Friday, 2 September 2016

Cara Tepat Membantu Anak dalam Mengerjakan PR


Begini Cara Tepat Membantu Anak dalam Mengerjakan PR

Banyak orang tua yang masih belum tahu cara yang tepat dalam mendampingi anak dalam mengerjakan tugas dari guru di sekolah atau PR (Pekerjaan Rumah). Dengan menumpuknya tugas yang diberikan di sekolah dan terkadang membuat anak stres, seringkali kita sebagai orang tua justru ingin turut aktif membantu.
Membantu anak dalam mengerjakan PR merupakan hal yang penting. Karena keberhasilan anak di sekolah sangat berhubungan dengan ketertarikan orang tua untuk terlibat dalam pendidikan anaknya.

Lalu, bagaimana sih cara tepat membantu anak dalam mengerjakan PR-nya? Yuk simak ulasan berikut ini.

Menyediakan tempat nyaman untuk mengerjakan PR

Ada baiknya Anda menyediakan tempat khusus bagi anak yang akan mengerjakan PR. Pastikan kalau tempat tersebut bisa membuatnya merasa nyaman dan betah mengerjakan PR. Pastikan kalau Anda melibatkannya dalam pemilihan. Sediakan juga fasilitas yang dia butuhkan seperti perlengkapan sekolah atau komputer, yang akan membantu mereka mencari informasi dari internet.

Cukup mengawasi

Ingatlah bahwa pekerjaan rumah adalah tugas yang harus diselesaikan sendiri oleh anak. Oleh karena itu, jangan pernah mencoba untuk mencari tahu dan memberikan jawaban kepada anak karena hal tersebut akan membuatnya semakin malas. Yang perlu Anda lakukan hanyalah memberikan bantuan ketika dia mengalami masalah. Bantuan yang berikan juga hanya dengan memberi tahunya cara untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang diberikan. Setelah anak mulai mengerti, dia pasti sudah bisa melanjutkan sendiri pekerkaan. Setelah pekerjaannya selesai, Anda bisa memeriksanya dan mengoreksi jika ada yang salah.

Mencari tahu hal yang diinginkan Guru

Usahakan untuk menjalin komunikasi dengan gurunya. Dengan begini Anda bisa mengetahui hal apa saja yang menjadi harapan dan keinginan seorang guru kepada buah hati Anda. Anda juga harus tahu cara mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya. Menjalin komunikasi dengan guru juga akan membantu Anda untuk mengetahui bagaimana perkembangan anak, apakah dia kesulita belajar, memiliki masalah kemampuan belajar, suka menunda tugas dan sebagainya. Setelah itu, komunikasikan dengan anak tentang hal tersebut. Katakan kepadanya kalau Anda akan membantu dan mendukungnya untuk bisa berprestasi.

Puji usaha mereka, bukan hasil akhirnya

Anak-anak perlu belajar pentingnya kerja keras dan usaha. Pekerjaan rumah menyediakan kesempatan besar bagi Anda untuk memperkuat ketekunan anak. Mungkin Anda dapat memotivasi anak untuk tidak lekas menyerah, tekun menjalani, dan tidak putus asa bila menemui kesulitan. Satu-satunya cara agar anak-anak belajar tentang nilai usaha adalah dengan menekankan kepada mereka tentang pekerjaan yang harus diselesaikan setelah dimulai.

Nah, itu dia beberapa tips penting bagi Anda orang tua yang ingin membantu anaknya dalam mengerjakan PR. Kunci utama dalam membantu anak mengerjakan PR sebenarnya ialah komunikasi serta perhatian dari Anda. Dengan begitu anak akan merasa terbantu ketika Anda selalu menyemangati serta memberikan perhatian padanya.

Thursday, 1 September 2016

Pantangan Saat Menasihati Anak Didik

Pantangan Saat Menasihati Anak Didik


Homeschooling Surabaya-Homeschooling Pena, 02 September 2016,

Para ahli berpendapat bahwa tidak ada anak yang nakal atau bandel. Mereka hanya masih belajar untuk melakukan sesuatu dengan baik. Bila mereka melakukan suatu kesalahan, biasanya itu bukan berasal dari hati nurani atau keinginan mereka, namun ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Misalnya keadaan emosi sedang tidak baik, kurang bisa mengontrol luapan rasa senang mereka, atau karena faktor-faktor yang lain, misalnya latar belakarang keluarga dan lingkungannya. Maka sebagai pendidik anak-anak usia dini, kita perlu memperhatikan hal-hal di bawah ini saat menasihati anak-anak didik kita.

