Monday, 10 October 2016

Supaya Anak Tidak Kuper, Lakukan Ini

Supaya Anak Tidak Kuper, Lakukan Ini




memiliki pribadi yang ceria. Ia suka bermain dan berkumpul bersama teman-temannya. Namun apa yang Anda rasakan, sebagai orang tua, bila memiliki anak yang kurang pergaulan. Anak yang kurang pergaulan ditandai dengan keengganan anak untuk bermain bersama dengan teman-temannya. Ia lebih suka sibuk sendiri di kamar atau bermain game, atau ia hanya terlihat percaya diri saat berada di rumah bersama orangtua. Agar anak tidak kurang pergaulan, Kami memberikan beberapa tips berikut ini:

1. Menjadi pendengar yang baik

Anak-anak sering mengeluh atau menceritakan sesuatu yang terdengar tidak penting. Sebagai orang tua, Anda harus belajar agar bisa menjadi pendengar yang baik. Bagaimana pun anak-anak membutuhkan seseorang yang bisa diajak bercerita untuk menyalurkan energi mereka dan memuaskan rasa ingin tahu mereka. Bila mereka ada dalam masalah, anak-anak juga akan membutuhkan kehadiran orang yang bisa dipercaya, yang bisa membantu mengatasi permasalahan mereka. Siapa lagi kalau bukan orang tua?

2. Memberikan kesempatan kepada anak untuk bisa bergaul


Anak-anak tidak akan berinisiatif untuk bergaul dengan orang-orang baru. Orang tualah yang seharusnya memberikan motivasi kepada anak. Bila perlu, orang tua perlu menjadwalkan anak dalam sebuah aktivitas yang berhubungan dengan sosialisasi. Misalnya mengajak anak berjalan-jalan di sekitar tempat tinggal Anda, supaya mereka bisa mengenal anak-anak yang lain. Atau bisa juga mengajak anak menghadiri arisan RT, supaya mereka bisa mengenal orang-orang baru, termasuk mereka yang usianya lebih tua. Dalam hal bergaul, jangan batasi anak-anak dengan mengajarkan kepada anak untuk berteman atau berkenalan hanya dari golongan, agama, atau suku tertentu. Biarkan anak berkembang secara alami dengan mengenal banyak orang tanpa membeda-bedakan latar belakang mereka, selama masih berada di dalam pengawasan dan bimbingan Anda.

3. Beraktivitas seni

Di dalam kesenian, anak-anak akan mendapatkan banyak kesempatan untuk tampil di depan banyak orang. Saat anak-anak berani tampil di depan banyak orang, anak-anak telah melatih kepercayaan diri atau mental mereka. Dengan kegiatan menari, bernyani, bermain peran, anak-anak akan termotivasi agar apa yang mereka lakukan dan pelajari akan bisa disaksikan oleh banyak orang. Akan lebih baik lagi, bila orang tua memotivasi anak untuk bisa tampil dalam pentas seni atau ikut lomba-lomba. Sangat disarankan agar motivasi orang tua dalam mengajak anak berpartisipasi dalam suatu lomba bukanlah untuk menjadi pemenang, namun sekedar melatih kepercayaan diri mereka. Sehingga bila anak tidak mendapatkan juara, mereka tidak akan menyerah dan tetap memiliki keinginan untuk tampil di depan banyak orang.


4. Mengutamakan pendampingan dan bimbingan, bukan menyalahkan

Saat anak berbuat kesalahan, biasanya orang tua terdorong untuk menyalahkan anak. Sebagai orang tua, tugas Anda adalah mendidik dan membimbing anak, agar mereka bisa menjadi anak yang pandai, baik, dan terampil. Sehingga saat anak berbuat kesalahan, apa yang Anda pikirkan pertama kali bukanlah karena faktor kelalaian anak, namun lebih menekankan faktor kelalaian Anda sendiri sebagai orang tua. Dengan berpikir demikian, Anda tidak akan serta merta menyalahkan anak saat berbuat sesuatu yang tidak baik. Namun Anda sendiri akan semakin termotivasi agar bisa menjadi orang tua yang lebih baik dalam membimbing, mendampingi, dan mendidik anak. Karena anak yang terlalu banyak disalahkan biasanya akan memiliki sifat yang mudah minder atau kurang percaya diri. Mereka akan merasa bahwa apa yang mereka lakukan selalu salah, sehingga cenderung menarik diri dari pergaulan.



