Hei nak, tadi ayah melihat kamu membersihkan kotoran yang di ujung meja, hebat kamu mau belajar membersihkan.”

Semoga bermanfaat.

Tuesday, 28 June 2016

Ini Langkah Selanjutnya Setelah Lulus SBMPTN 2016,


Ini Langkah Selanjutnya Setelah Lulus SBMPTN 2016



Homeschooling Surabaya-Homeschooling Pena, 28 Juni 2016

Selamat untuk alumni SMA dan sederajat yang lulus Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2016! Dengan keberhasilan tersebut, artinya kamu sudah tercatat sebagai calon mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri (PTN) pilihanmu.

Setelah dinyatakan berhasil, bukan berarti lantas santai-santai. karena, pasca pengumuman hasil SBMPTN 2016, masih ada tahapan selanjutnya yang harus dilakukan hingga bisa dinyatakan benar-benar resmi masuk ke PTN tersebut. Berikut Tahapannya :

1. Cetak bukti kelulusan

Dibutuhkan atau tidak, usahakan untuk mencetak dan menyimpan bukti kelulusanmu tersebut. Bukti lulus SBMPTN 2016 itu menjadi dokumen yang penting, apalagi saat daftar ulang atau masa orientasi mahasiswa baru nanti.

2. Cek laman kampus

Begitu hasil SBMPTN 2016 diumumkan, segera cek laman PTN yang menerimamu. Lihat jadwal dan proses registrasi mahasiswa baru. Perhatikan apakah ada formulir online yang harus dilengkapi atau tidak. Biasanya, formulir online tersebut bertujuan untuk menentukan kelompok Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang diumumkan saat verifikasi nanti.

3. Siapkan dokumen

Lulus SBMPTN 2016 tidak langsung menjadikanmu mahasiswa di PTN penerima. Masih ada proses daftar ulang. Karena itu, mulai siapkan dokumen yang dibutuhkan untuk proses registrasi. Jika ijazah atau SKHUN-mu belum dilegalisasi, segera urus di sekolah masing-masing. Sedangkan beberapa dokumen yang biasanya diminta, yakni Kartu Keluarga (KK), akta kelahiran, pas foto, slip gaji orangtua, rekening listrik, dan lain sebagainya.

4. Verifikasi ke kampus

Usai pengumuman hasil SBMPTN 2016, PTN yang bersangkutan akan meminta calon mahasiswa baru langsung datang ke kampus untuk melakukan daftar ulang. Jangan lupa bawa semua kelengkapan berkas yang dibutuhkan. Pada tahap ini, akan dilakukan juga pemeriksaan kesehatan.

5. Berpenampilan rapi

Saat datang langsung ke kampus untuk daftar ulang, gunakan pakaian yang rapi. Gunakan kemeja berkerah dan sepatu. Selain itu, jagalah ketertiban lantaran di sana akan banyak calon mahasiswa yang lulus SBMPTN 2016 yang melakukan proses serupa.

Demikian tahapannya, semoga bermanfaat..

Pantang Galau Meski Tak Lulus SBMPTN


Pantang Galau Meski Tak Lulus SBMPTN 2016


Homeschooling Surabaya-Homeschooling Pena, 28 Juni 2016

Hasil Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2016 sudah diumumkan. Dari 721.326 peserta, hanya sekira 17 persen atau 126.804 yang lulus dan diterima di 78 PTN se-Indonesia.
Bagi yang tidak lolos SBMPTN 2016, jangan berkecil hati. Sebab, masih banyak cara untuk bisa melanjutkan kuliah dan menggapai cita-cita yang diimpikan. Berikut ini beberapa solusi yang bisa dipertimbangkan.

1. Ikut seleksi jalur mandiri

Beberapa perguruan tinggi negeri (PTN), seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Negeri Semarang (Unnes) memang sudah melakukan ujian mandiri (UM) sebelum hasil SBMPTN 2016 diumumkan. Kendati demikian, masih ada beberapa PTN yang masih membuka pendaftaran UM hingga pertengahan Juli mendatang. Beberapa di antaranya, yakni Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Brawijaya (UB).
Nah, coba cari informasi lainnya melalui laman resmi kampus-kampus negeri. Kesempatan ini bisa menjadi solusi jika kamu masih ingin mengejar kuliah di PTN.

2. Mulai incar kampus swasta

Kuliah di kampus swasta bukan berarti kalah dengan mereka yang diterima di PTN. Saat ini, banyak perguruan tinggi swasta (PTS) yang berkualitas, bahkan unggul di bidang-bidang tertentu. Kuliah di mana pun itu, yang menentukan sukses atau tidaknya seseorang adalah dirinya sendiri.

3. Kursus

Jangan kecewa berkepanjangan. Jika kamu belum ada rencana lagi, kursus menjadi salah satu cara untuk mengisi waktu luang secara positif. Kursus bahasa asing, misalnya, bisa menjadi pilihan yang tepat. Dengan cara tersebut, kamu sekaligus bisa menambah skill. Pilihan kursus sangat beragam, tinggal disesuaikan dengan bidang yang diminati.

4. Coba lagi tahun depan

Tahun depan kamu memang sudah tak bisa ikut Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) lagi. Tapi, kesempatan ikut SBMPTN masih sangat terbuka. Jika PTN satu-satunya tujuan studimu, maka review kembali mengapa kamu bisa gagal. Kemudian ambil program intensif untuk persiapan SBMPTN tahun depan. Sambil menunggu kesempatan itu, jagan sampai menganggur. Lakukan hal-hal positif, seperti ikut volunteer, magang, atau kegiatan lainnya.

5. Liburan

Rasa kecewa karena gagal lulus SBMPTN 2016 tentu sulit dihilangkan. Oleh sebab itu, coba tenangkan kembali pikiranmu dengan liburan. Apalagi, saat ini menjelang libur Lebaran sehingga kamu bisa bersenang-senang sejenak dengan keluarga besar. Siapa tahu, mereka bisa memberikan masukan yang positif sehingga kamu bisa merencanakan kembali langkah yang akan diambil setelah tak lolos SBMPTN 2016.

Tetap semangat!

Hasil seleksi SBMPTN 2016


SELEKSI BERSAMA MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI

SBMPTN TAHUN 2016

 



Homeschooling Surabaya-Homeschooling Pena, 28 Juni 2016

Hasil seleksi SBMPTN 2016 akan diumumkan mulai tanggal 28 Juni 2016 pukul 14.00 WIB, yang dapat diakses pada laman http://pengumuman.sbmptn.ac.id   atau pada laman mirror :
http://sbmptn.unsyiah.ac.id/ http://sbmptn.undip.ac.id
http://sbmptn.unand.ac.id http://sbmptn.ugm.ac.id
http://sbmptn.unsri.ac.id http://sbmptn.its.ac.id
http://sbmptn.ui.ac.id http://sbmptn.unair.ac.id
http://sbmptn.ipb.ac.id http://sbmptn.untan.ac.id
http://sbmptn.itb.ac.id http://sbmptn.unhas.ac.id