1. Memberikan Label

Kalimat-kalimat seperti “kamu anak nakal”, “kamu bohong ya…”, “kamu kok malas”, dan kata-kata yang terkesan memberikan “label” kepada anak didik kita perlu kita hindari. Anak-anak memiliki daya ingat yang baik, terutama adalah hal-hal yang bersifat menarik dan hal-hal yang menyakiti hati mereka. Bila kita melabeli anak, misalnya dengan kata “pembohong”, maka hal itu akan terekam dalam memori mereka. Akan lebih baik bila kita menggunakan kata-kata yang positif, misalnya “Bapak tahu kamu anak yang jujur. Ingat, kalau kita mengatakan segala hal dengan jujur, maka kita akan dipercaya oleh banyak orang.”

2. Nada Biacara Kurang Pantas

Saat anak-anak didik ribut di kelas, kita bisa menenangkan mereka dengan cara berteriak dengan suara keras. Dalam sekejap, anak-anak pasti akan diam. Nada biacara yang terlalu tinggi apalagi dengan berteriak memang akan mengubah anak dengan cepat. Namun biasanya perubahan itu tidak berlangsung lama. Bahkan suatu saat, suasana kelas bisa menjadi semakin gaduh, karena setiap anak akan mencoba menenangkan teman-teman mereka dengan nada yang tinggi dan sambil berteriak. Ingat, kita adalah guru. Digugu dan ditiru.

3. Kata-kata Kasar

Kata-kata kasar biasanya akan lebih mudah diingat oleh anak-anak. Maka sebagai pendidik, kita perlu menjaga kata-kata kita. Hindarilah kata-kata yang kasar dan tidak sopan, namun perbanyaklah menggunakan kata-kata yang positif dan bersikap membangun. Misalnya, saat kita menemukan anak yang suka berlari di dalam kelas, kita jangan mengatakan, “Kamu jangan lari-lari terus!”, melainkan katakanlah, “Sebaiknya kamu berjalan saja.”

4. Membandingkan dengan Teman Lainnya

Hal yang perlu kita pegang adalah bahwa anak-anak adalah unik. Mereka memiliki karakter, kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Bila anda membandingkan anak satu dengan yang lain, hal itu akan membuat anak enggan untuk mengembangkan sisi positif mereka, dan akan cenderung meniru orang lain. Dengan kata lain mereka akan menjadi kurang berinisiatif, dan memiliki sifat yang maunya ikut-ikutan.

5. Terlalu Menggeneralisasikan

Ada anak didik yang suka bermain video game. Kebetulan ia mengalami kemunduran prestasi belajar di sekolah. Anda tidak boleh menjadikan alasan “bermain game” sebagai sesuatu yang akan membawa efek buruk bagi anak. Karena bagaimana pun bermain game juga bisa menjadi sarana rekreasi bagi anak. Dan hal yang terpenting adalah masalah pengelolaan waktu. Asalkan anak bisa mengelola waktu dengan baik, pasti prestasi belajar di sekolah tidak akan terganggu.

6. Menyalahkan Anak di Depan Umum

Hindarilah menyalahkan anak, apalagi dengan cara membentak-bentak di depan umum, atau di depan teman-teman mereka. Bagaimana pun anak-anak juga sudah merasa memiliki harga diri yang perlu di jaga. Saat anda menyalahkan dan membentak anak di depan umun, Anda secara langsung telah mempermalukan anak di depan umum. Efek buruknya, anak bisa kehilangan semangat untuk bersosialisasi dan lebih suka menutup diri.
Bagaimana pun hal-hal di atas tidak perlu terjadi bila ada komunikasi yang baik antara pendidik dan anak didik. Komunikasi yang baik akan menumbuhkan jalinan kasih sayang yang tulus. Dari kasih sayang inilah pendidik akan lebih mudah dalam membentuk pribadi anak, dan anak-anak akan lebih mencontoh pendidik tidak hanya dari perkataan, namun juga perilaku atau teladan hidup sehari-hari.