Baca juga Pendidikan Karakter Dari Seorang Ayah

Melakukan pencegahan memang lebih bijaksana daripada menunggu suatu permasalahan datang. Orang tua perlu memperkaya diri dengan banyak membaca bacaan dari buku atau artikel di internet agar menambah kasanah dalam bidang parenting. Orang tua juga perlu belajar dari sesama orang tua yang lain agar semakin kaya akan pengalaman dalam mendidik anak.

Friday, 7 October 2016

Perhatikan 4 Hal Ini Saat Memerintah Anak



Perhatikan 4 Hal Ini Saat Memerintah Anak



Seorang ibu meminta anaknya untuk mengerjakan sesuatu, "Nak, setelah mandi, langsung beres-beres kamarmu ya... Setelah itu, siapkan alat tulis. Lalu pergi ke ruang belajar. Siap-siaplah di situ. Guru bahasa Inggris akan mengajarmu hari ini."

Orang tua terkadang merasa telah memberikan banyak hal kepada anak. Ia merasa telah membiayai anak sekolah, membesarkan anak, memberi makan, dan menyediakan segala kebutuhan anak. Namun terkadang mereka lupa, akan kebutuhan yang paling utama, yaitu perhatian dan kasih sayang yang tulus. Sehingga saat orang tua meminta anaknya melakukan sesuatu, ia memerintah dengan sesenaknya dan kurang dilakukan dengan kasih sayang. Menurut beberapa orang tua mungkin contoh cara memberikan instruksi di atas terkesan biasa-biasa saja. Namun anak-anak memiliki hati yang sensitif. Agar anak lebih merasa diperhatikan dan disayang oleh orang tuanya, sebaiknya orang tua perlu memperhatikan hal-hal di bawah ini. Inilah penuturan dari Kami:

1. Dekatilah anak

Jangan memerintah anak dari jarak yang terlalu jauh. Karena dengan jarak yang terlalu jauh, anda tidak akan memungkinkan untuk menggunakan suara lembut. Padahal anak-anak sangat peka dengan suara. Bila ia diperintah dengan suara lembut, hatinya akan lebih tenang. Sehingga saat ia melaksanakan perintah orang tua, ia akan melakukannya dengan tulus.

2. Perlunya sentuhan

Bagi anak-anak, sentuhan dari orang tua sangatlah berarti. Memberikan perintah kepada anak dengan cara mendekati anak lalu menepuk, mengusap kepala, atau memegang tangan adalah hal yang penting. Selain sentuhan anak juga memerlukan...

3. Tatapan mata

Apakah anda tau arti sebuah istilah, "Dari mata turun ke hati." Memang benar, tiada kasih sayang yang tulus tanpa ada kontak secara langsung bila tidak ada kontak antar mata. Mata adalah jendela hati. Kasih sayang yang tulus akan terpancar dari tatapan mata. Perintahlah anak dengan menatap matanya. Hal ini akan membuatnya lebih tenang dan yakin bahwa apa yang diperintahkan orang tua adalah demi kebaikan sang anak, bukan hanya kemauan atau ego orang tuanya sendiri.

4. Ucapkan "Terima kasih"

Bila anak sudah melakukan apa yang Anda minta, jangan lupa untuk berterima kasih. Ucapan terima kasih juga bisa diberikan setelah Anda selesai memerintah buah hati anda. Ucapan terima kasih dari orang tua adalah penghargaan yang istimewa. Dengan mengucapkan terima kasih, anda telah mengajarkan anak anda tentang cara menghargai orang lain.

Baca juga Belajar Pendidikan Karakter Dari Sepak Bola

Terkadang orang tua mengabaikan 3 poin di atas, sehingga terkadang anak-anak menjadi terkesan keras kepala karena "ogah-ogahan" dalam melakukan instruksi dari orang tua. Orang tua pun terkadang menjadi merasa kurang dihargai dengan sikap sang anak yang menurutnya kurang sopan. Sehingga terjadilah kemarahan yang berlarut-larut hanya karena suatu hal yang sederhana. Bagaimana dengan anda? Sudah memerintah anak Anda dengan cara yang benar?