Semoga Bermanfaat

 

Monday, 29 August 2016

Cara Mudah Melatih Anak Mau Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga


Cara Mudah Melatih Anak Mau Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga



memang bukanlah pekerjaan yang mudah bagi orang dewasa. Mulai dari bangun pagi hingga menjelang malam kembali, pekerjaan rumah memang tidak ada habisnya untuk dikerjakan. Maka dari itu terkadang ibu rumah tangga kelihatan bosan dan jenuh dengan pekerjaan ini. Sehingga tidak sedikit ibu rumah tangga yang mencari pembantu untuk menangani pekerjaan rumah tangga tersebut.

Mendidik anak untuk terbiasa sejak dini ikut mengerjakan pekerjaan rumah sangat penting untuk dibiasakan. Hal tersebut akan memberikan pengalaman kepada anak sehingga kelak setelah mereka dewasa maka hal tentang pekerjaan rumah tangga tidak akan menjadi masalah. Jadi, bagaimana mendidik agar anak mau ikut mengerjakan pekerajaan rumah tangga? Tidak begitu sulit bagi Anda bila mendidik anak agar bisa terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Tapi Ingat, pekerjaan rumah tangga yang dimaksud adalah pekerjaan yang ringan dan mudah. Jangan sekali Anda memberikan pekerjaan yang super berat kepada mereka.

Berikan pekerjaan yang ringan kepada anak

Memulai mendidik anak agar mau bekerja mengerjakan pekerjaan rumah tangga harus Anda mulai dengan memberikan pekerjaan yang mudah, ringan dan cepat terlihat hasilnya. Sedikit demiki sedikit ketika anak sudah mampu menyelesaikan tugas tersebut barulah menambah tanggung jawab anak akan tugas seiring dengan kedewasaan anak. Mereka akan berbangga hati manakala semua itu bisa mereka kerjakan dengan baik. Jangan sekali Anda memberikan tugas yang cukup berat. Anda tentu tau sejauh mana kemampuan anak Anda. Maka dari itu agar anak secara bertahap bisa mengerjakan pekerjaan tumah tangga, berikanlah mereka tugas yang mudah, Anak tidak akan merasa terbebani dan Anda sebagai orang tua akan menjadi sosok yang bijak.

Ajaklah anak ikut mengerjakan pekerjaan rumah tangga

Ketika Anda ingin mengajarkan anak bagaimana cara mencuci piring sehabis makan, maka ajaklah anak Anda untuk ikut mengambil pekerjaan mencuci piring tersebut. Anak akan lebih terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah bila mereka dibelajarkan secara langsung. Sekali lagi catatan pekerjaan yang diberikan haruslah ringan .

Jangan mengejek dan memarahi

Setiap orang pasti kadang pernah melakukan kesalahan, baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja. Nah, ketika anak Anda berusaha mengerjakan pekerjaan rumah tangga janganlah Anda memarahinya. Memarahi anak ketika mereka belajar mengerjakan pekerjaan rumah akan mematahkan semangat mereka untuk bekerja secara mandiri.

Beritahu tugas-tugas yang harus dikerjakan

Mengajari anak-anak usia dini tentu sangat berbeda dengan orang dewasa. Anda harus memberikan instruksi bertahap dan terus menerus hingga mereka memahaminya. Salah satu langkah yang harus Anda lakukan adalah menjelaskan tiap-tiap tugas yang harus dikerjakan. Misalnya, mengenai cara menata sepatu, meletakkan pakaian kotor, jadwal menyapu lantai, dan sebagainya.

Kegiatan tanpa jadwal

Dengan urutan kegiatan yang berbeda setiap harinya, anak-anak akan lebih senang dan tidak terbebani. Sebab dengan rutinitas yang tetap setiap harinya akan membuat anak-anak bosan. Misalnya pada hari pertama Anda dapat mengajak anak-anak mencuci baju terlebih dahulu baru menyapu lantai. Nah, pada hari berikutnya, Anda dapat menukar rutinitas tersebut atau menyisipkannya dengan kegiatan lain yang dapat memberikan kesenangan untuk anak.

Itulah beberapa cara melatih anak membantu pekerjaan rumah tangga. Sebaiknya Anda selalu mengajak anak-anak berlatih dengan kesabaran serta menciptakan suasana yang menyenangkan.

Wednesday, 24 August 2016

Ini Sikap yang Harus Ditunjukkan Para Orang Tua Saat Anak Pulang Sekolah

Ini Sikap yang Harus Ditunjukkan Para Orang Tua Saat Anak Pulang Sekolah


Homeschooling Pena-Homeschooling Surabaya, 25 Agustus 2016,

Setiap tempat memiliki adat tradisi dan kebiasaan yang berbeda. Demikian pula dengan keluarga. Setiap keluarga memiliki kebiasaan yang berbeda dalam segala hal. Tidak terkecuali ketika anak pulang dari sekolah. Sekolah memang memiliki peran dalam mendidik anak Anda. Namun, waktu yang dimiliki sekolah sangat terbatas sehingga orangtua lah yang memiliki tugas berikutnya dalam mendidik anak setelah anak pulang dari sekolah. Setelah anak pulang dari sekolah, mungkin perlakuan di setiap keluarga oleh orang tua sangat berbeda.

Bagi orang tua dengan latar belakang perekonomian menengah kebawah ada yang mengajak anak mereka untuk bekerja. Ada juga dari orang tua dengan keadaan ekonomi yang mapan memberikan kesempatan kepada anaknya untuk bermain atau beristirahat di rumah. Terlepas dari hal sikap orang tua dalam menanggapi kegiatan anak sepulang dari sekolah. Ada sikap penting yang seharusnya para orang tua lakukan terhadap anak saat pulang dari sekolah. Mungkin bagi Anda hal tersebut adalah hal yang sangat sepele. Namun, bila Anda lakukan dengan tulus dengan secara terus menerus maka akan memberikan hasil yang memuaskan bagi perkambangan anak Anda.

Berikan senyuman

Menunjukkan kehangatan dalam keluarga harus memberikan yang spesial bagi anak. Senyuman diberikan ketika mereka tiba dirumah, akan memberikan semangat baru kepada anak. Sapalah dengan senyum yang ramah kepada anak.

Makan siang bersama

Ajaklah anak Anda untuk makan siang bersama. Sesibuk apapun Anda sempatkan untuk makan bersama dengan buah hati Anda. Jangan sampai saking sibuknya Anda lupa dengan waktu bersama mereka. Ketika makan bersama banyak cerita yang bisa Anda gali dari anak tentang bagaimana pengalamannya di sekolah. Dengan demikian Anda akan mengetahui bagaimana sikap anak Anda di sekolah.

Jangan marah ketika anak jujur menyampaikan hasil belajarnya

Sering kita lihat para orang tua mungkin sedikit kecewa bila mengetahui hasil belajar anaknya kurang. Bahkan tidak jarang ada orang tua yang tega menghukum anaknya. Sebagai orang tua yang bijak, ketika anak Anda jujur mengatakan hasil belajar yang ia capai di sekolah, meskipun itu hasilnya sangat kurang sebaiknya Anda menerima dan berikan semangat kepada anak supaya dapat meningkatkan nilainya.

Berikan kesempatan anak menceritakan yang dialami di sekolah

Dengarkanlah cerita tentang pengalaman yang anak Anda alami di sekolah. Biarkan mereka menceritakan segala sesuatu yang dialaminya terutama saat belajar di kelas. Dengan cara seperti ini Anda secara tidak langsung sudah meminta anak Anda untuk menceritakan kembali pengalaman mereka di sekolah. Dengan seperti itu Anda akan menemukan apabila ada kejadian yang buruk menimpa anak, bisa Anda ketahui sejak dini dan bisa untuk ditindak lanjuti segara.
Penting bagi Anda para orang tua untuk memberikan perlakuan yang baik bagi anak. Tidak hanya ketika mereka akan berangkat ke sekolah, tetapi juga saat anak pulang dari sekolah. Ketika anak pulang sekolah maka janganlah kita langsung mengintrograsi anak. Tetapi lebih pada melayani mereka.