Thursday, 6 October 2016

Latih Kecerdasan Anak Sejak Dini dengan 4 Kegiatan Berikut!

Latih Kecerdasan Anak Sejak Dini dengan 4 Kegiatan Berikut!


Homeschooling Surabaya-Homeschooling Pena, 06 Oktober 2016

Setiap orang tua tentu ingin melihat anaknya tumbuh cerdas. Nah, tentu hal ini bisa Anda asah dan mulai sejak ia masih kecil bahkan sejak masih bayi. Menurut para ahli, ada 4 kegiaan yang efektif mampu melatih kecerdasan anak sejak dini.
Mulai dari kegiatan sehari-hari, tentu anak akan mendapatkan pelajaran berharga dari lingkungannya. Apa saja kegiatan tersebut? Yuk simak ulasan berikut ini.

Ceritakan kegiatanmu sehari-hari

Menurut beberapa ahli, meneceritakan segala hal pada bayi dapat memicu peningkatan pada IQnya dan mempercepat proses dia belajar, seperti membaca.

Keluarkan dari stroller

Sebisa mungkin keluarkan bayi kamu dari stroller supaya dia bisa berjalan-jalan sambil mengeksplor sekitarnya. Seperti menyentuh benda-benda yanga ada di sekitarnya. Namun, yang harus Anda selalu ingat dan waspada adalah dengan mengawasinya setiap saat.

Tunjukkan ekspresi wajah dan suara-suara lucu

Menurut Gopnik, membuat dan menunjukkan ekspresi wajah yang lucu dapat membantu bayi belajar berkomunikasi dan membaca emosi di wajah orang lain. Membuat suara-suara lucu yang membuatnya tertawa adalah salah satu langkah untuk mengembangkan rasa humor buah hati.

Habiskan waktu bersama
Saat dirumah bersama si kecil, habiskanlah waktu kalian bersama. Seperti saat waktu makan atau sekedar mengganti popok dan jangan pernah segan untuk melakukan kontak mata dan fisik. Kontak ini yang akan membuat buah hati merasakan kontak dan aspek sosial.

Baca juga Peran Pola Asuh Dalam Membentuk Karakter Anak 

Thursday, 29 September 2016

Inilah Cara Mendidik Anak Agar Bisa 2 Bahasa

Inilah Cara Mendidik Anak Agar Bisa 2 Bahasa


Homeschooling Surabaya-Homeschooling Pena, 29 September 2016

mengharapkan agar anak-anaknya cerdas, sukses dan membanggakan. Namun, untuk meraihnya membutuhkan proses yang sedikit rumit. Mendidik anak memang bukan hal yang mudah, butuh kesabaran dan pengertian untuk melakukannya. Kita harus mendidiknya sejak dari dalam kandung sampai dia tumbuh besar. Apalagi zaman sekarang ini, pergaulan semakin luas dan komunikasi sangat penting. Penggunaan bahasa Inggris dalam komunikasi pun sudah lazim dipakai oleh anak-anak zaman sekarang. Tentu Anda tidak mau kalau anak tidak bisa memahami bahasa Inggris atau bahasa asing.

Jadi, mulai sejak dini upayakan supaya anak Anda mampu menguasai beberapa bahasa untuk masa depannya kelak. Mau tahu apa saja yang harus dilakukan untuk mendidik anak supaya bisa menggunakan 2 bahasa?

1. Jangan biasakan bicara menggunakan bahasa bayi

Walaupun bayi belum bisa mengucapkan sepatah kata pun, setahun pertama merupakan masa terpenting dalam membangun pondasi bahasa. Otak bayi akan memproses struktur arti bahasa sebelum mulai berbicara. Sebaiknya balas celotehan bayi dengan bahasa yang benar, bukan bahasa bayi. Meski dia belum memahaminya, tapi otaknya telah terstimulasi ketika Anda berbicara kepadanya. Ketika dia sudah pandai berbicara tentu sudah mampu memahami perbedaan bahasa yang Anda gunakan bicara padanya. Anak-anak yang sudah biasa dilatih fasih berucap akan lebih mudah menangkap 2 bahasa. Penelitian mengungkapkan seiring pertumbuhan bayi adaptasi terhadap bahasa terus menurun. Anak diatas 6 tahun lebih sulit menciptakan koneksi bahasa baru daripada anak usia preschool.