Semoga Bermanfaat

Friday, 19 August 2016

Sambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia dengan Pekan Lomba’45

Sambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia dengan Pekan Lomba’45

Bulan Agustus bisa disebut juga menjadi salah satu bulan yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Ya. Tepat tanggal 17 Agustus tiap tahunnya, masyarakat seluruh Indonesia dari sabang sampai merauke bersukacita memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI).

Hari kemerdekaan ini biasanya dijadikan sebuah momen menarik untuk lebih dekat bersama keluarga, tetangga dan juga masyarakat sekitar. Layaknya tradisi, peringatan 17 Agustus kerap kali diidentikan dengan perlombaan, upacara , hingga karnaval bertema merah putih.

Nah, tidak ada salahnya untuk Anda orangtua, momen HUT RI ini bisa dimanfaatkan untuk lebih mengenalkan serta menanamkan jiwa nasionalisme sejak dini agar cinta terhadap Indonesia. Ikut sertakan si kecil dalam serangkaian lomba yang diadakan daerah sekitar rumah Anda. Selain mengasah motorik si kecil, mengikuti lomba juga dapat membantu si kecil bersosialisasi dengan teman sebaya lebih baik.

Apa saja sih kegiatan yang bisa Anda lakukan dengan si kecil dalam menyambut hari kemerdekaan?

Partisipasi dalam perlombaan

Dalam ajang tahunan ini, anak-anak diajarkan mengenai sportivitas. tusuk balon tutup mata, masukan paku dalam botol dan lainnya. Perlombaan juga akan membantu si kecil dalam merasakan persaingan secara sehat dan memenangkan sebuah perlombaan. Ajarkan pula agar lebih berbesar hati saat kalah.







Lomba Membaca Pidato Bung Tomo di atas Panggung
Anak-anak berbakat dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi? Ajak anak untuk tampil di atas panggung.Seperti, menyanyi atau menari bersama. Keberanian balita untuk tampil dan respon positif Anda maupun lingkungan dapat membangun rasa percaya dirinya. Kali ini Lomba membaca pidato, ini akan melatih semangat dan lebih percaya diri dengan suara lantang pembacaan pidato pada umumnya









Mengikuti Pameran atau karnaval

Ajak Anak-anak untuk berani mengikuti karnaval atau pameran. Kesempatan ini mengasah rasa percaya diri dan keberanian balita untuk berkomunikasi dan menilai


Hias telur matang dengan nuansa Kemerdekaan Republik Indonesia

Selain mengasah kreatifitas anak, si kecil juga dapat pelajaran berharga mengenai rasa nasionalisme. Ajak anak melukis telur dengan cat atau cat air. Ajak anak untuk menghias dengan tema kemerdekaan, bisa di aplikasikan dengan bentuk atau gambar bendera merah putih, atau dengan warna merah putih, dll yang menggambarkan tentang kemerdakaan Republik Indonesia. Di sini kreatifitas Anak akan diuji dan berkembang.






   
Selamat Memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71!

Thursday, 18 August 2016

Kilas Balik Detik – Detik Proklamasi

Kilas Balik Detik – Detik Proklamasi


Homeschooling Pena-Homeschooling Surabaya, 18 Agustus 2016
Proklamasi Kemerdekaan yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus, adalah sebuah peristiwa bersejarah bangsa Indonesia . Proklamasi, telah mengubah perjalanan sejarah, membangkitkan rakyat dalam semangat kebebasan. Merdeka dari segala bentuk penjajahan. Bagaimanakah sesungguhnya, peristiwa yang terjadi 71 tahun yang lalu?

Proklamasi, ternyata didahului oleh perdebatan hebat antara golongan pemuda dengan golongan tua. Baik golongan tua maupun golongan muda, sesungguhnya sama-sama menginginkan secepatnya dilakukan Proklamasi Kemerdekaan dalam suasana kekosongan kekuasaan dari tangan pemerintah Jepang. Hanya saja, mengenai cara melaksanakan proklamasi itu terdapat perbedaan pendapat. Golongan tua, sesuai dengan perhitungan politiknya, berpendapat bahwa Indonesia dapat merdeka tanpa pertumpahan darah, jika tetap bekerjasama dengan Jepang.