2. Ajarkan anak sambil bernyanyi, bermain dan membaca

Agar anak tertarik mempelajari sesuatu maka, buat suasana menyenangkan. Jadikan sebuah ruangan penuh dengan nyanyian, obrolan, bacaan yang menyenangkan dan lainnya. Apabila kata-kata dikaitkan dengan melodi dan irama akan membuat anak lebih mudah mengingatnya. Mendidik anak melalui cara seperti ini dapat memperkenal dan menambah kosakata baru tanpa berpikir keras.

3. Biasakan untuk berbicara 2 bahasa

Mendidik anak supaya pandai dalam 2 bahasa adalah membiasakannya berbicara 2 bahasa. Sebagai orang tua, Anda harus bisa memberinya contoh untuk berbicara 2 bahasa. Caranya apabila ayah menggunakan bahasa Indonesia, maka ibu menggunakan bahasa Inggris saat berbicara pada anak. Konsisten lakukan hal tersebut sehingga anak Anda tidak bingung nantinya. Hal itu juga membuatnya muda membedakan mana bahasa Indonesia dan mana bahasa Inggris. Supaya cara ini terwujud dengan baik, ayah dan ibu harus sama-sama meluangkan banyak waktu bersama dengan anak.

4. Pastikan orang tua fasih dan lancar 2 bahasa

Pastikan Anda sebagai orang tua fasih dan lancar memahami 2 bahasa. Kalau Anda tidak fasih, bisa belajar bersama anak. Misalnya dengan menonton video menyanyi, membaca atau menonton film yang menggunakan teks terjemahan. Bisa juga dengan mengambil kursus bahasa.

5. Manfaatkan teknologi

Selain membeli CD, manfaatkan juga video youtube. Perkenalkan dia dengan budaya negara yang berbeda. Dengan begitu, anak akan lebih cepat menangkap tentang kosakata dan arti kata. Carilah video yang menariknya untuk belajar dan mendidik.

Baca juga Karakter Anak Adalah Karakter Turunan

Itulah cara mendidik anak agar menguasai 2 bahasa dalam kehidupannya. Cukup mudah melakukannya, asalkan Anda sebagai orang tu selalu sabar dan mengerti dengan keadaan anak.

Friday, 23 September 2016

9 Kesalahan Fatal Dalam Mendidik Anak

9 Kesalahan Fatal Dalam Mendidik Anak



Meskipun banyak orangtua yang mengetahui, bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab yang besar, tetapi masih banyak orangtua yang lalai dan menganggap remeh masalah ini. Setiap orangtua pasti selalu ingin yang terbaik bagi anaknya.
Banyak hal yang dilakukan agar anak tersebut menjadi manusia yang berguna, bahkan orangtua selalu mengatakan bahwa anaknya harus lebih baik dari dirinya sendiri dalam berbagai hal, baik ilmunya, pendidikannya, dan dalam segala hal.

Namun kenyataannya secara sadar ataupun tidak, orangtua sering membuat kesalahan dalam mendidik putra-putrinya. Bagaimana cara mendidik anak yang benar? Hindari 9 kesalahan fatal dalam mendidik anak berikut ini.

1. Kurang Pengawasan

Seringkali anak terlalu banyak bergaul di lingkungan yang semu di luar lingkungan keluarga, dan itu merupakan hal buruk yang seharusnya mendapatkan perhatian dari orangtuanya. Jangan biarkan anak anda di luar sendirian, karena bagaimanapun anak anda membutuhkan perhatian anda sebagai orangtua.

2. Gagal Mendengarkan

Banyak orangtua yang terlalu lelah dalam memberikan perhatian pada anak dan cenderung kurang peduli pada apa yang anak-anak mereka ungkapkan. Misalnya saat seorang anak laki-laki pulang dengan mata yang terlihat lebam, pada umumnya orangtua langsung menanggapi kondisi anaknya tersebut dengan berlebihan, mengira-ngira si anak terkena benturan bola, atau bahkan berkelahi dengan temannya di sekolah. Tetapi faktanya, orangtua tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga anaknya sendiri yang bercerita.

3. Meluruskan Kesalahan Anak

Orangtua sebaiknya membiarkan terlebih dahulu jika anak melakukan suatu kesalahan, jangan langsung memvonisnya bersalah, biarkan anak anda belajar dari kesalahannya agar kesalahan tersebut tidak terulang di lain waktu. Tentu saja apabila kesalahan anak tidak membahayakan jika dibiarkan terlebih dahulu, namun maksudnya adalah kesalahan kecil yang membuat anak bisa belajar mengatasinya. Bantu anak anda untuk dapat mengatasi masalahnya sendiri.

4. Terlalu Berlebihan

Banyak orangtua yang banyak menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri. Tetapi sangat sedikit yang meluangkan waktu bersama anaknya. Seorang ibu bisa bermake-up berjam-jam dan hanya punya sedikit waktu untuk anaknya sendiri. Luangkan waktu yang lebih banyak untuk mendampingi anak agar dapat memacu dan menumbuhkan kretifitas pada anak.

5. Bertengkar di Hadapan Anak

Perilaku orangtua yang sangat mempengaruhi dan merusak mental anak adalah bertengkar di hadapan anak. Ketika orangtua bertengkar di hadapan anak, khususnya jika anak anda adalah anak lelaki, maka nantinya anak tersebut mejadi pria dewasa yang tidak sensitif yang tidak dapat menjalin hubungan dengan wanita dengan cara yang sehat sehat.
Sebaiknya jika orangtua sedang bertengkar seharusnya mereka tidak memperlihatkannya pada anak-anak yang ada di sekitar mereka. Wajar saja bila orangtua bertengkar dan memiliki perbedaan pendapat pendapat tetapi sebisa mungkin harus dilakukan tanpa amarah, karena hal itu dapat menimbulkan perasaan tidak aman dan rasa takut bagi anak.

6. Tidak Konsisten 

Anak harus menyadari peran orangtua mereka. Oleh sebab itu orangtua harus konsisten dengan ucapannya. Cara mendidik anak saat ini sering bertolak belakang antara ucapan dan perbuatan orangtua. Saat anak meminta jajan makanan yang tidak sehat baginya, orangtua jelas melarang.
Namun saat anaknya terus saja merengek dan menangis, akhirnya orangtua menyerah dan memberikan uang pada si anak untuk membeli makanan tersebut. Ini tidak baik bagi psikologis anak, dalam pikirannya akan tertanam bahwa orangtuanya tidak konsisten. Nanti jika ia menginginkan hal lain dari orangtuanya, ia akan melakukan hal yang sama dan terus menerus hingga usianya bertambah.

7. Mengabaikan Kata Hati

Orangtua apalagi seorang Ibu, biasanya mempunyai kepekaan yang tajam tentang anaknya. Sudah saatnya mereka mendengarkan kata hatinya dalam mendidik anak, jangan sampai nuraninya dikalahkan oleh hal-hal lain yang dapat menyebabkannya salah dalam mendidik anak.

8. Terlalu Banyak Nonton TV

Neilsen Media Research melaporkan bahwa anak-anak di Amerika dengan usia 2-11 tahun menghabiskan waktunya untuk menonton TV 3 jam dan 22 menit dalam sehari. Saya rasa di Indonesia juga tidak jauh berbeda, bahkan sebagian anak lebih lama dari itu dalam menyaksikan siaran TV. Terlalu banyak menonton TV akan membuat anak jadi malas dalam belajar.

Ironisnya, banyak orangtua cenderung membiarkan anak mereka berlama-lama di depan TV, hal itu mereka lakukan daripada mengganggu aktifitas mereka sebagai orangtua. Jika demikian, semua acara TV yang negatif dan tidak sesuai dengan usia anak juga akan masuk pada kepala dan orangtua tidak akan bisa memfilternya. Dampingi anak anda saat menonton TV dan pilihkan acara yang sesuai dengan usianya dan batasi kegiatannya dalam menonton TV setiap hari.