Karena itu, untuk memproklamasikan kemerdekaan, diperlukan suatu revolusi yang terorganisir. Soekarno dan Hatta, dua tokoh golongan tua, bermaksud membicarakan pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dengan cara itu, pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan tidak menyimpang dari ketentuan pemerintah Jepang. Sikap inilah yang tidak disetujui oleh golongan pemuda. Mereka menganggap, bahwa PPKI adalah badan buatan Jepang. Sebaliknya, golongan pemuda menghendaki terlaksananya Proklamasi Kemerdekaan itu, dengan kekuatan sendiri. Lepas sama sekali dari campur tangan pemerintah Jepang. Perbedaan pendapat ini, mengakibatkan penekanan-penekanan golongan pemuda kepada golongan tua yang mendorong mereka melakukan “aksi penculikan” terhadap Soekarno-Hatta.

post-teks pro

Teks proklamasi ditulis di ruang makan di laksamana Tadashi Maeda Jln Imam Bonjol No 1. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah, Sayuti Melik, Sukarni, dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti Melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10: 00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh Ibu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.

post-kibar

Sekalipun sangat sederhana, namun ia telah membawa perubahan yang luar biasa dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia . “Gema lonceng kemerdekaan” terdengar ke seluruh pelosok Nusantara dan menyebar ke seantero dunia. Para pemuda, mahasiswa, serta pegawai-pegawai bangsa Indonesia pada jawatan-jawatan perhubungan yang penting giat bekerja menyiarkan isi proklamasi itu ke seluruh pelosok negeri. Para wartawan Indonesia yang bekerja pada kantor berita Jepang Domei , sekalipun telah disegel oleh pemerintah Jepang, mereka berusaha menyebarluaskan gema Proklamasi itu ke seluruh dunia.

Dirgahayu Indonesiaku!

post-dirgahayu

Friday, 12 August 2016

Cara Terbaik Memahami Anak


Homeschooling Surabaya-Homeschooling Pena, 12 Agustus 2016

Banyak orangtua yang mengikuti seminar saya berkomentar “Oke, teknik yang anda berikan untuk mengatasi masalah anak sangat bagus. Tetapi, saya tidak yakin bisa menerapkan apa yang telah anda ajarkan” lalu tanya saya “Apa sebabnya?”, “Pertama saya tidak disukai anak, berikutnya bagaimana mengkomunikasikan pada mereka?”.

Jelas ini adalah masalah, tetapi tenang saja karena ada cara untuk memahami perilaku anak. Sebelum membahas hal itu ada bagian yang harus anda pahami terlebih dahulu. Banyak orangtua yang bertanya dalam pikiran mereka sendiri:
  • Mengapa anak saya tidak peduli dengan masa depannya?
  • Mengapa mereka melakukan hal-hal yang tidak masuk akal?
  • Mengapa mereka tidak mau mendengarkan walupun sudah diingatkan berkali-kali?
  • Mengapa anak saya membiarkan dirinya dipengaruhi oleh teman-temannya dengan hal-hal negatif yang tidak berguna?
Nah pertanyaan utama, “Bagaimana cara memahami perilaku dan pemikiran mereka?”
Jawabanya adalah EMOSI mereka. Emosi sangat menguasai logika berpikir anak-anak dan remaja. Mereka jauh lebih banyak di dorong oleh perasaan daripada pemikiran mereka. Dengan mengetahui hal ini, maka sia-sia upaya kita mengkuliahi mereka seharian.

Mengisi pikiran mereka dengan nasihat positif, dan menjadikan diri kita motivator di depan mereka tidak akan berhasil. Justru akan membuat anak bertambah sebal dengan kelakuan kita. Komentar atau nasihat seperti, “Kamu harus giat belajar”, “Jangan buang waktumu dengan bermain terus”, “Jaga kebersihan kamarmu”, kecuali bila kita sudah terlebih dahulu mengenali perasaan mereka.

Dalam kondisi emosi yang negatif seorang anak tidak dapat menerima input dan nasihat yang dapat mengubah perilaku mereka. Berbeda hasilnya jika kita mampu mengerti dan mengenali perasaan emosi mereka terlebih dahulu, maka mereka akan terbuka dan mendengarkan saran logis dari kita. Anak–anak dan remaja akan melakukan sesuatu jika membuat mereka merasa nyaman di hatinya.
Sebelum melangkah lebih jauh, kita akan belajar bersama, bagaimana reaksi kita dalam menghadapi masalah anak tersebut. Seringkali jika ada masalah maka yang ada di benak kepala kita umumnya ada 3 hal, yaitu :

1. Memberi nasihat, misalnya “Saya tadi berkelahi dengan Agus di sekolah”, respon kita pada umumnya “Apa-apaan kamu ini, sekolah bukan tempat untuk berkelahi, hanya penjahat yang menyelesaikan masalahnya dengan berkelahi.”

2. Menginterogasi, misalnya “HP saya hilang di sekolah”, respon kita pada umumnya “Kamu yakin bukan kamu sendiri yang menghilangkan? Coba di ingat kembali.”

3. Menyalahkan dan menuduh, misalnya “Tadi Edo dihukum karena tidak mengerjakan PR”, respon kita pada umumnya “Dasar anak malas, mulai hari ini kamu harus lebih disiplin dan memperhatikan tugas di sekolah.”

Setelah melihat ketiga contoh diatas, tidak ada satu ruang pun untuk mengakui perasaan atau emosi anak, betul? Seringkali kita ini hanya memberikan masukan tanpa mau mendengar apa yang sebenarnya terjadi, atau lebih tepatnya perasaan apa yang terjadi pada diri anak kita.

Ketika emosi seorang anak diabaikan mereka akan lebih marah dan benci. Selama ini mereka berada dalam keadaan emosi negatif, semua nasihat-nasihat maksud baik kita tidak akan digubris.
Cara terbaik untuk memahami anak kita adalah, mengakui emosinya (kenali emosinya) dan beri mereka kekuatan untuk menemukan solusi atas masalah mereka sendiri. Caranya adalah:

1. Berikan perhatian dan pengakuan

Terkadang yang dibutuhkan anak hanya didengar saja, bukan solusinya. Hanya memberikan perhatian 100% kita bisa terkejut, ternyata anak mau terbuka, mau berbagi pikiran dan perasaannya.
Hanya dengan berkata “Hmm.. oke, begitu ya.. lalu..” Walau nampaknya sederhana, jujur ini sulit bagi kita orangtua yang terbiasa mau mengambil jalur cepat, dengan memberikan solusi dan menyelesaikan masalah.
Ketika hal itu kita lakukan, justru anak akan menutup diri, dan menghindar untuk bicara dengan kita. Anak hanya akan meyatakan pikiran dan perasaan yang sejujurnya tanpa takut dihakimi.
Ketika kita biarkan anak mengungkap emosi dan pikirannya dengan bebas (saat kita ada untuk memberi dukungan emosional), kita akan melihat mereka dapat menemukan solusi sendiri untuk permasalahan mereka.
Kelebihan lainnya dari pendekatan ini adalah anak akan mengembangkan rasa percaya diri dengan berpikir untuk dirinya sendiri, dan berani menghadapi tantangan – tantangan hidup. Misalnya “Saya tadi berkelahi dengan Agus, di sekolah”, respon kita “Apa yang terjadi? Lukamu pasti sakit sekali yah..”