9. Segalanya Diukur Dengan Materi

Anak membutuhkan quality time bersama orangtuanya. Tidak cukup hanya memberi anak berbagai benda dan mainan yang bisa mereka koleksi. Karena anak juga membutuhkan orangtua untuk mendengarkan mereka dibandingkan dengan anda memberinya sesuatu dan diam. Ini berdampak kurang baik bagi psikologis anak.

Baca juga Bentakan Dapat Membunuh Sel Otak Anak

Itulah 9 kesalahan fatal dalam mendidik anak yang sering dilakukan oleh sebagian orangtua, baik sadar ataupun tidak. Memang masih banyak kesalahan-kesalahan lainnya yang tidak bisa dituliskan disini. Namun semoga 9 tips di atas dapat memberikan sedikit masukan untuk anda agar menjadi orangtua yang lebih baik.

Semoga bermanfaat.
( sumber : pendidikan karakter )


Thursday, 22 September 2016

Cara Jitu Mengajari Anak Belajar Menulis

Cara Jitu Mengajari Anak Belajar Menulis


Homeschooling Surabaya-Homeschooling Pena, 22 September 2016

Siapa sih orang tua yang tidak ingin anaknya pandai menulis? Menulis memang sudah mulai dibelajarkan sejak anak di sekolah. Kadang orang tua mengalami sedikit kesulitan ketika mengajari anak belajar menulis. Yang namanya anak kecil mereka akan cenderung lebih memilih kegiatan yang menyenangkan bila Anda mengajari menulis dengan cara yang kaku dan bersifat memaksa mereka.

Berikut cara dalam mengajari anak belajar menulis:

1. Buatlah menulis menjadi menyenangkan


Anak-anak akan lebih tertarik pada kegiatan yang menyenangkan. Jadi saat Anda akan mengajari mereka menulis maka sebaiknya gunakan kegiatan yang menyenangkan. Misalnya dengan mengajak mereka belajar sambil bermain. Menyisipkan kegiatan belajar dalam aktivitas permainan mereka, tentu tidak akan membuat mereka merasa terbebani dan malah akan lebih menyukai aktivitas tersebut.

2. Ajari menulis dimana saja

Kegiatan belajar anak tidak harus dilakukan di dalam ruangan atau tempat resmi. Menulis bisa Anda lakukan dimanapun. Misalnya saat Anda mengajak anak bermain ke pantai. Anda bisa mengajari anak menulis melalui media pasir. Bila Anda mengajak anak bermain di sebuah taman, Anda bisa menggunakan tempat tersebut untuk menciptakan belajar yang nyaman kepada anak.

3. Hindari memaksa anak

Yang namanya paksaan pastilah tidak nyaman. Demikian halnya dengan belajar menulis yang akan dilakukan oleh anak Anda. Sebagai orang tua jangan sekali memaksa anak. Apalagi dengan perkataan dan sikap yang marah manakala melihat mereka tidak belajar atau belum mahir di dalam menulis. Yang terpenting yang harus dilakukan adalah sebaiknya lebih kepada menumbuhkan semangat belajar mereka. Dengan semangat belajar maka anak akan tumbuh inisiatif sendiri untuk belajar tanpa harus dipaksakan oleh orang tua untuk belajar.

4. Lengkapi dengan fasilitas belajar

Anak sekolah terlebih yang masih kecil merupakan anak yang masih tumbuh dan berkembang penuh dengan stimulus dan media. Jadi ketika Anda akan mengajari mereka suatu keterampilan, maka berikanlah sebuah media pendukung. Media menulis misalnya pensil yang lucu, buku tulis bergambar disertai dengan tulisan-tulisan yang bisa mereka tebalkan, atau garis putus-putus yang bisa mereka hubungkan untuk menjadi sebuah rangkaian huruf yang memiliki sebuah arti.