2. Mengenali dan menggambarkan emosi

Perlu bagi kita sesaat untuk mempelajari makna dari emosi, karena ini penting bagi kita untuk bisa mencerminkan emosi anak, dan mengerti dengan pasti apa yang mereka rasakan. Dengan dimengertinya perasaan mereka, maka mudah bagi mereka untuk terbuka dan bicara tentang masalah mereka. Berikut adalah emosi yang umumnya dialami oleh manusia.
Nama emosi dan artinya :
  • Marah – Merasakan adanya ketidakadilan
  • Rasa bersalah – Kita merasa tidak adil terhadap orang lain
  • Takut – Kita diharapkan antisipasi karena sesuatu yang tidak diinginkan bisa saja terjadi
  • Frustrasi – Melakukan sesuatu berulangkali dan hasilnya tidak sesuai harapan
  • Kecewa – Apa yang diinginkan tidak bisa terwujud
  • Sedih – Kehilangan sesuatu yang dirasa berharga
  • Kesepian – Kebutuhan akan relasi yang bermakna bukan hanya sekedar berteman
  • Rasa tidak mampu – Kebutuhan untuk belajar karena ada sesuatu yang tidak bisa dilakukan dengan baik
  • Rasa bosan – Kebutuhan untuk bertumbuh dan mendapatkan tantangan baru
  • Stress – Sesuatu yang terlalu menyakitkan dan harus segera dihentikan
  • Depresi – Sesuatu yang terlalu menyakitkan dan harus segera dihentikan
    Baiklah kita mulai dengan satu kasus, jika anak anda datang dan berkata “Joni tidak mau bermain bola denganku” Apa jawab anda? “Sini main sama papa/mama, main sama yang lain saja ya, atau ya sudah main sendiri saja.” Ketiga jawaban ini sekilas adalah jawaban klasik, dan memang dibenarkan karena sering dipakai.

    Pertanyaan saya ada emosi apa dibalik kata-kata anak tersebut? KECEWA dan KESEPIAN. Nah, kalau begitu responnya bagaimana? “Hmm.. nak kamu ingin sekali ya bermain dengan Joni?” atau “Hmm.. kamu kesepian yah, ingin bermain ya?” lalu tunggu responnya, biasanya anak akan bercerita panjang lebar, kemudian solusi sebaiknya diserahkan kepada anak.
    Caranya “Lalu apa yang bisa Papa/Mama bantu? Ingin bermain dengan Papa/Mama? Atau ada ide lain?” Biarkan anak memilih solusi terbaik bagi dirinya. Perhatikan tabel diatas dan gunakan untuk berkomunikasi dengan anak, pahami seiap kasus yang dialami anak.

    Dengan turut mengerti perasaan emosi anak dan membiarkan menemukan solusi masalahnya sendiri, maka anak akan merasa dipahami dan nyaman. Serta akan tumbuh rasa percaya diri di lingkungan yang menghargai dia. Dan berikutnya akan mudah bagi anak untuk terbuka terhadap orangtuanya, dan sikap saling percaya antara orangtua dan anak akan terbentuk dengan baik.

    Sampai kini, kita telah belajar bagaimana caranya agar anak terbuka dan percaya pada kita, betul? Berikutnya bagaimana caranya mengarahkan? Setelah kita mendengar dan mengerti perasaan dan emosi anak, serta menanyakan solusi terbaik menurut anak (jika anak sudah mampu berpikir untuk solusi) tanyakan “Bolehkah Papa/Mama memberi saran?” setelah ada ijin dari anak maka berikan masukan yang anda rasa paling barik.

    Terkadang cara pandang anak tidak sama dengan orangtua, kita tahu jika anak memilih solusi yang kurang tepat (menurut orangtua) dengan nilai atau norma yang berlaku di lingkungan sosial, maka kita bisa mengarahkannya dengan mudah karena langkah 1 dan 2 sudah dilakukan. Tentunya dengan model komunikasi yang sopan dan tetap menghargai anak.
    Pintu gerbang kekerasan hati anak akan terbuka lebar saat kita mau menerima dan mengerti anak, dan mereka akan mempersilahkan kita masuk dan bertamu di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Ditempat itulah kita dapat meletakan pesan, arahan dan masukan positif bagi kebaikan masa depan anak.

    Saya paham cara ini butuh waktu, semua solusi cerdas untuk meningkatkan kualitas keluarga butuh waktu. Ada namanya “waktu tunggu” untuk suatu hasil yang istimewa. Masakan yang enak dan sehat butuh waktu dan proses di dapur, tidak sekian detik jadi. Nah kualitas apa yang kita mau untuk keluarga kita?

    Semoga bermanfaat.