Itulah cara jitu dalam mengajari anak belajar menulis. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

Tuesday, 20 September 2016

Ini Cara Mengurangi Kebiasaan Anak Mengeluh

Ini Cara Mengurangi Kebiasaan Anak Mengeluh


Homeschooling Surabaya-Homeschooling Pena, 21 September 2016

Mengeluh adalah salah satu kebiasaan yang tidak pernah lepas dari anak-anak. Anak-anak yang masih memiliki banyak kelemahan akan membutuhkan bantuan dari orang tua dalam banyak hal. Sebagai orang tua, Anda harus bisa bersabar. Anda tidak boleh serta merta melarang anak saat ia mulai mengeluh ini dan itu. Bagaimana pun sifat atau kebiasaan ini bisa dikurangi, meskipun tidak secara instan. Bagaimana pun proses yang baik akan menghasilakn produk yang baik. Begitu pula dalam mendidik anak. Orang tua membutuhkan kesabaran agar anak bisa bertumbuh menjadi pribadi yang baik tanpa merasa terpaksa dan tertekan. Berikut ini adalah beberapa cara untuk mengurangi kebiasaan anak mengeluh.

1. Saat anak mengeluh, alihkan pada hal yang lain

Seorang anak sedang berjalan-jalan pagi bersama Mamanya. Ia mengeluh demikian, “Ma… Adik mulai keringetan. Gatel banget nih, Ma… .” Sang Mama langsung menanggapi dengan mengalihkan pada hal yang lain dengan berkata, “Lihat, ada orang jualan mainan lucu tuh…Yuk kita lihat-lihat.” Terkadang anak mengeluh hanya karena hal yang sepele dan tidak membahayakan. Bila Anda tahu bahwa keluhan itu adalah hal yang sepele, sebaiknya Anda bersikap santai dan tidak menganggap itu sebagai hal yang serius. Cara mengatasinya adalah dengan mengalihkan keluhn anak pada hal yang lain, sehingga anak tidak merasa dicuekin. Lama-lama anak akan menganggap bahwa keringetan saat olahraga adalah hal yang wajar dan bukanlah hal yang serius atau perlu dikhawatirkan.

2. Mau mendengarkan keluhan anak

Bila apa yang dikeluhkan anak adalah sesuatu yang serius, Anda juga perlu merespon secara serius. Respon serius tidak perlu dibarengi dengan ekspresi cemas apalagi kaget. Ekspresi kecemasan hanya akan melemahkan mental anak. Karena anak juga akan merasa takut bila mengalami hal yang serupa suatu saat nanti. Sebaiknya orang tua bersikap santai. Dengarkan saja keluhan anak dengan penuh perhatian dan kesabaran. Setelah mendengarkan dan memahami motif anak mengeluh, sebaiknya Anda meminta anak untuk menemukan solusinya sendiri. Bila anak belum bisa menemukn solusinya, Anda bisa membantu anak. Bagaimana pun dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk menemukan jalan keluar mereka saat mengadapi suatu masalah, Anda telah mengajari mereka tentang kemandirian dan sifat mau berinisiatif.

3. Menasihati dalam suasana santai dan ceria

Saat anak dalam suasana hati yang baik, santai, dan terlihat ceria, (bukan sesaat setelah anak bebuat kesalahan) orang tua bisa memberikan asrupan rohani kepadan anak dengan cara menasihati anak. Misalnya mengawalinya dengan pertanyaan, “Adik, mengapa sih kamu kemarin kepanasan sinar mata hari pagi aja mengeluh… . Padahal sinar matahari pagi itu malah baik untuk kesehatan. Seharusnya kamu tidak boleh takut.” Aktivitas ini bisa dilakukan saat bermain bersama anak, makan malam bersama keluarga, atau saat berjalan-jalan ke mall bersama keluarga.

4. Mengajak anak untuk menyelesaikan permasalahan sendiri

Pertengkaran di masa kecil, terutama pertengkaran antar saudara kandung biasa terjadi. Orang tua tidak perlu menganggap pertengkaran ini sebagai sesuatu yang terlalu seris. Orang tua perlu meminta kepada keduanya untuk menyelesaikan permasalahan mereka sendiri secara baik-baik dan kekeluargaan. Dalam hal ini, sikap orang tua dalah bersikap netral. Hal ini akan membantu mereka saat mereka menghadapi konflik dengan sesama anak, termasuk dengan teman-teman sekelas.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda memiliki trik-trik khusus dalam menyikapi sifat suka mengeluh yang sering muncul pada buah hati anda. Silakan berdiskusi dengan cara berkomentar.